ENTAH fenomena apa yang terjadi akhir-akhir ini. Nyaris setiap anak di semua rumah menonton gadget. Semua permainan yang dahulu dilakukan di kampung nyaris hilang seakan tergerus oleh permainan yang ada di hape. Tak pandang bulu. Mulai anak usia sekolah PAUD sampai SMA nyaris tersedot waktunya dengan hape. Orang tuanya pun sama saja. Tak mau ketinggalan.
Selepas Lin membereskan rumah, Lin berjalan menuju rumah Putit melewati dua rumah yang di kedua teras rumah itu tampak anak-anak usia sekolah dasar sedang menonton hape. Entah apa yang mereka lihat. Bahkan di satu rumah yang bercat warna biru anak tersebut masih mengenakan seragam Sekolah Dasar. Ke mana orang tuanya sampai membiarkan anaknya lupa diri. Sedangkan di rumah warna hijau, dua orang sedang tengkurap sambil menonton hape juga.
Lin berhenti sejenak. Lalu melihat ke arah mereka, ternyata mereka tidak peduli dengan orang yang berjalan di depan mereka. Jari jemari mereka tampak lincah mengoperasikan layar. Mungkin mereka tengah bermain permainan online. Lin melirik rumah sebelah. Mereka tengah menatap tayangan video berdurasi pendek. Kemudian men-scrool-nya bergantian.
Lin menarik napas dalam, kemudian melanjutkan perjalanan. Ikan-ikan di kolam sedang mengambang. Melihat ada bayangan Lin yang melewati kolam, secepat itu ikan-ikan berenang ke dalam kolam. Kedua ujung bibir Lin ikut terangkat melihat tingkah ikan-ikan tadi. Lin teringat masa kecilnya dulu. Sepulang sekolah, jika di rumah orang tuanya tidak ada lauk, Lin akan membawa alat pancing atau alat tangkap ikan yang terbuat dari bambu. Lin akan berjalan pelan sekali di pematang kolam sambil membawa alat tersebut. Diam-diam Lin bersembunyi sambil tengkurap di pinggir kolam, jika ada ikan Mas ukuran jumbo yang mendekat ke pinggir kolam yang hendak mencari makan, tangan Lin dengan sigap secepat kilat akan menangkapnya dengan menggunakan alat penutup dari bambu tersebut. Ikan akan terperangkap di dalam alat penangkap itu. Lin bersorak kegirangan kemudian Lin akan berteriak sekencangnya memanggil ibunya. Ibu Lin akan datang ke pinggir kolam untuk membantu menangkap ikan yang sudah masuk perangkap. Lin senang, karena ia akan makan ikan Mas jumbo, ibunya tidak aneh dengan sikap Lin. Karen begitulah kesukaanya saat tidak ada lauk di rumah, Lin biasa menangkap ikan sendiri.
Kolam itu milik orang tua Putit. Hanya setahun sekali dibersihkan. Tepatnya saat lebaran tiba. Sekalian semua ikannya diambil untuk jamuan hari raya. Lin juga selalu mendapatkan jatah dan tetangga Putit. Jika hasil ikannya banyak, orang tua Putit akan menjual sebagian ke tetangga yang rumahnya agak jauh.
***
Baru sampai depan rumah Putit. Tepatnya saat Lin membuka pagar besi warna hitam droff yang menjulang. Lin melihat jambu Bangkok yang ada di halaman rumah. Jambu Bangkok tengah berbuah, Lin menaksir jumlah buahnya ada tujuh yang besar-besar. Lin berencana akan memintanya dua buah untuk dibawa pulang nanti.
Langkah Lin baru menginjak rumput jepang yang tumbuh subur di halaman rumah. Lin mendengar suara teriak-teriak yang teramat keras. Lin memastikan, suara tangisan itu adalah suara Putit. Karena hanya ada satu anak di rumah tersebut. Lin mempercepat langkah dan membuka pintu depan. Betapa terkejutnya Lin saat mendapati anak itu tengah berguling-guling di lantai. Ia hanya mengenakan kaos oblong dan celana selutut. Tubuh bongsornya sangat kentara terlihat dari lipatan lemak yang ada di tubuhnya. Lin segera meraihnya, tapi ia menolak. Lin terkaget, yang keluar dari mulutnya adalah hape hape hape. Lin mencari ke mana ibunya. Kedua pintu kamar tertutup rapat.
“Ke mana ibumu?”
“Hape hape hape.” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Tiba-tiba suara pintu kamar pojok terbuka. Kakak Lin, Ibu Putit keluar.
“Pulang sekolah minta hape. Aku kasih hape, malah gak mau berhenti udah hampir tiga jam.”
Lin paham, pasti Putit sudah mulai kecanduan. Suara tangisannya semakin keras. Kedua kakinya lincah menendang-nendang ke udara. Putit masih berbaring telentang. Air matanya bercucuran.
***
Hari ini hari kelima Lin berturut-turut menyambangi rumah Putit. Saat mentari mulai menapaki bumi, sepulang Putit sekolah TK, Lin mengajaknya berjalan-jalan ke belakang rumah. Kaki-kaki mungilnya menyusuri pematang sawah, lalu memasuki jalanan yang mulai beraspal. Sepanjang perjalanan, Lin mengajak bercakap-cakap agar Putit tidak bosan. Selain Lin suka dengan anak-anak, Lin juga pandai bercerita sehingga Putit dengan mudah diajak.
Sejak Lin mendapati Putit tantrum. Lin mengambil alih pengasuhan anak itu. Bagaimana Lin tidak sayang kepada anak yang selalu membuatnya tersenyum. Lin tidak menyangka Putit akan menangis meraung-raung, sambil tergeletak di lantai, ia mengerak-gerakan seluruh tubuhnya. Barang yang ada di dekatnya ia banting sekuat tenaganya. Tidak ada yang keluar dari bibirnya selain kata, ibu minta hape, hape, hape. Ia terus mengulangnya entah berapa puluh kali.
Lin baru tahu kejadian itu tersebab Lin tidak serumah dengan Putit. Hanya sesekali saja Lin berkunjng ke rumah Putit. Tersebab Lin masih bekerja freelance. Yang Lin tahu, Putit akan baik-baik saja ketika Putit ditinggalkan di rumah saat ibunya berangkat mengajar. Lin pikir, untuk apa ibu Putit mengajar, sedangkan Putit dititipkan kepada pengasuh.
Ibu Putit mengajar seminggu lima hari. Statusnya sebagai guru honorer di sebuah sekolah swasta yang gajinya menunggu datangnya bantuan dari pemerinatah. Berdasarkan cerita ibu Putit, kadang gaji telat sampai lima bulan. Jika begitu, ibu Putit akan mencari sampingan pendapatan seperti berjualan es atau apa saja yang dapat mendatangkan rupiah.
Sebagai saudara dekat Lin merasa terpanggil untuk menyembuhkan Putit. Beruntungnya anak itu akrab dengan Lin. Lin kasihan melihat anak berusia lima itu sudah kecanduan gadget. Awalnya Lin melihat perubahan pada kedua matanya yang sering mengedip. Beruntungnya Putit tidak keberatan saat diajak jalan-jalan. Lin terus membujuk. Pagi ini Putit mau diajak lari pagi.
Putit yang ukuran badannya lebih bongsor dari usianya. Jika ingat film china, Putit lebh mirip pemeran Boboho, lucu dan menggemaskan. Lin menuntunnya berjalan menyusuri jalan beraspal. Ia melihat bukit dan gunung-gunung yang ada di sekitar. Di belakang rumah mereka air sungai masih jernih. Sawah-sawah masih terrhampar luas dengan padinya yang tengah merunduk dan warnanya yang menguning. Sebentar lagi para petani akan menuainya. Di beberapa sawah sudah ada petani yang selesai panen. Putit menunjuk ke arah traktor yang tengah bekerja di tengah sawah. Tangan Putit menarik tangan Lin.
“Berhenti di sini lihat traktor.” Ucapnya dengan pelafalan huruf R yang tidak jelas.
Lin menghentikan langkahnya. Lin dan Putit duduk di pematang sawah melihat traktor yang tengah bekerja. Kedua ujung bibir Putit terangkat. Ia tertawa melihat gaya traktor yang bolak balik. Putit sangat menyukainya. Lin mencabut tanaman Bandotan berbunga putih yang ada di dekatnya. Putit mengambil dari tangan Lin, ia memutar-mutar Bandotan itu lalu memetik bunganya. Beberapa petani yang tengah membantu mencangkul melihat tingkah Putit yang asyik melihat traktor. Lin menjulurkan kedua kakinya, ia merasa kesemutan tersebab terlalu lama duduk. Mentari hampir berada di ubun-ubun. Putit enggan beranjak. Putit benar-benar lupa dengan hape-nya. Ia kegirangan saat petani yang mengendalikan traktor mendekatinya lalu mengajaknya menaiki traktor.
Putit berkeliling sawah satu putaran. Lin senang melihat Putit. Angin sore mulai bertiup dingin. Para petani sabagian meninggalkan sawah. Lin pun mengajak Putit Pulang. Ia tidak menjawab. Tetap duduk di pematang sawah melihat traktor yang masih bergerak-gerak.
“Ayo pulang?”
“Kita pulang, tapi aku ingin dibelikan traktor.” Ucapnya dari mulut yang mungil.
Lin menarik napas dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar. “Aku janji akan membelikanmu traktor mini,” jawab Lin.
Senja menyepuh kesuraman, malam akan segera menyapa. Suara azan magrib terdengar berkumandang di musola bersamaan dengan langkah Putit membuka pintu halaman rumah diikuti Lin yang mengekor di belakangnya. Ia tampak lelah, langkahnya lesu. Matanya menyurut. Lin segera menggendongnya. Dalam sekejap kedua matanya sudah merapat. Tampaknya Putit kelelahan setelah seharian bermain di pematang sawah.
“Tidur?”
Lin menganggukkan kepala menjawab pertanyan kakaknya.
“Putit pasti akan tidur lelap sampai pagi. Semoga ia lupa dengan hape.”
Lin menidurkan Putit di kamar depan. Dari balik saku kulot, Lin mengeluarkan hape miliknya. Kedua matanya tampak menyipit melihat beberapa bentuk traktor di salah satu marketplace.
“Apa yang kau cari?”
“Traktor mini?”
“Untuk apa?”
“Lebih baik dibelikan traktor mini dari pada Putit terus menerus menatap hape berjam-jam.” Ucap Lin.
Kakak Lin mengangkat kedua ujung bibirnya serupa bulan sabit kemudian memeluk Lin dengan erat. Makasih Lin, ucapnya pelan.
***
Garut, 24 Maret 2026
BIODATA
Lia Laeli Muniroh. Pegiat literasi dan penikmat sastra. Bergiat di komunitas menulis NIMU CLUB sejak 2021. Pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di MA Plus Al Mujammil, Garut-Jawa Barat. Tulisan cerpennya tersiar di beberapa media massa nasional cetak dan digital seperti: Kompas.id, Radar Bromo, Radar Kediri, Radar Banyuwangi, Mbludus.com, Cendananews.com, AyoBandung.com, Riau Sastra. Idestra, Bali Politka, Suara Merdeka, Manglé, KBA News, dll. Domisili di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Memenangkan berbagai lomba menulis sastra. Buku solo terbarunya: Dari Lelah Hingga Berdusta (Kumcer, 2023).














