SYARIF menceburkan dirinya pelan-pelan ke sungai selebar tiga meter yang lebih mirip selokan besar itu, ketika angin malam berhembus lebih kencang dari biasanya, menyamarkan keberadaan Syarif dari pantauan para pekerja proyek.
Semua sedang lelap tidur di balik selimut dalam kontainer yang disulap jadi rumah dadakan bagi para pekerja. Wakar yang seharusnya menjaga dan berpatroli di sepanjang garis sungai lebih memilih terlelap di pos jaga membiarkan suara keributan televisi dan radio kecil saling bersahutan. Tidak ada deru kipas angin seperti proyek masa silam, semua serba AC, lengkap dengan lemari pendingin.
Memang hanya waktu begini, waktu terbaik untuk menemukan apa yang Syarif cari, dari waktu tengah malam hingga menjelang azan subuh. Syarif harus bergegas, karena ini juga menjadi waktu paling berbahaya, selain karena orang-orang proyek yang bisa saja memergokinya, apa yang ia cari bisa menerjang balik jika Syarif salah mengatur posisi saat menangkapnya. Risma, Bambang dan Tigor, tiga orang sahabat Syarif menunggu aba-aba dari seberang jalan. Syarif akan memberi tanda jika buruan sudah didapat.
Air sungai yang tidak terlalu dalam sedikit membantu Syarif, sudah berhari-hari ia mengamati, sembunyi-sembunyi dari tatapan tak bersahabat para pekerja proyek. Sering kali menjelang Magrib kawanan bidawang diam-diam berenang dari Sungai Martapura ke Sungai Veteran–sungai yang konon akan dipercantik dengan taman, siring dan jalan. Puluhan tahun silam Sungai Veteran itu lebih lebar dari saat sekarang, meski tetap ada jalan besar di tepinya kala itu, tetap berdiri kokoh rumah-rumah kayu hingga rumah permanen berpondasi kayu ulin sebesar pelukan orang dewasa, membentang di sepanjang Jalan Veteran. Sesekali di masa itu dari pinggir jalan terlihat anak-anak kecil dari warga keturunan Tionghoa yang banyak bermukim di sana belajar berenang di Sungai Veteran.
Kini, air sungai itu kotor, hitam pekat, bercampur lumpur, limbah rumah tangga dan limbah kiriman dari daerah hulu. Syarif harus menahan bau untuk menemukan rumah para bidawang. Ia terus mencari–berbekal pengetahuan yang diajarkan ayahnya–sesekali menyelam dan ketika kepalanya merasakan ada rintik hujan tipis menyapu hingga turun ke pelipis, ia tahu harus bergegas. Para bidawang akan bersembunyi jika hujan deras datang. Syarif yakin kawanan bidawang itu membuat sarang di dalam sungai, di bawah cor semen dan pondasi siring.
Seharusnya mereka tak suka bau sungai ini, batinnya. Bidawang-bidawang itu pasti telah beradaptasi.
Ikan gabus, betok dan banyak ikan kecil berkeliaran di sekitar Syarif, tapi bukan itu yang ia inginkan, meski ada rasa iba, ikan-ikan itu terancam hidupnya, terisolasi cor semen dan paku bumi, tak bisa lari, mungkin tertindih dan lalu mati, tapi mereka memilih bertahan sekalipun habitatnya telah digusur pembangunan jalan, mereka tak pergi mencari rumah di sungai yang baru, sebab bisa saja masih ada satu-dua sungai yang jernih dan belum legam dan sakit-sakitan.
Bunyi gelombang sungai tak jauh dari posisi Syarif membuyarkan lamunan tentang ikan. Kawanan bidawang itu terlihat panik ada manusia di dekat mereka, menyelam masuk ke dalam air, dengan tangkas Syarif mengejar, menerjang bidawang yang berukuran lebih besar, Syarif mendekapkan hewan itu ke bagian depan tubuhnya, seekor lagi ia tangkap kakinya dan dengan sekali tarikan Syarif mencengkram punggung dekat kaki bagian belakang. Bidawang terakhir mencoba melawan, dan Syarif membantingnya sekaligus membuat tanda dengan cipratan air yang besar.
Risma yang khawatir dan terus memantau segera mengajak kedua sahabatnya membantu Syarif. Dengan cekatan, seolah sudah ribuan kali melakukan, Bambang dan Tigor menceburkan diri, Bambang segera mengulurkan tangan di antara tubuh Syarif dan tempurung bidawang, sepersekian detik lelaki berambut ikal itu menjulurkan tangan ke perut hewan yang semakin susah ditemukan itu dan memeluknya –cara terbaik menangkap Bidawang, sebab salah sedikit saja gigitan bidawang bisa menghancurkan bagian tubuh.
Tigor yang bertubuh kekar dan pandai bernyanyi tidak mau kalah, dengan cepat dia memeluk bidawang yang masih sempoyongan saat Syarif membantingnya di air. Kedua bidawang itu mereka ikat, Risma memantau keadaan sekitar jika para pekerja proyek bangun dari mimpi indah.
Syarif masih sibuk di dalam air, menangkap beberapa bidawang kecil, awalnya dia kelawahan sampai akhirnya Risma tidak tahan dan ikut terjun membantu. Gadis itu lebih cekatan dari yang terlihat, paras manis berlesung pipit itu menambah kekaguman pada ketangkasannya mendahului anak-anak bidawang. Setelah memastikan, tidak ada bidawang yang tersisa, mereka semua segera pergi, matahari sebentar lagi datang, tapi semua tahu, justru di saat-saat inilah kebanyakan orang termasuk para pekerja proyek enggan bangun sekalipun azan telah lama memanggil.
“Kalian lama sekali,” gerutu Umar yang menyetir mobil pikap, Bambang dan Tigor berbaring di bak mobil itu sambil menjaga bidawang yang sesekali berusaha memberontak. Syarif dan Risma duduk di samping kemudi.
“Baru menunggu begitu saja sudah mengantuk,” balas Risma. Umar tidak berani menyahut, karena ia sering sekali membuat Risma menunggu.
“Langsung ke tempat biasa kan, Rif?” Umar bertanya tapi Risma memberi isyarat untuk terus melaju ke tujuan mereka.
Risma melihat perubahan air muka Syarif. Sedari tadi pemuda itu memang diam saja, pikirannya berada di tempat lain, jauh di utara kota, tempat kelahiran ayahnya. Sesaat menangkap bidawang yang pertama tadi, suara teriakan semua bidawang itu samar-samar menusuk gendang telinganya. Suara itu sama dengan belasan tahun silam ketika pertama kalinya Syarif menonton ayahnya menangkap bidawang di tepian Sungai Martapura. Kala itu bidawang masih berkeliaran di sungai yang lebih besar, menyukai perairan bergelombang kecil dan bersih, tidak seperti sekarang bidawang-bidawang itu memilih air yang tak beriak, penuh lumpur dan hitam.
“Menangkap bidawang itu butuh kesabaran, juga rasa sayang saat harus memeluknya,” kata Usman, ayah Syarif. Si kecil Syarif hanya mengangguk tak mengerti, mengapa ia harus menyayangi bidawang.
Usman adalah perantau dan menangkap bidawang adalah keahlian dan hobinya sejak muda. Itu memang bukan pekerjaan utama seperti beberapa orang kenalannya. Usman, sopir batubara, terkadang bosnya juga meminta dia dan sopir yang lain mengangkut tanah merah dan kerikil, sebelum jalanan diaspal. Kadang tanpa honor atau pengganti uang makan. Sering Syarif ikut ayahnya, duduk di samping kemudi truk bernomor bak 45. Jika pekerjaan selesai lebih cepat, Usman dan Syarif akan menangkap bidawang atau memancing ikan-ikan kecil di bawah jembatan
Barito.
Ingatan tentang ayahnya itu terus berputar di kepala Syarif, tanpa ia sadari pikap yang membawa mereka telah sampai di tujuan.
***
Di tempat itu, Syarif dan teman-temannya membuat tempat penampungan hewan-hewan yang terganggu habitatnya karena pembangunan kota, merawat mereka sebelum melepas hewan-hewan itu ke alam liar yang masih asri, meski mencari tempat seperti itu sudah sangat sulit. Tempat terbaik adalah ke arah utara dan timur–di kawasan Pegunungan Meratus, masih banyak hutan dan beberapa sungai belum tercemar. Perusahaan batubara yang menyebar di beberapa titik di wilayah itu cukup pandai menjaga alam–atau seolah-olah terlihat menjaganya, sehingga tidak banyak protes tentang kerusakan lingkungan. Hanya sebagian kecil masyarakat yang berdemonstrasi melihat ada lubang besar menganga berisi air di bekas galian tambang. Konon, air itu adalah air laut, padahal wilayah utara adalah daerah bukit dan pegunungan.
Namun, Syarif tidak pernah ikut jika kelompok mereka harus melepas hewan-hewan itu ke utara, ia tidak ingin kembali ke kampung halaman ayahnya. Terakhir kali Syarif ke sana, saat ayahnya dimakamkan, dan itu bertahun-tahun silam, sebelum Syarif lulus kuliah. Para sahabatnya berpikir, Syarif terpukul dan hancur, dia belum bisa lari dan terus menyangkal kehilangan sesuatu yang teramat berharga.
Namun, pesan terakhir ayahnya yang tak sanggup Syarif penuhi.
***
Elegi tanah dan udara perlahan-lahan kehilangan gemercik air sungai, rerumputan mengering, melahirkan genangan di tanah-tanah kering. Ya, tanah para dalang itu mengering, tandus, kehilangan tunas-tunas yang tumbuh. Wayang kulit Banjar itu tidak lagi sepenuhnya bisa jadi wisata, pesonanya kalah dibanding iringan kapal pengangkut batubara yang bermetamorfosa jadi wisata baru. Bukit-bukit telah kehilangan dentuman daun di pepohonan.
Syarif sebenarnya tak sanggup berlama-lama di sana, ada kesedihan akibat tak memenuhi permintaan terakhir ayahnya. Tapi, mereka harus berjalan lebih dalam ke hutan, tempat yang masih terjaga alamnya. Semakin masuk ke dalam hutan, jalanan semakin sempit. Beruntung tadi mereka mengganti truk dengan pikap milik warga setempat. Rombongan Syarif memutuskan untuk menuntaskan pelepasan satwa dalam tiga hari, berturut-turut untuk kawanan bidawang, elang dan terakhir ikan-ikan.
Tiga hari itu terasa seperti tiga tahun buat Syarif.
Pada hari terakhir rombongan Syarif masuk lagi ke dalam hutan, kali ini ditemani tiga orang warga sekitar. Sungai yang jadi tujuan mereka cukup jauh dari dua tempat sebelumnya. Ada beberapa situs sakral juga yang tidak boleh dilewati sembarangan.
“Dalang Arbain akan menemani kalian ke Sungai Hitam, di sana kalian bisa melepas ikan-ikan. Tapi, tolong lakukan dengan perlahan, tenang, tanpa keributan,” pinta kepala desa pada Syarif dan kawan-kawan.
Niat hati ingin jauh dari segala hal tentang dalang, malah kini Syarif akan ditemani seorang dalang –sedikit dari dalang yang tersisa di desa itu. Apalagi Risma tadi pagi mendapat haid hari pertama, membuatnya tak bisa ikut dalam perjalanan kali ini. Pantangan bagi tempat sakral itu tidak boleh dilewati atau didatangi perempuan yang sedang haid, atau laki-laki yang belum bersih. Meski Risma dan Umar sepasang kekasih, tapi buat Syarif, Risma sudah seperti kakak perempuannya. Risma yang sering kali mengingatkan, dan bagaimana nanti di dalam hutan ketika serangan panik datang menerjang?
Ini membuat Syarif semakin gundah, ia tidak ingin ikut perjalanan juga karena tempat sakral yang disebut kepala desa tadi adalah tempat kakek buyutnya, Sang Dalang Jaelani bersemedi sebelum melakukan pementasan wayang.
Semedi itu untuk menjernihkan pikiran, merenungkan salah dan khilaf sebagai manusia, makhluk yang berakal budi, tetapi penuh dengan ruang serta kesempatan untuk berdosa dan jauh dari perintah-Nya.
Begitu penjelasan Usman pada Syarif di sela-sela mereka beristirahat setelah menangkap bidawang. Hal ini juga yang membuat Syarif enggan menjadi dalang, dia tak bisa bersemedi, mengosongkan pikiran dalam waktu tertentu mana bisa ia tahan. Naluri alam bawah sadarnya pasti akan mencari ponsel untuk melihat medsos, atau menonton film-film di Netflix. Semua itu biasa ia lakukan saat tidak ada kegiatan, kalau diharuskan mengosongkan pikiran dengan bersemedi, satu menit saja ia pasti sudah gelisah.
***
Bersama Dalang Arbain, Syarif dan yang lain masuk ke dalam hutan, ke arah yang berbeda dari dua hari sebelumnya. Mereka berjalan lebih ke barat, ke arah dua buah gunung yang konon di antara keduanya ada jalan yang bisa menghubungkan wilayah paling timur dan wilayah paling utara. Rasa mual mulai membuncah di perut Syarif, perjalanan ke Sungai Hitam itu menguras semua emosi dan pikirannya.
Ketika kecil, Syarif pernah dibawa ke sana oleh kakeknya, sebulan sebelum sang kakek meninggal dunia. Seisi desa begitu kehilangan dengan keturunan dari dalang legendaris. Semua semakin terkejut ketika Syarif yang diwasiatkan menjadi penerus, bukan ayahnya. Itu alasan akhirnya keluarga kecil mereka merantau ke kota, dari kerja di mebel hingga jadi sopir batubara, Usman berjuang menghidupi keluarga kecilnya.
Semua baik-baik saja, kebahagiaan dalam sesuatu yang sederhana, seperti ikan sarden yang dicampur mie rebus. Usman dan istrinya berbohong pada Syarif, berkata bagian paling enak dari sarden kaleng adalah tulang tengahnya. Padahal, itu mereka lakukan agar Syarif yang memakan bagian dagingnya. Tapi, Syarif pada akhirnya malah menggemari bagian tulang tengah itu, dan akan menangis jika dia yang mendapat daging dan ayah atau ibunya yang memakan tulang tengah.
Ketika ibunya berpulang untuk selama-lamanya karena virus flu burung, ada kerinduan, ada rasa yang seolah hilang, seperti ikan sarden tanpa rasa umami. Syarif dan ayahnya semakin sering menangkap bidawang dan ketika sekarang rasa mual dan pusing hampir mengambil kesadarannya, memori saat sang ayah mengajarkan menangkap bidawang menguatkan Syarif.
***
“Arus sungai tiba-tiba deras!” seru Dalang Arbain saat bercerita pada kepala desa.
“Ini bukan waktunya Sungai Hitam meluap, tidak biasa,” gumam kepala desa.
Warga desa terheran-heran, biasanya air Sungai Hitam meluap di waktu sebelum pergantian musim hujan ke musim kemarau. Hari ini terjadi sebaliknya. Setiap kali sungai itu meluap karena limpahan air dari gunung, seisi desa akan terendam air, dan setelah surut akan ada ribuan ikan betok, gabus, lele dan sepat yang terdampar. Warga desa akan memanfaatkan ikan-ikan itu, mengawetkannya dengan garam, lalu dibaluri beras yang digoreng dan ditumbuk halus.
Namun, kali ini … saat air sungai meluap, tidak ada satu pun ikan yang tampak. Beberapa percaya ada pesan yang ingin disampaikan alam dari kejadian tidak biasa ini. Apalagi Syarif hanyut dalam proses pelepasan ikan-ikan di Sungai Hitam.
Ya, Syarif terbawa arus dan hilang. Tigor dan Dalang Arbain sempat memegang tangannya. Syarif sudah tidak sadar saat arus sungai menariknya lebih jauh. Ada dahan kayu besar yang jatuh menimpa sebelum Syarif terjatuh.
Seisi desa dikerahkan mencari, beberapa orang yang dipercaya memiliki kepekaan batin mencari ke arah Sungai hitam, melewati area hutan pewayangan, tempat Dalang Jaelani bersemedi di masa hidupnya.
Sungai hitam sendiri dinamai begitu karena airnya yang terlihat hitam karena kondisi hutan yang gelap. Sempat ada mitos bahwa sungai itu membawa kutukan, tapi saat para warga desa mulai mendapatkan ikan berlimpah setiap tahun saat air sungai meluap, mitos itu menguap dengan sendirinya. Siapa juga yang akan percaya ada kutukan saat ternyata mendapatkan banyak berkah?
***
Usia ribuan sungai itu abadi, andai pembangun mengerti konserto seribu sungai, derit elegi akan berganti arunika yang menghangatkan kekosongan. Semenakutkan apapun sungai, entah konon karena memiliki pusaran yang menghubungkannya dengan dunia gaib seperti naga dan pusaran menuju dunia bawah, atau kegelapan yang menyelimutinya, atau setiap misteri yang tak pernah terpecahkan di setiap sungai, atau sekurang-kurangnya ketakutan akan buaya dan ular yang diam-diam mengintai, seribu sungai yang kini tinggal ratusan karena dibekukan pembangunan tetaplah keindahan tanpa jeda.
Meski, untuk diminum airnya sudah tak lagi seperti puluhan tahun silam, rumbia yang diam-diam akarnya menghisap air penuh e-coli dan merkuri. Sungai-sungai memang sudah tak mampu lagi menyanyikan konserto seribu sungai, tapi yang tersisa dari setiap jejaknya masih memberikan pemahaman akan kuasa tak terbatas dari Sang Pencipta.
Andai saja Tuhan memberi takdir kematian, Syarif sudah pasti tenggelam. Mungkin pula, ada buaya yang bersembunyi dan menemukan jasadnya, membawa tubuh itu ke dasar sungai sebelum menyantapnya di sudut sungai yang lain. Nyatanya, Syarif terdampar di sebuah gua yang di dalamnya mengalir sungai. Burung-burung walet berterbangan keluar masuk. Secercah cahaya yang masuk menunjukkan pemandangan indah, di sela-sela stalaktit di gua itu ada sarang burung walet. Mereka hidup dan bersembunyi, merawat keturunan di tempat yang tak terjamah manusia.
Syarif membuka mata, pandangannya masih kabur. Dadanya terasa sesak, rasa mual yang tadi menghantui perutnya kembali lagi.
Apa ini? Batin Syarif bergejolak.
Satu hal yang ia yakini, ia masih hidup dan tak boleh menyerah. Perlahan mata itu terbuka dan samar-samar mulai mengamati setiap inci dalam gua. Syarif tidak ingat apa yang terjadi, tapi sekarang yang jauh lebih penting adalah ia harus keluar dari tempat ini, sekurang-kurangnya berusaha bertahan hidup.
Ia bangkit dan berjalan tertatih ke arah cahaya terlihat. Pemandangan lain samar-samar terlihat. Cahaya yang menyeruak masuk mulai banyak, sepertinya di luar sana, matahari sedang berada di puncak tertingginya atau sudut matahari sekarang sedang membentuk elevasi yang membuat gua itu sedikit lebih terang dari sebelumnya.
Syarif melihat patung-patung para Pandawa, Rama-Sinta dan ukiran-ukiran wayang di dinding gua. Sekilas dia teringat tentang cerita kakeknya, rahasia sang dalang tersimpan rapat di sebuah tempat. Bagaimana Dalang Jaelani bisa begitu melegenda, gaya ceritanya yang memukau, semua ada di sini. Ukiran-ukiran wayang itu membentuk pola cerita, dan bukan itu saja. Syarif menemukan sesuatu, kumpulan daun lontar di depan patung paling besar di sana.
Dia mulai membaca.
Sepeminuman bola, Syarif menceburkan diri ke dalam air, meraih pintu gua yang ternyata mengarahkannya ke permukaan. Orang-orang terkejut melihat sesosok manusia muncul dari dalam air. Kekagetan itu berakhir dengan rasa lega.
Sekeluarnya dari air, Syarif mendatangi Dalang Arbain dan membisikkan sesuatu sambil menyerahkan kumpulan daun lontar yang ia temukan tadi.
Banjarmasin, Juli 2026
BIODATA
JH. Tanujaya adalah nama pena dari Lorensius, penulis kelahiran Banjarmasin. Ia pernah belajar menulis secara khusus pada Anang YB dan almarhum Yusran Pare. Pada 2008, membidani pelaksanaan Pekan Olimpiade Komputer se-Kalimantan Selatan, dan terus mengawal pelaksanaan event tersebut hingga tahun 2018. Tahun 2011 bersama Kristianus Lukman dan Maulida Arianti mendirikan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Jelaga STMIK Indonesia Banjarmasin. Setelahnya turun aktif dalam Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Banjarmasin. Kini tergabung bersama Kindai Seni Kreatif Banjarbaru, Arkalitera dan Riam Sastra Murobbi Martapura. Esai, opini, dan puisinya pernah dimuat di Banjarmasin Post, mirifica.net, sesawi.net, katoliknews.com, arkalitera.id, dan kompas.id. Puisi, memoar, pantun, fiksi mini dan cerpennya termuat dalam belasan antologi termasuk pada Antologi Penyair ASKS 2024 dan 2025 serta pada Antologi Puisi Bahasa Bakumpai ASKS XXII Tahun 2025. Telah menerbitkan tiga kumpulan puisi tunggal: Gadis di Rembang Petang (2017), Doa Seorang Koruptor (2019), dan Konserto Sudut Pandang (2025). Dapat dihubungi melalui instagram @jhtanujaya.













