AKU tidak pernah menceritakan kepada siapa pun bagaimana perahu itu bermula. Orang-orang hanya mengenal akhirnya. Mereka datang dari tempat-tempat jauh, mendaki jalan yang berkelok, berhenti di hadapan gunung yang bentuknya menyerupai perahu terbalik, lalu membawa pulang sebuah cerita tentang seorang anak yang marah kepada ibunya. Mereka menyebut namaku dengan suara yang berbeda-beda. Ada yang menganggapku perempuan yang malang. Ada yang menganggapku ibu yang cerdik. Ada yang menganggapku perempuan yang terlalu cantik sehingga usia kehilangan kuasanya atas tubuhku.
Mereka selalu memiliki tafsir. Aku membiarkannya. Sebab orang-orang membutuhkan cerita yang selesai. Sedangkan hidup tidak pernah demikian. Perahu itu tidak pernah dibuat. Aku tahu karena aku berada di sana ketika semuanya terjadi.
Jauh sebelum gunung itu memiliki nama, tempat ini hanyalah hutan. Pagi turun melalui daun-daun besar. Kabut menggantung rendah di antara pepohonan. Sungai mengalir tanpa tergesa, membawa potongan ranting, daun yang membusuk, dan sesekali bangkai binatang kecil. Pada masa itu belum ada orang yang datang untuk mengambil gambar. Belum ada jalan yang membelah bukit. Belum ada papan penunjuk yang menjelaskan bahwa di tempat ini pernah terjadi sebuah kisah. Hanya hutan. Dan aku.
Aku masih muda ketika pertama kali menyadari bahwa kesunyian mempunyai suara. Malam-malam di hutan membuatku mengenal bunyi yang tidak pernah diajarkan siapa pun: akar yang patah di bawah kaki rusa, burung malam yang berpindah dahan, angin yang menggesek bambu, dan napas seseorang yang sedang menyembunyikan kesedihan.
Aku juga mengenal Tumang. Orang-orang kemudian menyebutnya anjing. Aku tidak pernah membantah. Lebih mudah bagi manusia menerima seekor anjing daripada menerima rahasia yang terlalu tua untuk diberi nama. Tumang selalu berjalan beberapa langkah di belakangku. Ia tidak banyak bergerak ketika aku duduk. Ia hanya memandang. Tatapannya membuatku merasa bahwa ada seseorang yang mengetahui bagian hidupku yang ingin kulupakan. Aku pernah berharap ia tidak tahu. Tetapi beberapa rahasia memang tidak membutuhkan bahasa untuk tetap tinggal.
Ketika Sangkuriang lahir, aku memandang wajahnya cukup lama. Bayi itu tidur dengan tangan mengepal. Aku menyentuh dahinya. Ada sesuatu yang menggetarkan tubuhku ketika melihatnya. Bukan hanya kasih seorang ibu. Ada ketakutan yang tidak dapat kujelaskan. Aku tahu bahwa anak itu kelak akan bertanya. Tentang ayahnya. Tentang dirinya. Tentang mengapa rumah kami hanya memiliki dua manusia dan seekor makhluk yang tidak pernah benar-benar kupanggil dengan nama yang seharusnya.
Aku tidak siap menjawab. Maka aku memilih diam. Barangkali sebagian besar kebohongan manusia bermula dari ketakutan mengatakan kebenaran kepada seseorang yang belum cukup kuat menerimanya. Sangkuriang tumbuh bersama Tumang. Mereka sering pergi ke hutan.
Aku melihat mereka dari jauh Anakku belajar membaca jejak dari makhluk yang tidak pernah kuizinkan menjadi ayah di hadapannya. Ada ironi yang selalu membuatku takut. Sangkuriang mencintai Tumang tanpa mengetahui siapa dirinya. Dan Tumang mencintai Sangkuriang tanpa pernah menuntut pengakuan. Mungkin itulah bentuk cinta yang paling menyakitkan. Cinta yang tidak boleh disebut.
Hari ketika semuanya berubah dimulai seperti hari-hari lainnya. Kabut turun. Burung-burung berpindah ke arah selatan. Aku sedang menenun ketika mendengar langkah Sangkuriang dari kejauhan. Ia pulang dengan tangan kosong. Tumang tidak bersamanya. Aku tidak bertanya. Aku sudah mengetahui sesuatu telah terjadi bahkan sebelum melihat wajahnya. Ada kemarahan yang aneh pada mata anakku. Kemarahan yang belum memiliki bentuk.
Aku keluar. Hutan tampak lebih gelap daripada biasanya. Kemudian aku melihat darah. Tidak banyak. Hanya beberapa tetes pada daun. Tetapi seorang ibu tidak membutuhkan banyak darah untuk mengetahui bahwa sesuatu telah hilang dari hidupnya.
Tumang tidak kembali malam itu. Tidak juga malam berikutnya. Sangkuriang tidak pernah mengatakan apa yang terjadi. Aku pun tidak pernah memaksanya. Kelak orang-orang akan mengatakan bahwa ia membunuh Tumang karena gagal mendapatkan buruan. Mereka akan mengatakan aku marah. Mereka akan mengatakan aku memukul kepalanya dengan sendok nasi. Mereka akan mengatakan aku mengusirnya. Semua itu mungkin benar. Tetapi kebenaran selalu lebih rumit daripada cerita.
Aku tidak mengusir anakku karena ia membunuh Tumang. Aku mengusirnya karena aku takut ia akan menemukan siapa Tumang sebenarnya. Aku takut pada sebuah pengetahuan yang, sekali diketahui, tidak akan bisa dikembalikan menjadi ketidaktahuan. Malam itu Sangkuriang pergi. Aku membiarkannya. Setelah langkahnya menghilang, aku duduk sendirian di depan rumah. Untuk pertama kalinya aku menangis bukan karena kehilangan anak. Aku menangis karena tahu bahwa suatu hari ia akan kembali.
Tahun-tahun berlalu. Hutan berubah. Anakku berubah. Aku tidak. Itulah bagian cerita yang paling sering membuat orang kagum. Mereka menyebutku cantik. Mereka mengatakan aku mendapat anugerah yang membuat tubuhku tidak disentuh usia. Mereka tidak tahu bahwa usia tetap bekerja. Ia hanya bekerja di tempat yang tidak terlihat. Ia tinggal di tulang. Di ingatan. Di malam-malam yang semakin panjang. Di wajah seseorang ketika ia menyadari bahwa semua keputusan yang pernah dibuatnya ternyata tidak bisa dibatalkan.
Aku tetap muda di wajah. Tetapi setiap malam aku merasa lebih tua daripada gunung. Kemudian Sangkuriang kembali. Aku mengenalinya sebelum ia mengenaliku. Seorang laki-laki berdiri di hadapanku dengan tubuh yang telah ditempa hutan. Aku melihat mata masa kecilnya. Mata yang dahulu mengikuti Tumang. Mata yang pernah memandangku ketika aku menyisir rambutnya. Mata yang kini tidak lagi mengenalku sebagai ibu.
Ia melihat seorang perempuan. Aku melihat seorang anak. Di antara dua pandangan itu, masa lalu berdiri seperti dinding. Aku tahu saat itu bahwa legenda telah menemukan tubuhnya.
Orang-orang mengatakan aku kemudian membuat syarat yang mustahil. Mereka mengatakan aku menyuruh Sangkuriang membuat perahu dan bendungan dalam semalam. Aku tidak pernah merasa sedang memberi pekerjaan. Aku sedang membeli waktu. Itulah yang sebenarnya terjadi. Aku membutuhkan satu malam untuk berpikir. Satu malam untuk mencari jalan agar darah tidak menabrak darah. Satu malam untuk mengembalikan sesuatu kepada tempatnya.
Aku tahu ia akan berhasil. Aku tahu kemampuan anakku. Ia dibesarkan oleh hutan. Ia mengenal kayu. Ia mengenal air. Ia mengenal malam. Ia tidak seperti manusia lain. Tetapi aku juga tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun. Perahu tidak akan menyelamatkan kami. Perahu hanya akan membawa kami lebih jauh ke dalam kesalahan. Maka aku mencari cara lain. Aku menunggu malam.
Aku masih ingat suara kapak pertama. Tebangannya terdengar dari kejauhan. Satu. Dua. Tiga. Kemudian menjadi ratusan. Hutan seperti sedang kehilangan ingatannya sendiri.
Pohon-pohon tumbang. Akar-akar terangkat. Tanah menjadi terbuka. Sangkuriang bekerja tanpa berhenti. Aku mengawasinya dari tempat yang terlindung. Sesekali cahaya api menerangi tubuhnya. Ia tampak seperti seseorang yang sedang berusaha mengalahkan waktu. Aku tiba-tiba merasa kasihan. Bukan karena ia gagal. Justru karena ia mungkin berhasil.
Di tengah malam, ketika hampir seluruh hutan dipenuhi suara pekerjaan, aku berjalan menuju tempat perahu itu dibuat. Aku melihat kayu-kayu besar disusun. Aku melihat bentuk yang mulai menyerupai lambung. Tetapi dalam pandanganku, itu bukan perahu. Itu adalah sebuah makam yang belum digali. Sebuah tempat untuk mengubur nama kami.
Aku menyentuh salah satu kayu. Basah. Dingin. Masih berbau getah. Aku membayangkan Sangkuriang berdiri di atasnya, membawa tubuhku pergi ke suatu tempat yang tidak mengenal masa lalu. Aku membayangkan kami menjadi cerita yang lebih buruk daripada apa yang sedang berusaha kuhindari. Aku mundur. Dan pada saat itu aku tahu apa yang harus kulakukan.
Aku mengambil kain putih. Bukan untuk membuat pagi. Pagi tidak bisa dibuat. Aku hanya ingin membuat manusia percaya bahwa pagi telah datang. Ada perbedaan antara keduanya. Cahaya dapat menipu mata. Tetapi tidak pernah mampu menipu waktu. Aku membentangkan kain di arah timur. Orang-orang yang bekerja bersama Sangkuriang melihat cahaya. Ayam-ayam mulai berkokok. Burung-burung bergerak. Hutan berubah. Malam kehilangan bentuknya. Sangkuriang berhenti. Aku melihatnya dari kejauhan. Ia menatap langit.
Kemudian memandang perahu. Lalu memandangku. Untuk beberapa detik, mata kami bertemu. Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku ingin memanggilnya anakku. Tetapi kata itu mati di tenggorokan. Sebab ada kebenaran yang terlalu terlambat untuk diucapkan.
Ia menendang perahu. Begitulah orang-orang menceritakannya. Mereka mengatakan ia marah karena merasa gagal. Mereka mengatakan perahu itu terbang. Mereka mengatakan bumi berguncang. Mereka mengatakan kayu-kayu besar terbalik. Aku hanya melihat seorang anak menendang sesuatu yang sejak awal tidak pernah menjadi perahu. Kayu itu runtuh. Tanah bergerak. Pohon-pohon bergeser. Suara bumi terdengar seperti sesuatu yang sedang mengerang setelah terlalu lama menahan sakit. Kemudian semuanya diam.
Di hadapanku berdiri bentuk tanah yang menyerupai perahu. Aku menatapnya lama. Sangkuriang sudah pergi. Aku tidak mengejarnya. Aku tidak pernah mengejarnya. Sebab sejak malam itu aku tahu bahwa manusia tidak selalu pergi dengan kakinya. Kadang-kadang ia pergi dengan ingatannya.
Orang-orang datang beberapa hari kemudian. Mereka melihat tanah yang berubah. Mereka melihat bentuk seperti perahu. Mereka bertanya apa yang terjadi. Aku tidak menjawab.
Tetapi manusia tidak tahan terhadap ruang kosong. Jika tidak ada jawaban, mereka akan membuatnya. Maka cerita lahir. Sangkuriang menjadi anak durhaka. Aku menjadi ibu yang teraniaya. Tumang menjadi anjing. Perahu menjadi gunung. Malam menjadi perlombaan. Kain putih menjadi fajar.
Dan kebohongan menjadi kebenaran karena diceritakan cukup lama. Aku membiarkannya. Sebab ada kalanya kebohongan lebih mudah diwariskan daripada kebenaran. Kebenaran membutuhkan keberanian. Legenda hanya membutuhkan pendengar.
Kini aku sering mendengar cerita itu dari orang-orang yang datang ke gunung. Mereka mengulangnya kepada anak-anak. Mereka tertawa pada bagian tertentu. Mereka mengernyit pada bagian lain. Mereka menunjuk ke bentuk gunung. Mereka mengatakan, “Lihat, itu perahunya.” Aku ingin mengatakan bahwa mereka keliru. Tidak ada perahu. Tidak pernah ada perahu. Yang ada hanyalah beberapa batang kayu yang tidak selesai disusun. Yang ada hanyalah seorang ibu yang ketakutan. Yang ada hanyalah seorang anak yang tidak pernah mengetahui seluruh kebenaran tentang kelahirannya. Yang ada hanyalah seekor anjing yang terlalu lama menyimpan nama. Tetapi aku tetap diam. Sebab mungkin itulah harga yang harus dibayar sebuah kehidupan ketika ia berubah menjadi legenda. Ia kehilangan detail. Ia kehilangan keraguan. Ia kehilangan manusia. Yang tersisa hanya bentuk.
Bertahun-tahun kemudian, ketika tubuhku mulai benar-benar tua, aku mendaki tempat itu seorang diri. Kabut turun. Angin membawa bau tanah. Gunung berdiri seperti sesuatu yang sedang menunggu. Aku duduk di sebuah batu. Untuk pertama kalinya aku merasa tidak perlu menjaga rahasia. Tidak ada Sangkuriang. Tidak ada Tumang. Tidak ada orang-orang yang membutuhkan cerita. Hanya aku dan gunung. Aku memandang bentuk perahu yang selama ini dianggap sebagai bukti. Lalu aku tertawa kecil.
Betapa anehnya manusia. Mereka membutuhkan benda untuk mempercayai cerita. Mereka membutuhkan gunung untuk mempercayai perahu. Mereka membutuhkan perahu untuk mempercayai kemarahan seorang anak. Padahal perahu itu tidak pernah dibuat. Yang dibuat hanyalah cerita. Dan cerita, seperti manusia, selalu mempunyai cara untuk menyembunyikan dosa-dosanya sendiri.
Kabut semakin tebal. Gunung perlahan menghilang. Aku memejamkan mata. Di dalam gelap, aku kembali melihat Sangkuriang kecil berlari bersama Tumang. Untuk sesaat aku ingin memanggil mereka. Ingin mengulang waktu. Ingin mengatakan kepada anakku siapa ayahnya. Ingin mengatakan bahwa tidak semua rahasia harus diwariskan. Tetapi waktu tidak pernah mau kembali menjadi anak-anak. Ia hanya meninggalkan jejak.
Aku membuka mata. Di hadapanku tidak ada perahu. Tidak ada Sangkuriang. Tidak ada Tumang. Hanya gunung yang diam. Dan untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu yang selama ini gagal kupahami: “Barangkali yang paling sulit bukan menyembunyikan kebenaran, yang paling sulit adalah hidup cukup lama untuk melihat kebohonganmu berubah menjadi sejarah.”
Aku turun ketika hari mulai gelap. Di belakangku, gunung tetap berdiri. Seperti perahu. Padahal bukan. Seperti sebuah kenangan. Padahal mungkin juga bukan. Dan sejak malam itu, setiap kali seseorang menyebut namaku dalam cerita tentang Sangkuriang, aku hanya tersenyum dari kejauhan. Sebab mereka tidak pernah tahu bahwa perahu yang mereka wariskan kepada anak-anak mereka tidak pernah dibuat. Yang dibuat adalah legenda. Dan, akulah yang pertama kali membiarkannya berlayar.
BIODATA
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.













