“Kantung–kantung”
sehabis mengikuti perbincangan tentang kesenian
pulang membawa lelah
malam mulai basah
perbincangan nyaris tak kenal sudah
di rumah, mengapa
tidur susah
(tetapi mengapa
kita gemar kantung-kantung
di dalamnya diletakkan sesuatu
sesuai urutan, urutan satu, urutan dua, dan seterusnya
dan urutan bersama-sama)
kita seringkali hangat di dalamnya
gigil di luar oleh udara
kita seringkali meraba
meyakinkan bahwa isinya masih ada
Lelaki Tua dari Sumbawa
lelaki tua dari Sumbawa itu
bernama Dinullah Rayes
pernah dijual kuda kesayangannya demi keinginan
berkumpul teman, seprofesi (barangkali)
sehobi (barangkali)
dalam perhelatan kesenian
di Solo
lelaki tua dari Sumbawa itu pernah
ke luar kelakar di semak belukar
“sesama landak
berkumpul tak ada yang saling terluka”
banyak yang terhenyak
lalu terbahak
gurauan itu kini tinggal kenangan
lelaki tua dari Sumbawa
tetapi, pak …..
benarkah kami landak?
seberapa hebat bulu duri yang tegak
untuk melindungi diri dari gertak?
nyatanya tidak
seperti Wiji?
Weee……!
Lelaki Tua dari Tegal
lelaki tua dari Tegal, sesekali batuknya
menegaskan ketuaannya
yang memang gemar berbincang dengan dingin malam
kadang berbisik malu
yang sebenarnya tak perlu dibisikkan
dan ia sebenarnya tak perlu membisikkan
tentang kecintaan terhadap negeri ini
atau ia kadang membelalak dengan kata yang sama
ketika (barangkali) ada yang menggoda meragukan
ia bukan kanan bukan kiri
(sulit kanan, sulit di kiri)
ia bukan dalam bukan luar
(sulit dalam, sulit di luar)
di mana ia meletakkan dirinya?
lalu ia membangun rumah jiwanya
dengan puisi, dengan terpaksa, dengan memaksa?
ia gendong namanya seperti menggendong pohon jati
lalu, ia menjadi, berarti, punya diri (atau barangkali)
meski sekarang ia tinggal kenangan
Di Gang Marpangat Tegal
di Tegal, di Gang Marpangat
tempat memudahkan alamat surat-surat
yang hampir pasti dibalasi
datang dan pergi
dengan kertas warna-warni, berganti-ganti
di sana pula tempat teman-teman datang pun pergi
menginap, makan-minum, berbincang
silih berganti
lelaki tua itu lebih memilih cara tak pernah mencela
dan ternyata, lebih banyak yang suka
lelaki tua itu sudah lama pergi
barangkali petugas pos orang yang menyimpan
daya ingat paling kuat
tentang Gang Marpangat
dan barangkali kita mulai gemar lupa
tentang nama-nama
yang pernah ada
Perbincangan Dua Teman Di TBS
terkuak
perbincangan itu
tepatnya bisikan
dua orang (waktu itu)
cukup. kata yang satu
belum. kata yang satunya lagi
cukup. ulang yang satu
tidak!. kata yang satunya lagi
— spontan ada mata membelalak
malam sehabis perhelatan kesenian
angin hanya menjelma udara
kian basah
teman-teman beringsut — satu-satu
setelah perbincangan
atau bisikan itu
waktu itu
di situ
tak ada bisikan-bisikan apalagi perbincangan
berikutnya
sudah tak ada lagi teman itu
Penyair yang Sedang Tidur
(Dengkur, Igau, Tidur Lagi)
1/
ketika penyair (nyenyak) tidur
gemar mendengkur
dari hembusan nafasnya
huruf-huruf berloncatan
ketika terbangun
huruf-huruf memenuhi kamar
ia kegirangan
ia kumpulkan huruf-huruf itu
dirangkainya menjadi merjan yang panjang
tetapi ia tergeragap, kebingungan?
karena tak satu pun huruf hidup ditemukan
2/
pada kesempatan tidur berikutnya
kecuali penyair itu mendengkur juga mengigau
banyak yang menyaksikan, banyak yang mendengar,
nyaris jadi tontonan, banyak yang tertawa cekikikan
(tentu saja di luar sepengetahuan penyair yang sedang
tidur itu)
karena yang diigaukan
tak jelas
amat tak jelas
Sesekali Puisi
sesekali, kau-aku, merasa, puisi, anak nakal
diam di pangkuan, kau-aku meragu
puisi jadi jembatan, juga taman, juga pengusik mimpi,
tidur, nafsu makan
kau-aku menemu puisi rujak
mulas di perut
atau sambal terasi yang mudah basi
kata jadi bayang
puisi tak tertangkap
masuk ke ruang-ruang
Kata-kata yang Rapuh
-In Memoriam Ahmad Syubbanuddin Alwy-
satu per satu barisan melewati garis finish
satu per satu barisan belakang berkurang
panjang
atau ini karena barisan terakhir
penonton yang semula berjejalan di pinggir jalan
menghambur di belakang
berita ini
apakah angin menyinggahi
satu per satu
dan kota-kota apakah semua berdaun telinga
dengan tertutupnya daun pintu
kata-kata sering rapuh
pada abjadnya
Selesai Sudah Waktu Itu
tak ingin tubuhmu menggerilya
meski ruh mengembara
kau singgahkan mimpi-mimpi
ke ingatan orang-orang tidur
tetapi masih saja dalam dengkur
tetapi bukan itu sejatinya maumu
telah kau rampungkan tugasmu
soal mengarang atau mengabu
telah kau pasrahkan
pada penghabisan waktu
Seperti Sajak
tubuh hanya menampilkan bayang
dan tembok yang lumutan tak menampakkan catatan
kau hanya mengembara
lepas dari raga
di gang sempit kau suka berjalan
ketika berpapasan
kau menyapa
orang itu mengenalmu atau bukan
kau tak mengharuskan berkencan
(seperti sajak, hanya catatan yang kau pinjamkan
seperti sajak, hanya huruf-huruf yang kau pinjamkan
pada tulisan)
BIODATA
Sunardi KS, pernah menulis apa saja, cerpen, sajak, artikel budaya, keluarga, dongeng dll. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai koran, majalah, online maupun cetak. Buku kumpulan sajaknya berbahasa Jawa, dengan judul Wegah Dadi Semar. Kini Sunardi KS tinggal di Jepara.













