Tidak Ada Puisi Hari Ini
Tidak ada puisi hari ini
Kita mengawali pagi dengan sakit mata dan malam-malam tidur terjaga
Narasi yang tertulis tidak lagi metafora
Tidak ada merah hari ini
Maaf tersumbat di setengah kerongkongan bekas sumpah serapah semalam
Namun tunggu
Aku ingin kita hanya menjadi hitam
Dan aku adalah warna favorit ke mana pun kau bercerita
Tidak ada doa kepada Tuhan
Aku hanya ingin melukis seabstrak mungkin
Dari tinta yang telanjang
Tidak ada warna-warni dan kemilau yang menyenangkan
Kita hanyalah sepasang amarah (yang tak disengaja)
Menunggu hitam menjadi parau
Sebab
Kita tak akan pernah bisa hilang
Tidak menggambarkan apa-apa
Tidak tersentuh oleh siapa
Senyap
Satu
Satu
Aku satu
Menunggumu
Kamu; satu
Satu
Dua
Waktuku hilang
Bias-bias tercecap
Sebab waktuku tak lagi
Berdetak seperti sedia kala
Dua
Tiga
Kesepian menggerogoti isi kepala
Senyap membekap kedua telinga
Aku terpejam
Namun sunyiku tak berkurang
Tiga
Dua
Aku menghitung mundur
Kedatanganmu yang nyaris tiada
Sepiku ada
Kau tiada
Waktuku berhenti
Terlampau sepi
Aku sunyi
Aku benci
Satu
Satu
Aku
Kamu
Ode
Kebisingan ini terlalu asing bagimu
Maka, mari ciptakan kegaduhan
Di langit-langit tak beratap dan berasap tebal
Agar nanti kejatuhan gemintang ketika kau terlelap
Biarkan saja mereka membentuk rasi dengan semua ketidakpastian
Tembok kaca membatasi dengan ingatan deras
Dan waktu yang sempit berebut menghujam
Aku menggigil ⎯ kau pun begitu
Kepada dinding setengah basah
Aku menggumam mantra yang mampu menyayat ketakutan
Lalu kita berpaut menelanjangi isi kepala
Menutup apa saja untuk membenamkan kedua telinga
Sambil membual apa-apa yang mungkin terjadi di masa mendatang
Keringat dingin mengguyur pelipis
Kemudian namamu menjelma malam-malam yang panjang
Aku memaksa inti jantungku berdoa
Meski ia tak bertuhan
Demi sebuah pengharapan, agaknya aku perlu melakukan
Hal-hal yang tidak masuk akal
Namun, bukankah jarak ini adalah hal yang janggal?
Andai saja aku tetap berkutat pada ketakutan
Tidak akan kutemui waktu-waktu sibuk berlalu-lalang
Bagiku, semua hal semestinya manis
Bagimu, semua hal tak seharusnya berwarna
Rupanya, tidak semua hal memerlukan éuforia
Tidak apa
Untuk kali ini saja
Mari rayakan ketimpangan ini dengan sempurna
Pawon
Kita hidup dimulai dari dapur yang minimalis
Aku bergegas pagi memasak untukmu
Dengan suka cita di atas meja
Dengan bahan pokok yang kita sediakan sehari sebelumnya
Sesekali memelukku dari belakang tengkuk
Bau asap cerutumu dan masakanku mengiyakan keromantisan itu
Kita berjaga semalam sebelum tiba kelaparan menyergap perut kita sekuat tenaga
Kita berperang membuat percakapan yang mengundang dahaga
Di dapur minimalis itu
Kita bercinta
Di dapur minimalis itu
Kita menerka-nerka kejadian di hari berikutnya
Di dapur minimalis itu
Kita menghidangkan aku di atas meja
Jika kau mengingat
Kita bersua beratap gemintang yang kadang juga enggan berpijar
Jika kau mengingat
Esok kita akan kembali berjumpa di dapur yang sama dengan hidangan yang berbeda
Muara
Ia menenun selembar kain untuk mengusap air matanya sendiri
Mengalir dari pelipis, menuju dada yang sesak lalu bermuara di gelombang air laut
Ia menciptakan bahu dari kekuatannya sendiri
Untuk bersandar
Dan menangis sejadi-jadinya tanpa terdengar
Ia melukis laki-laki paruh baya di kepalanya sendiri
Untuk berlabuh
Seiring matahari tenggelam
Dibenamkan pula luka-lukanya yang tidak pernah sembuh
Hirap
Aku menenggelamkanmu dalam sebaik-baiknya ingatan
Kepada telinga yang terbuka, kita berbicara
Supaya tak lelah lagi
Kita mencari
Bab demi bab
Kata-kata mengudara
Menepis apa-apa yang memisahkan kita
Pada jarak
Aku meratapi rindu
Seperti inikah jalan yang kita tuju?
BIODATA
Via Firdhayanti, lahir di Malang, 1 November 1997. Pernah mengikuti beberapa lomba puisi nasional, meraih beberapa sertifikat dan karya-karyanya dimuat dalam sejumlah buku. Bukunya yang telah terbit: Antologi Puisi (2017).













