KAU YANG MENEMANI
kepada kau yang menemani
malam mingguku; cukuplah
waktu jadi kawan
dan sekadar makan
lalu susun percakapan
tentang jalan tanpa hujan
malam minggu wajah biru
tangan yang berpeluk
dan rahasia kemudian
kalau kita temui hujan
aku ingin singgah
di hangat dadamu
seperti ibu waktu dulu
“bawa pulang kenangan
buat ibu tersayang
kita akan ceritakan,” katamu
lalu jalanan memberi kita
seluas ini kota
6 Desember 2025
BAGAIMANA MUNGKIN…
bagaimana mungkin batangbatang kini jadi
sampan, dari pohonpohon yang tumbang
dan lama berdiam di hutan. kami tak bisa
berlayar di sana ketika air muntah ke kampung
“kami dikepung!”
setiap mata di arahkan, warna lumpur
dan duka lara terdengar
kami tak pernah mengira yang hanyut adalah
sampan. berlayar dari bukit, hutan, dan entah
tetapi, batang pohon batang pohon yang sudah
lama lelap. kini dihanyutkan. kala curah air dari
langit tak lagi bisa ditahan
“di sini tiada lagi sampan
sejarah Nuh lama hilang
bahkan, mungkin, dari ingatan,”
desis air yang datang
sejak anakanak
setiap sejarah
mesti dilupakan
diganti dongeng baru
dari dunia lain
di tangantangan kita
yang kerap layu
oleh luka dan sendu
30 November 2025
WANGI TUBUHMU
aku masih mencium wangi tubuhmu
di arus sungai, aliran muntah
gelombang gairah. dari
kaki bukit, wajah huan yang gelisah
menampung air mata
orang banyak
dari kampung nan jauh
tak pernah tersuluh
oleh kabar apapun
“tapi,
kami paham yang terjadi
ketika banjir mengantar
tangan perkasa
yang menampar
dan mendepak. kami mengaduh
juga mengadu; ‘Tuhan, telah
Kau sebut dulu kala, kami
memang perusak di bumi-Mu.”
apa mau bilang
kini kamipun dilanda bimbang;
saat hutan tersisa daun
sungai dipenuhi sampah
rumah kami layaknya sampan
jalan bagai lautan
ke langit kami menengadah
sebagai orangorang papa
— sangat nestapa —
di bumi, dulu Kauberkahi,
kini Kaulaknati
sebab kami lalai
2025
JADI JENAKA
petir bercanda, namun aku
tak juga bisa tertawa. wajahmu
menangis di hampar peta itu
dalam kubang lumpur yang banjir
seseorang ingin jadi jenaka
menghibur orangorang duka
untuk jadi penghibur
cukup kaubawa karung
–entah berisi atau kosong —
cukup wajahmu meringis
seolah beban di pundak
adalah kenangan silam
saat masuki hutanhutan
cukur belantara
dan sisanya yang hanyut itu
pamernya yang di pundakmu
JANGAN TAHAN TUBUHKU
jangan tahan tubuhku yang mengalir,
kata air, sebab hutanhutan
yang dulu membendung
atau yang pernah menyerapku ke akarakar
telah kau tebang seluruh. “maka kini
aku bebas menembus sungai lalu masuk
ke rumahrumah
jangan bendung perjalananku, kata air,
karena sekarang tak ada lagi lekuatan
akar dan pohon untuk menahanku agar
tak bebas ke mana suka. tubuhku telah
menciptakan sungai supaya mudah
memburu kampungkampung; “kalian
tak lagi tenang, diburu cemas dan takut
tibatiba datang maut.”
bersama air akan kuhantam kampung,
rumah dan menenggelamkan kalian
akan kuratakan kampung itu. kata
longsor, “seperti air, aku juga kejam
dan tak mengenal kemanusiaan.”
sebab, manusia juga menjadikan kami
hancur. demi kekayaan dan amat rakus
Bandar Lampung, 3 Desember 2025
BIODATA
Isbedy Stiawan ZS adalah sastrawan asal Lampung dan alumni Forum Puisi Indonesia 87 yang masih produktif sampai kini. Buku-buku dan karya puisinya kerap memenangkan lomba/sayembara, atau masuk nomine. Pada 2025, 3 buku puisinya terbit yakni Kitab Puisi Esai Elegi Galian Tambang, Kumpulan Puisi Satu Ciuman, Dua Pelukan, dan Menungguku Tiba. Buku puisinya, Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua masuk 5 besar pilihan Majalah Tempo (2019) dan Kini Aku Sudah Jadi Batu! terpilih 5 besar Badan Bahasa Kemendikbud RI (2019). Buku Puisi: Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai 5 besar buku puisi pilihan Tempo (2020).













