ADA sesuatu yang sering luput dari pembicaraan tentang literasi di Indonesia: literasi sebagai perayaan. Mudah sekali menemukan perayaan literasi. Ada festival membaca, lomba menulis, seminar, peluncuran buku, pameran, kampanye membaca, dan berbagai kegiatan yang menggunakan kata literasi sebagai judul atau tema. Foto-fotonya beredar di media sosial. Anak-anak memegang buku. Orang-orang berdiri di depan spanduk. Ada panggung, sambutan, tepuk tangan, dan dokumentasi.
Semuanya tampak indah. Tetapi setelah acara selesai, apa yang tertinggal? Pertanyaan itu terus mengganggu saya sebagai dosen, penulis, sekaligus pegiat gerakan literasi akar rumput. Sebab literasi, dalam pengertian yang lebih dalam, tidak tumbuh dari keramaian. Ia tumbuh dari kebiasaan yang berulang (dalam sunyi), dari perjumpaan seseorang dengan buku, dari kesediaan membaca halaman demi halaman, dari percakapan kecil tentang sebuah cerita, dan dari proses panjang ketika seseorang perlahan-lahan menemukan bahwa membaca adalah bagian dari kesehariannya.
Literasi bukan peristiwa sehari jadi dan selesai. Ia adalah perjalanan hidup. Saya membangun Komunitas Desa Belajar Bali di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, bukan karena saya memiliki jawaban yang lengkap tentang persoalan literasi. Justru sebaliknya. Saya datang kepada masyarakat dengan kegelisahan yang sederhana: mengapa begitu banyak program literasi berlangsung, tetapi budaya membaca belum juga tumbuh kuat di masyarakat? Pengalaman di lapangan memperlihatkan kepada saya bahwa persoalannya mungkin bukan kekurangan kegiatan dan buku. Justru terlalu banyak membuat kegiatan.
Yang kurang adalah keberlanjutan dan kesungguhan yang membumi. Gerakan literasi di Indonesia sering kali masih sangat bergantung pada program pemerintah, seperti GLS (Gerakan Literasi Sekolah). Ketika sebuah program hadir, kegiatan berjalan. Ketika anggaran tersedia, kegiatan bergerak. Ketika ada momentum tertentu, literasi kembali dibicarakan. Tetapi ketika program berakhir, spanduk diturunkan, dokumentasi disimpan, dan kegiatan pun berhenti. Literasi akhirnya menjadi musiman. Ia datang seperti hujan pertama setelah kemarau: ditunggu, disambut, bahkan dirayakan, tetapi kemudian berlalu. Padahal masyarakat membutuhkan air literasi yang memercik terus-menerus.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pemerintah tidak penting dalam gerakan literasi. Pemerintah tetap memiliki peran besar, terutama dalam membangun kebijakan, menyediakan fasilitas, memperluas akses buku, dan menciptakan ekosistem pendidikan. Yang saya persoalkan adalah ketika literasi berhenti sebagai program dan tidak menjadi gerakan yang hidup di tengah masyarakat. Literasi tidak dapat dibangun hanya dari atas. Ia harus tumbuh dari bawah. Di desa, misalnya, literasi tidak selalu membutuhkan gedung yang besar, program yang mahal, atau acara yang spektakuler. Ia bisa dimulai dari sebuah ruang kecil, beberapa buku, seorang pendamping yang sabar, dan anak-anak yang datang secara rutin bersentuhan dengan buku.
Namun di sinilah persoalannya: kita membutuhkan kesabaran
Membentuk seorang pembaca bukan pekerjaan satu semester. Bukan pula pekerjaan satu tahun. Berdasarkan pengalaman saya bersama anak-anak di Komunitas Desa Belajar Bali, proses itu dapat berlangsung bertahun-tahun. Empat, lima, bahkan enam tahun bukan waktu yang terlalu panjang untuk membentuk kebiasaan membaca seseorang. Pada awalnya anak mungkin hanya datang karena diajak. Ia belum mengenal buku. Ia belum tahu buku apa yang disukainya. Ia mungkin membuka buku, lalu menutupnya kembali. Ia mungkin lebih tertarik bermain. Itu semua wajar.
Tugas gerakan literasi bukan memaksa anak segera menjadi pembaca. Tugasnya adalah menjaga agar perjumpaan anak dengan buku tidak terputus. Hari ini satu halaman. Besok beberapa halaman. Minggu depan sebuah cerita. Bulan berikutnya sebuah buku. Kemudian ia mulai mengenali jenis bacaan yang disukainya. Ia mulai mempunyai tokoh yang disenangi. Ia mulai bertanya. Ia mulai bercerita kembali. Perlahan-lahan buku tidak lagi menjadi benda asing.
Pada suatu titik, anak tidak lagi datang karena disuruh membaca. Ia datang karena ingin membaca. Pada saat itulah sesuatu yang penting telah terjadi. Ia telah menjadi pembaca. Saya kira inilah inti gerakan literasi yang dilupakan. Literasi sejatinya dimulai dari pembentukan diri pembaca. Bukan dari banyaknya kegiatan. Bukan dari banyaknya spanduk. Bukan pula dari banyaknya unggahan media sosial. Ukuran keberhasilan literasi mestinya bukan berapa banyak acara yang telah diselenggarakan, melainkan berapa banyak manusia yang akhirnya mempunyai hubungan yang hidup dengan bacaan. Sebab kehidupan literat adalah kehidupan ketika seseorang memiliki kebebasan untuk berjumpa dengan bacaannya sendiri. Ia membaca bukan karena perintah. Ia membaca karena kebutuhan. Ia membaca karena rasa ingin tahu. Ia membaca karena menemukan sesuatu tentang dunia, dan mungkin juga menemukan dirinya sendiri di dalam buku.
Karena itu, gerakan literasi sesungguhnya adalah pekerjaan yang sunyi. Tidak selalu menarik untuk difoto. Tidak selalu menghasilkan berita. Tidak selalu mudah dilaporkan sebagai keberhasilan sebuah program. Seorang pendamping mungkin bertahun-tahun duduk bersama anak-anak di sebuah ruang sederhana. Ia membaca bersama mereka. Mendengarkan cerita mereka. Mencarikan buku. Menunggu mereka datang. Mengulang kegiatan yang sama. Hari demi hari.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada panggung. Tetapi mungkin, tanpa disadari, di ruang kecil itulah sebuah kehidupan sedang dibentuk. Seorang pembaca sedang dilahirkan.
Kelak, ketika anak itu tumbuh dewasa dan menemukan buku yang benar-benar dicintainya, mungkin tidak ada lagi yang mengingat siapa yang pertama kali memperkenalkannya kepada buku. Tidak penting. Literasi memang sering bekerja seperti itu. Ia menanam, tetapi tidak selalu melihat pohonnya tumbuh. Ia memberi cahaya, tetapi tidak selalu menyaksikan seseorang menemukan jalannya. Mungkin karena itu gerakan literasi membutuhkan lebih banyak kesunyian dan lebih sedikit seremoni.
Perlu mengembalikan literasi kepada manusia. Kepada anak yang sedang belajar membaca dunia. Kepada ibu yang ingin membaca sebuah buku setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Kepada petani yang membaca informasi tentang tanah dan tanamannya. Kepada remaja desa yang menemukan bahwa buku dapat membuka dunia yang selama ini tidak pernah ia bayangkan. Kepada siapa saja yang perlahan-lahan menemukan bahwa membaca bukan kewajiban sekolah, melainkan kebutuhan hidup. Donaldo Macedo dalam Literacy: Reading the Word and the World (1987). Buku itu secara eksplisit memandang literasi bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan praktik kultural yang berkaitan dengan kehidupan dan perubahan sosial.
Desa adalah tempat yang penting untuk memulai kembali gerakan literasi semacam ini. Desa memiliki waktu sosial yang berbeda. Ia mempunyai ruang perjumpaan yang dekat, hubungan antarwarga yang masih memungkinkan tumbuhnya solidaritas, dan pengalaman hidup yang dapat menjadi sumber pengetahuan. Karena itu, literasi desa tidak seharusnya sekadar membawa program dari kota ke desa. Desa harus menjadi subjek gerakan literasinya sendiri.
Di Batungsel, saya belajar bahwa perubahan literasi tidak selalu datang dalam bentuk yang segera terlihat. Kadang-kadang ia hanya berupa seorang anak yang mulai senang membaca. Seorang anak yang pulang membawa buku. Seorang anak yang mulai bercerita tentang apa yang dibacanya. Kecil sekali. Tetapi perubahan besar memang sering dimulai dari sesuatu yang kecil dan terus dilakukan. Maka barangkali kita perlu berhenti sejenak dari kegaduhan perayaan literasi. Kita perlu bertanya lebih dalam: setelah sebuah acara literasi selesai, siapa yang tetap membaca?
Pertanyaan itu mungkin lebih penting daripada pertanyaan tentang berapa banyak kegiatan yang telah dilakukan. Sebab pada akhirnya, literasi bukan tentang seberapa meriah kita berbicara mengenai membaca. Literasi adalah tentang apakah seseorang benar-benar membaca ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya. Di sanalah literasi menemukan maknanya. Ia tidak membutuhkan panggung. Ia tidak membutuhkan tepuk tangan. Ia hanya membutuhkan waktu, buku, manusia, dan kesetiaan untuk terus berjalan. Literasi adalah perjalanan sunyi, melahirkan manusia-manusia yang mampu membaca dunia dengan lebih jernih; membaca dirinya dengan lebih dalam dan pada akhirnya ikut menulis masa depan masyarakatnya. (bp/ken)













