ANALOGI TANYA
mana lebih pasti;
kedamaian di ujung hulu,
suara-suara
meminta jerit batu?
berulang tanya
memangkas telinga
nalar disuap
udara bertuba
banjarbaru, 011025/051025
GAGAL MENULIS SUNGAI
pesta air. gemuruh para penyair
di balik ngungun tafsir. bacalah
pesta air. jejak riak tak kembali
ke barisan jukung menanti
/anomali meminta cadangan kunci?
pesta air. berlembar-lembar obrolan
lokalitas yang diarsir kisah satir
jadilah kudapan tanpa kelambu tabir
datang, pesta air. penyair pertama
penyair terakhir, susul-menyusul
ongkos datang-ongkos pulang
obrolan honor jadi bahan
di belakang daftar undian,
nama-nama bergulir
menghimpun wacana
“pesta air,
ratusan puisi,
hadirin-hadirat
percakapan tersirat,
suara-suara
menjewer telinga
tak henti
bertukar-canda,
entah perihal asmara
dua puluh lima
/kakek tua kata-kata
di jalan penghabisan
menuju tidur panjangnya”
banjarbaru, 071025/121025
ANEKDOT KAWAN SEBELAH
berencana tulis puisi
perihal nini-kai
menunda mati
(berbekal rajah
yang diberi
cuma-cuma
seorang tuan guru
di barat daya)
rajah itu lihatkan isiannya
ketika dipakai julak
dalam perjalanan
dinas luar kota
seekor macan
dari Karimun Jawa
menggerung-gerung
tak ada jeda
julak mengira
macan itu jelmaan bini-nya
yang minggat entah kemana
setelah desas-desus
perihal hubungan rahasia
dengan seorang tuan guru
di barat daya
banjarbaru, 021025
AUTOBIOGRAFI JULAK
julak jadi hantu
terkadang muncul
di bawah pohon jambu
tiap lima kanak nakal
bermain panggil namanya
sambil cekikikan
menjelang magrib tiba
julak jadi hantu
terkadang muncul
sebagai perempuan
berparas remaja
mengggoda satu-dua
pemuda sebaya
yang lewat
diam-diam
di bawah pohon jambu
semasa hidupnya,
julak ambil peran
pekerja rumah tangga
upah sambilan
memijit majikan
tiap sekali sepekan
si majikan
memberinya bonus
pipa saluran
ke jalur kandungan
julak terbayang
surga terbuka
memeluknya
me-me-luk-nya
meski berujung
wafat tergantung
di pohon jambu
samping rumah tetangga
banjarbaru, 051025
SIWALANPANJI
taman-taman
tempat penyair
biasa menggali kegilaannya
disini, kata puisi,
anekdot mencuri hati
seseorang yang dibunuh sepi
seseorang itu mungkin kau
atau kawan-kawan
yang ditikam pukau
simposium bersama hantu
bilik sempit kebudayaan
(ini kalimat puitis
atau remah khayalan
mengambil jarak kenyataan?)
taman-taman
tempat sepi
biasa cari tumpangan
sebelum puisi
membelah malam
jadi dua bagian;
separuh untuk bayangan
separuh untuk kewarasan
(yang kerap kacau
dirasuk tuntutan
anak-bini, jalan pulang
meracau ke tiap igau!)
banjarbaru, 050825
BIODATA
Muhammad Daffa, kelahiran Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 1999. Alumnus Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Puisi-puisinya dimuat Koran Tempo, Bali Politika, kompas.id, jernih.co, omong-omong.com, Majalah Sastra Kandaga, Majalah Mata Puisi, dan Sastramedia. Buku puisi tunggalnya, “Catatan Dari Pekarangan Acak”((Penerbit Lumpur, 2025). Dapat ditemui di instagramnya: @sebermulahujan.













