mata, seluas telaga
matamu adalah telaga
di dalam ada kenangan, meliuk-liuk mencari jalan keluar
jika tidak berhasil, mereka berkarang, tumbuh jadi geranggang
jadi lumut-lumut berlendir, makanan para ikan
sedalam dunia paling ujung, hatimu yang kerap dikunjung
banyak wisatawan, namun tidak bisa berlama-lama sebab mereka takut mati tenggelam
—mungkin mereka belum mampu jatuh cinta—
ketika ada salah satunya terjebak sebab lupa bagaimana cara mendayung sampan
kau mengubah mereka jadi kenangan
yang meliuk-liuk mencari jalan keluar
tapi aku satu-satunya lelaki yang menyelam ke dasarmu,
bertahun-tahun sanggup menahan dingin
dan betapa beratnya melupakan sisa-sisa nafasku,
agar aku tidak peduli apakah nanti nasibku adalah omong kosong,
walau di dasarmu aku adalah ketiadaan
telaga di matamu
telaga di matamu seluas ruang tamu, dan tamunya adalah berbagai bintang
ketika kau persilahkan aku masuk
sebagai satu-satunya tamu paling beruntung
telaga itu sedalam waktu
sebab aku tidak bisa menemukan dasar
seperti masa depan, semakin dalam aku menyelam
semakin lama aku pergi ke masa silam
menjaga kekasih
kau belum sanggup membuka mata
sebab, ada lelaki paling tercinta sedang hikmat melayarkan sampan,
hatinya yang sehangat tuhan
jika kau buka, apapun yang kau lihat akan menciptakan tepi telaga
kemudian ia punya kesempatan untuk berlabuh,
lalu pergi meninggalkan sauh di tepi dermaga, meninggalkannya untuk
terendam berlama-lama sampai rapuh menjadi kesedihan dan kesepian
—atau puing-puing kayunya jadi dirimu, tertinggal dan terlupakan
gerimis di atas telaga
gerimis,
telaga jadi sedingin masa silam
tidak ada suara
tidak ada kata-kata yang jatuh menimpa apa saja
laki-laki itu sudah menepi, membiarkan sauh mengosongkan cerita
telaga yang berubah jadi laut
sebab cinta, kau menangis sendirian
telaga pun jadi laut
dan laut, kenangan yang meniadakan tepi
di permukaan air, sampanku sunyi-abadi
melihat diriku pulih kembali jadi mimpi
dalam malam sepekat kekalahan
kita tiba-tiba kehilangan peran
Aikmel, 2022
kesiangan
aku jatuh dalam mimpi, matamu
—di dalam, dunia terterpa cahaya—
sebelum seorang perempuan yang sudah lama kulamar
membangunkanku, memaksaku mengenakan tubuh suaminya
lalu menaruhku di depan kalender
yang dilingkarkan hari kerja
Aikmel, 2022
lalu apa?
beberapa lelaki masuk ke dalam matamu, dan mulai membaca peta
tapi aku satu-satunya yang menjadi air mata
lalu meluas sampai ujung belakang masa silam, dan ujungnya adalah masa depan:
itu adalah telaga yang rawan petunjuk arah, seperti suara-suara
Aikmel, 2022
serat tembang asmaradana
tubuh kekasih,
bumi yang masih telanjang:
bukit-bukit yang tinggi, lembah berimbun firman,
nafas panjang dan mewangi kabut malam
aku diciptakan kembali di sini
menjadi embun-embun di kulitmu, di matamu
di dedaunan tubuhmu
berayun-ayun suara tembang asmaradana
aku ingin selamanya tertidur panjang di tubuhmu ini,
membiarkan diriku dilupakan waktu: menjadi puisi
biarkan aku tinggal untuk selamanya,
selama-lamanya
walau ada bunyi terakhir yang harus menutup tembang
Aikmel, 2022
mendengar denting-denting gamelan
jauh ke belakang ingatan, dari matamu, kata melihat sayu pucuk rinjani
menyusun diri jadi kalimat yang menyusun tubuhmu
jadi selembar daun lontar
:syair-syair sasak tertabuh-runtuh
suara-suara selaparang saat menumpulkan kelewang
agar nanti tidak ada yang kelewat sakti
saat bali memilih datang membawa sejarah dan belati
Lendang Nangka, 2021
di seberang
di seberang, kau duduk menanti malam
sebab bintang-bintang telah memanggilmu datang
mereka mengulurkan cahaya ke lenganmu
dingin datang sebagai ingatan
dalam ingatan, langit melantarkan banyak bintang
lalu mereka mengubahku seabgai bumi pada malam yang paling hening
dan panjang
Aikmel, 2022
BIODATA
Zajima Zan, tinggal di Aikmel, dan lahir di sana pada tahun1997. Menyelesaikan serjana pendidikannya di Universitas Hamzanwadi. Pernah menjadi ketua bidang Kepenulisan di Sanggar Narariawani. Puisi-puisinya juga termuat di berbagai media cetak dan online. Ia juga, selain aktif menulis, pernah memerankan tokoh Pozo dari naskah Menunggu Godot karya Samuel Beckett dalam dua pementasan di Lombok. Aktif dan mendewasakan karya-karya sastranya di Rabu Langit. Telah menerbitkan Buku sehimpun puisi berjudul Panorama (Akarpohon, 2025).













