MALAM MINGGU kemarin aku ikut teman-teman memenuhi undangan bazar dari kelompok pemuda di kampung seberang. Rencananya aku tak ikut. Sebab warung bazar identik dengan minuman beralkohol dan dentuman musik. Terlebih aku sempat bersuara lantang, menolak kegiatan bazar di banjar. Fakta membuktikan, hampir sembilan puluh delapan persen terjadi perkelahian di bazar. Utamanya para pemuda yang tak mampu mengendalikan pengaruh alkohol. Sesungguhnya tujuan bazar itu mulia, menggali dana untuk mendukung program pembangunan di desa. Seperti pembangunan tempat suci dan kegiatan sosial lainnya. Namun, jika diiringi perkelahian, tentu uang yang kita dapat menjadi leteh atau kotor.
Aku juga punya alasan lain kenapa tak tepat buat kegiatan bazar di bale banjar. Itu sama artinya mengajarkan pemudi menjadi waitress. Mengenalkan pemuda dan pemudi kita tentang dunia gemerlap. Bazar identik dengan dentuman musik. Identik dengan kepulan asap rokok. Identik dengan alkohol. Suasananya tak jauh beda dengan di kafe remang. Secara pribadi aku tak suka ke bazar karena belum terbiasa dengan alkohol. Senantiasa menghindari alkohol untuk jaga kesehatan. Tapi malam Minggu kemarin, aku berangkat juga ke bazar. Maklum aku jadi ketua pemuda di kampungku.
Sesampai di lokasi bazar, kami berlima disambut ramah pemuda setempat. Rombongan kami memilih duduk di sudut. Gede Segel, kawan karibku, pesan kacang dan bir tiga kerat sekaligus. Aku mendadak bingung. Kawan-kawanku pesan bir tiga kerat, apa kuat? Bagaimana nanti kalau mereka mabuk dan bikin ulah di kampung tetangga? Pikiran-pikiran itu senantiasa mengganggu. Semoga saja mereka tak mabuk dan mampu mengendalikan diri. Kubiarkan mereka berempat menenggak bir. Sementara aku pesan teh botol. Seandainya mereka mabuk, minimal aku masih waras. Dan aku bisa mengantar mereka pulang dengan selamat sampai rumah.
Semakin malam, aku semakin bertambah pusing. Aku lebih dulu mabuk dibandingkan kawan-kawanku. Tapi bukan mabuk bir. Mungkin karena terlalu banyak makan kacang. Di samping alergi kepulan asap rokok. Kondisi itu bahkan membuat kepala terasa pening. Namun aku tetap bertahan. Menjaga kawan-kawan agar tidak membuat ulah yang aneh-aneh. Beberapa kali aku ke belakang karena muntah. Saking tak kuat menahannya, di tempat itu pula isi perut berhamburan tanpa kendali. Lantai tempat bazar jadi menebar bau amis.
“Ha-ha-ha-ha-ha, kupikir hanya yang minum tuak, arak, dan bir saja bisa mabuk. Ternyata calon pedanda kita ini juga bisa mabuk. Ha-ha-ha-ha,” Gede Segel menunjuk ke arahku. Tertawanya kian keras.
“Aku mulai sadar sekarang. Ternyata tidak hanya aku yang mabuk. Di dunia ini semua orang mabuk. Ada mabuk duit. Ada mabuk janda. Ada juga mabuk jabatan. Indonesia negeri edan. Ketua MK saja mabuk uang, ha ha ha ha ha,” omongan Gede Segel mulai tak terkontrol.
Tetapi kuakui pendapatnya. Mungkin benar, jika sudah di bawah pengaruh alkohol, akan melahirkan kejujuran. Tak hanya Gede Segel yang menertawakanku yang mabuk makan kacang dan kepulan asap rokok. Tiga kawanku yang lain, Putu Konci, Wayan Sereg, dan Made Gili juga ikut terbahak-bahak.
“He, lebih baik kau minum bir. Perut akan terasa nyaman. Kencing pun lancar. Mabuk kacang, malah akan membuat kau menderita. Susah buang air besar. Sesekali belajarlah kau jadi preman. Bukankah sekarang banyak preman yang mendadak beriman. He calon pendeta,” Putu Konci berceloteh dengan mengarahkan telunjuknya ke hidungku.
Aku melihat situasi sudah tidak menguntungkan. Semasih mereka sadar, kupaksa saja mereka balik daripada mereka terkapar mabuk. Daripada mereka akan berkelahi sesama orang mabuk. Beruntung Made Gili kondisinya masih stabil. Kami bisa pulang dengan nyaman. Aku membonceng Gede Segel dan Wayan Sereg. Sementara Made Gili membonceng Putu Konci. Kami pulang melawan dingin angin perdesaan. Sekitar pukul 00.30 Wita tiba di rumah Gede Segel. Kami sepakat menginap di rumahya, sambil menjaga mereka yang mabuk.
Beruntung kami tiba dengan selamat. Mungkin karena lelah, empat kawanku cepat terlelap. Namun aku sulit memejamkam mata. Serasa berat. Aku mendadak gelisah. Udara serasa pengap. Suara lolongan anjing membuat bulu kuduk berdiri. Aku baru tersadar, malam ini Wraspati Kliwon atau Malam Jumat Kliwon. Malam keramat. Malam pesta pora para leak dan penekun ilmu hitam. Rasa takut mulai menjalar, terlebih pernah terdengar kabar ibunda Gede Segel wanita sakti. Ratuning leak atau ratu para penekun ilmu hitam. Perempuan itu sakti dan bisa berubah wujud seram. Rasa takut kian menghantui.
Aku pernah dengar tutur tetua. Jika jadi target ilmu hitam, perasaan akan dihantui rasa cemas. Gelisah, udara terasa pengap dan ditandai bulu kuduk berdiri. Meski kita berbanyak, hanya yang jadi target digelayuti ketakutan. Aku mulai percaya cerita itu. Terlebih empat temanku tertidur pulas. Mungkin sudah terkena aji sesirep. Suara lolongan anjing menambah teror di malam pekat. Mataku mulai melirik ke sekitar. Astaga, aku melihat seekor bojog di pohon ketapang dari kamar. Bojog itu terlihat jelas karena kamar hanya tertutup korden tipis. Bojog itu tersenyum mempertontonkan giginya. Sangat jelas, karena suasana di luar kamar agak terang, selain sinar bulan juga pantulan cahaya neon.
Sontak badanku merasa kaku. Kaki mendadak gemetar. Peluh bercucuran meski udara sejatinya dingin. Terbukti dari keempat kawanku yang terlelap menutup dirinya dengan sarung. Aku berusaha menenangkan diri menyingkirkan rasa takut. Namun kehadiran bojog dan lolongan anjing kian meneror malam itu dengan berbagai ketakutan demi ketakutan. Aku benar-benar takut. Aku berusaha membangunkan teman-temanku. Tak ada yang bangun. Mereka terlelap, entah kena ajian sesirep. Setiap kulirik pohon ketapang, bojog itu terlihat duduk santai. Kadang ia mempertontonkan taringnya yang mengkilat. Aku yakin, ya benar-benar merasa yakin sekarang bahwa leak itu mau mengganggu. Yang ada dalam pikiran, leak hanya sebuah cerita milik orang-orang tua untuk menakut-nakuti anaknya agar tidak keluar malam.
Sebelumnya memang sering terdengar kabar, bahwa ibunda Gede Segel suka jahil mengganggu tetangga dengan ilmu hitamnya. Jika ada tetangga yang punya hajatan, dijadikan kesempatan untuk menjajal kemampuan. Seperti mengganggu orang masak dengan aji ugig. Seberapa besar kobaran api, tidak akan mampu memanasi air ataupun minyak. Masakan yang direbus atau digoreng tidak akan pernah matang. Atau cara-cara lain seperti menebar racun dari jarak jauh sehingga warga sekampung yang dapat makanan dari orang punya hajatan bisa diare. Jika saat musim kemarau, dia akan mengganggu orang yang punya hajatan dengan menurunkan hujan lebat. Intinya mengganggu dan meresahkan masyarakat. Pernah warga desa mau mengusir ibunda Gede Segel, namun tak ada daya. Maklum, minim saksi dan alat bukti. Ilmu leak susah dibuktikan secara kasat mata. Perilaku ibunda Gede Segel sehari-hari seperti orang pemalu. Dia menutup diri. Jika diajak ngobrol, matanya selalu melihat-lihat ke arah lain. Cenderung menghindari beradu pandang. Lebih sering tatapannya menghujam tanah.
Badanku basah bermandikan peluh. Ketakutan akan leak semakin menjadi-jadi. Dalam ketakutan, beruntung aku ingat nasihat guru kesenian di sekolah, I Gusti Putu Bawa Samar Gantang. Guruku ini merupakan penyair mistik dan suka mengutak-atik leak dalam sajaknya. Darinya aku sering mendengar cerita, bagaimana proses orang berubah wujud. Termasuk tingkatan ilmu leak. Ilmu leak itu sangat sakti, bisa dipakai membunuh orang dengan menebar teror ketakutan. Maka dari itu, balian dan penekun spiritual harus membentengi diri dari ilmu hitam. Sulinggih atau pendeta Hindu punya Aji Rimrim dan Aji Sumedang untuk tolak bala. Sementara balian dan pegiat spiritual biasanya punya pica atau benda bertuah anugerah dari Tuhan, semisal cincin, keris, maupun dalam bentuk lainnya. Satu lagi yang kuingat, jika diganggu leak, maka lekaslah merapal aksara suci Tuhan, “Om” dengan menempelkan ujung lidah di langit-langit mulut.
Ketika teringat pesan itu, aku segera duduk bersila; asana. Juga melakukan pranayama; mengatur pernapasan. Lolongan anjing terus memberi teror. Namun aku harus mampu menguasai pikiran untuk tidak takut. Berulang-ulang kurapal mantra suci dengan sikap asana. Selain pikiran jadi tenang, perasaan pun nyaman. Tak lagi peluh mengucur di seluruh badan. Keadaan terasa mulai normal, meskipun lolongan anjing masih saja meneror. Sekitar 108 kali merapal mantra suci. Angka 108 jika dihitung menjadi angka 9, kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Hyang Maha Esa. Kubuka mata perlahan dengan perasaan nyaman dan tenang.
Kulirik lagi ke arah pohon ketapang. Bojog itu masih setia bergelayut di dahan pohon. Aku tersenyum. Ketakutanku sudah sirna dengan menjalankan petuah yang pernah diberikan guruku, I Gusti Putu Bawa Samar Gantang. Aku lirik jam di dinding, jarum pendek menunjuk angka empat. Artinya ini sudah subuh. Teringat kembali cerita guruku, jika sudah memasuki pagi, leak sudah tak memiliki kesaktian lagi. Ia tak akan berdaya mengganggu manusia. Dalam perasaan tenang, kurebahkan tubuh di kasur. Aku tak peduli lagi dengan kehadiran bojog itu. Lolongan anjing sudah tak terdengar lagi.
*
Aku terbangun dan mendapatkan kamar sudah sepi. Ternyata sudah siang. Cahaya matahari menerobos lewat celah jendela. Celah arah jalan cahaya yang semalam berbaur dengan benturan-benturan nurani melawan ketakutan. Malam yang terasa demikian panjang oleh teror leak. Kulirik pohon ketapang. Kulihat bojog yang muncul tadi malam masih di sana. Sekarang aku benar-benar merasa kasihan melihat bojog itu. Menurut cerita guruku, mereka yang sampai subuh masih menjalani ilmu leak, maka sulit berubah wujud. Ini sudah sering kali terjadi di Bali. Terlena dengan wujud baru, ia lupa hari, jika malam telah berganti pagi. Mereka terancam tak bisa kembali ke wujud asal. Memang, saat siang hari terlihat masih seperti manusia, namun tingkah lakunya mirip ketika jadi siluman. Misal, berubah wujud seperti bojog, jalannya menyerupai kera dan berekor panjang. Cuma ekornya berupa bulang; sabuk terbuat dari kain namun panjang. Biasanya dipakai kaum perempuan saat mengenakan kebaya. Juga dipakai kaum hawa usai persalinan.
Ada perasaan bangga telah mampu mengalahkan leak. Buktinya sampai pagi bojog itu masih bergelayut di dahan pohon. Cerita guru sewaktu aku masih duduk di bangku SMP harus diakui kebenarannya. Sekaligus menguatkan keyakinanku kepada Tuhan Hyang Maha Esa. Dharma selalu menang melawan adharma, atau kebaikan selalu perkasa menandingi kebatilan.
“Maafkan aku, ibu. Tak ada maksud menyakitimu. Merapal mantra sesungguhnya hanya untuk menenangkan diri dan menyingkirkan rasa takut dari teror anjing malam dan perubahan wujudmu. Sama sekali tak ada niat menyakitimu. Apalagi mendoakan agar tak bisa kembali ke wujud aslimu. Sekali lagi, maafkan aku, ibu,” ucapku sembari memandang ke arah bojog itu.
Aku jadi kepikiran Gede Segel. Betapa ia sedih menerima kenyataan pahit hari ini. Ia kerap beban mental karena ibunya sering dipergunjingkan sebagai penekun ilmu hitam yang jahat. Gunjingan tetangga itu berubah jadi fakta menyakitkan, ibunya seperti bojog. Tepatnya telah menjadi bojog yang tidak bisa kembali lagi berubah sebagai manusia biasa.
“De, semoga kau tabah dengan kenyataan ini. Bebanmu pasti bertambah dengan kejadian ini. Apa yang digunjingkan tetangga ternyata benar adanya. Ibumu memang sakti dan suka mengganggu orang. Pagi ini ia mendapatkan karma-nya,” aku bergumam pelan.
Aku bergegas ke luar kamar, menuju kamar mandi. Membasuh muka dengan air bersih. Segar sekali rasanya.
“De, sini ngopi dulu!” suara ibu Gede Segel memanggilku.
Aku tersentak kaget. Meski sudah berubah wujud, namun suaranya masih utuh. Aku jadi penasaran dan bergegas mencari sumber suara itu. Ternyata ibu setengah baya itu tengah duduk sambil ngopi bareng teman-temanku di jineng. Jelas ini bukan mimpi, sebab aku baru saja terbangun dan cuci muka. Lalu siapa yang semalam berubah wujud jadi bojog dan menggangguku hingga aku tak bisa tidur. Jawabannya belum ketemukan. Apakah neneknya Gede Segel? Bukankah neneknya juga terkenal sakti? Bukankah neneknya sudah mati? Atau jangan-jangan kakak perempuan Gede Segel. Bukankah ilmu leak itu bisa menurun ke darah daging tanpa perlu belajar? Oh rupanya, ilmu leak di keluarga Gede Segel telah menggurita. Mengerikan sekali.
“De, kenapa bengong. Ayo lekas gabung, kita ngopi bareng!” seru Putu Konci.
Aku bergegas menuju jineng dengan penuh tanda tanya tentang bojog semalam.
Tabanan, 13 Oktober 2013
Catatan:
Bojog : kera
Leak : ilmu hitam khas Bali. Ilmu perubahan wujud jadi seram
Leteh : kotor
Aji Ugig : ilmu hitam yang diperuntukkan mengganggu atau menebar teror ketakutan
Bale banjar : balai pertemuan masyarakat adat di Bali
BIODATA
I Made Sugianto lahir di Banjar Lodalang, 19 April 1979. Sempat beberapa tahun bekerja di toko kawasan kota Tabanan, sebelum bergabung di Harian Umum Nusa Bali. Sekarang mengabdi di kampung sebagai kepala desa.













