KAMIS, 11 JUNI 2026, dalam forum Sewelasan: Maskumambang Sinau Nyinaoni di Sasono Bagus Budoyo, saya bertemu kembali dengan sebuah kata tua dari khazanah Jawa yang terasa semakin langka diucapkan, namun justru semakin penting untuk dipikirkan: lelabuhan.
Kata ini berasal dari akar kata labuh. Dalam pemahaman Jawa, lelabuhan bukan sekadar pekerjaan, profesi, atau pencapaian. Ia adalah pengabdian yang dipersembahkan kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri. Ia bisa berupa karya, amanah hidup, laku kebudayaan, bahkan persembahan spiritual. Lelabuhan adalah jejak yang ditinggalkan seseorang bagi kehidupan yang lebih luas.
Namun justru di titik inilah saya merasa ada persoalan besar yang sedang dihadapi masyarakat modern. Kita hidup dalam zaman yang sangat produktif, tetapi miskin persembahan. Kita menghasilkan banyak hal, tetapi sedikit yang benar-benar dilabuhkan.
Media sosial memperlihatkan paradoks tersebut. Setiap hari jutaan orang menciptakan konten, membangun citra diri, mengejar perhatian, dan mengukur keberhasilan melalui angka-angka yang terus bergerak. Kita hidup dalam peradaban yang mengajarkan bagaimana menjadi terlihat, tetapi tidak selalu mengajarkan bagaimana menjadi berarti.
Filsuf Byung-Chul Han, dalam kritiknya terhadap masyarakat prestasi, menyebut bahwa manusia modern telah berubah menjadi subjek yang terus-menerus mengeksploitasi dirinya sendiri demi produktivitas. Kita bekerja tanpa henti, tetapi sering kehilangan jawaban atas pertanyaan mendasar: untuk siapa semua ini dilakukan?
Di sinilah lelabuhan menawarkan perspektif yang menarik. Dalam pandangan Jawa, nilai sebuah tindakan tidak semata-mata terletak pada hasil yang diperoleh, melainkan pada kepada siapa hasil itu dipersembahkan. Seorang petani tidak hanya menanam untuk dirinya. Seorang guru tidak hanya mengajar demi gaji. Seorang seniman tidak hanya menciptakan karya demi popularitas. Mereka sedang menjalankan lelabuhan.
Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya radikal. Dunia modern bertanya, “Apa yang bisa aku dapatkan?” Sedangkan lelabuhan bertanya, “Apa yang bisa aku persembahkan?”
Pertanyaan kedua terasa semakin asing karena peradaban kita dibangun di atas logika akumulasi. Kita diajarkan mengumpulkan kekayaan, pengaruh, pengikut, dan pencapaian. Tetapi kebudayaan Jawa justru menyimpan gagasan yang berlawanan arah. Seseorang dihormati bukan karena apa yang berhasil dikumpulkan, melainkan karena apa yang berhasil diberikan.
Mungkin karena itu banyak tokoh besar dikenang bukan oleh hartanya, melainkan oleh lelabuhannya. Kita mengenang para guru, seniman, pemikir, dan pejuang bukan karena apa yang mereka miliki, tetapi karena apa yang mereka tinggalkan.
Mahatma Gandhi pernah mengatakan, “Cara terbaik menemukan dirimu adalah dengan kehilangan dirimu dalam pelayanan kepada orang lain.” Kalimat ini sesungguhnya memiliki gema yang sangat dekat dengan makna lelabuhan. Diri manusia menemukan kedalamannya justru ketika ia melampaui kepentingan dirinya sendiri.
Demikian pula Albert Einstein pernah berpesan, “Hanya kehidupan yang dijalani untuk orang lainlah yang layak dijalani.” Kutipan ini bukan sekadar nasihat moral. Ia adalah kritik terhadap peradaban yang semakin mengukur kehidupan berdasarkan kepemilikan, bukan kebermanfaatan.
Dalam konteks kebudayaan, lelabuhan juga dapat dibaca sebagai bentuk perlawanan terhadap krisis makna yang sedang terjadi. Ketika seni direduksi menjadi hiburan, pendidikan direduksi menjadi sertifikat, dan politik direduksi menjadi perebutan kekuasaan, maka lelabuhan mengingatkan bahwa setiap aktivitas manusia sesungguhnya memiliki dimensi pengabdian.
Bahkan seorang seniman dapat bertanya kembali kepada dirinya: apakah karya yang saya ciptakan hanya menjadi komoditas, ataukah menjadi persembahan bagi zaman? Apakah puisi ditulis hanya untuk memenangkan lomba, atau untuk menjaga kemanusiaan agar tidak kehilangan suaranya? Apakah pertunjukan hanya menjadi tontonan, atau menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenali dirinya sendiri?
Saya melihat bahwa makna terdalam lelabuhan bukanlah pengorbanan, melainkan hubungan. Ia menghubungkan individu dengan komunitas, masa kini dengan masa depan, dan manusia dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Dalam lelabuhan, hidup tidak lagi dipahami sebagai perlombaan untuk menjadi yang paling sukses, melainkan kesempatan untuk meninggalkan jejak yang paling bermakna.
Maka mungkin pertanyaan penting yang perlu kita bawa pulang dari diskusi malam ini bukanlah apa pekerjaan kita, berapa penghasilan kita, atau seberapa terkenal nama kita. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: kepada apa sesungguhnya hidup ini sedang kita labuhkan?
Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang oleh panjangnya usia, banyaknya harta, atau tingginya jabatan. Manusia dikenang oleh lelabuhannya. Oleh apa yang ia persembahkan kepada kehidupan setelah dirinya tiada.
Dan jika suatu hari seluruh pencapaian kita menghilang, seluruh gelar kita dilupakan, dan seluruh nama kita perlahan memudar dari ingatan zaman, masih adakah sesuatu yang tetap tinggal sebagai persembahan bagi sesama? Ataukah selama ini kita hanya sibuk mengumpulkan, tanpa pernah benar-benar melabuhkan.
Fileski adalah penulis dan guru seni budaya di SMAN 2 Madiun. Aktif menulis esai, puisi, dan prosa. Aktif di Komunitas Reboan Musik DEKRANASDA Kota Madiun.













