Gadis Keroncong
Dia datang dengan anggun,
merajut kembali mimpi
raga yang hampir mati.
Lihat sayap kenari! menari-nari,
seelok ekor murai, mendayung sunyi.
Semesta terpaku, alunannya begitu merdu
ia menjelma
syahdu.
Aku tersipu malu
lengkung bibirnya, karamkanku
kilap matanya, menyambarku
sedetik tak sanggup
semenit aku hanyut.
Niscaya ada langit merah yang menolak pudar
ia berdiri sebagai cahaya ufuk timur,
menyinarkan bahagia memecah debur,
ombaknya hapus air mataku
yang terlanjur
jatuh.
2026
Aku Tunas Abadi
Aku anak gemilang
Diasuh penggila harta
mandikan aku menjelang petang,
Demi bulir-bulir mani
kuejakulasi tiap musim,
Aku digandakan tunas demi tunas
Tak seperti pohon-pohon kaku di timur Kapuas
Aku bernilai,
dicintai
Aku terpuji,
Dibakar pun, tak sudi
Dihina, aku ludahi!
Budak lugu mendayung perahu
dengan hadiah dariku, untuk bekal berminggu-minggu
membawa senjata api, yang nanti
mereka jadikan bukti menyembah diriku yang suci.
Semak-semak bertaruh agar aku cepat mati
Fauna-fauna merapat ingin membuatku melarat
Ranting-ranting berunding berusaha membujuk api
kunikmati, sambil menunggu siapa yang peduli
Rasakanlah merah surya terbenam di pagi hari,
Mengais-ngais sisa bayi
pasca kau lahirkan, lalu disantap api
Nikmati nerakamu
yang abadi!
Hari ini, para iri dengki,
dan pecinta asri,
lebih kerdil dari sebutir debu
ditemani arang, dan calon minyak bumi,
yang berkoar-koar kalah dengan berkobar-kobar
2026
Menambang Rupamu
Kompetisi telah dimulai,
prabotan tlah kubariskan
hadiahnya dunia. Itu kata tuanku.
Melangkah aku ke rongga pertiwi,
temukan zamrud tersepuh sepi.
Kilatnya dingin,
menolak semi,
selalu ada retak
di tiap tepi.
Hantaman linggis pada bongkah giok,
ia berkilau, menantang cadas.
pijarnya membuatku cemas,
silaukan mata,
angkuh agak keras.
Kuasah giok sewarna khatulistiwa,
rona nirmala hijau bertautan.
Sayang ia serapuh ingatan,
jatuh berkeping di jembatan.
“Ambillah semua,” perintah tuanku.
Namun bukan dari temuan itu,
tapi pada paras yang menatap selalu.
Pelik dan pilu,
mengejar rasi yang berlalu.
Dan sialnya…,
aku memilih jatuh cinta.
Pada berlian…
di jari manis tuanku.
2026
Tidur Tenang Adinda
Aku senjata pamungkas
siap tempur tiap malam Jumat,
Tuanku berkata pada pelanggannya
“Tidur tenang Adinda”,
setelah selesai kuberi kepuasan tiada tara.
Beranjak dari markas menjemput istri kedua
mendengar perbincangan dunia akan berakhir esok
mengundang liur damaiku, memuntahkan isi perutku.
Suara nafas tersengal yang merdu
dia gaungkan sambil duduki diriku
desah lembut kaula menolak waras
betapa elok tarian janda muda
setelah dimemari calon penghuni surga.
Saat perang pecah di ranjang dosa
Dirikulah yang jadi
senjata perdamaian.
2026
Biodata
Dewa Dharma Putra bernama lengkap I Dewa Made Dharma Putra Santika adalah penulis dan penyair muda asal Bali. Ia aktif menulis dan membaca puisi. Ia meraih juara pertama baca puisi putra pada PEKSIMIDA 2024 Bali dan menjadi peserta PEKSIMINAS 2024 di Universitas Negeri Jakarta. Pada PEKSIMIDA Bali 2026, ia meraih juara pertama penulisan puisi dan melaju ke PEKSIMINAS 2026 di Universitas Negeri Jember.










