DI NEGERI ini, pendidikan bergerak cepat seperti mesin industri yang tak pernah berhenti. Kurikulum berganti, metode diperbarui, teknologi memenuhi ruang kelas; semuanya mengalir dalam arus percepatan yang meyakinkan kita bahwa perubahan otomatis berarti kemajuan. Namun dalam gegap gempita itu, satu hal justru tertinggal jauh di belakang: jiwa kemanusiaan. Kita berlari mengejar capaian-capaian lahiriah—nilai, ranking, sertifikat—seraya lupa bahwa anak-anak bukan mesin produksi pengetahuan, melainkan manusia-manusia kecil yang sedang tumbuh mencari makna.
Warisan filsafat progresivisme pragmatis telah lama menanamkan gagasan bahwa keberhasilan pendidikan adalah sesuatu yang dapat dilihat, diukur, dan dilaporkan. Kita menilai kecerdasan dari angka-angka, bukan dari kedalaman penghayatan. Tetapi pendidikan yang hanya mengajarkan cara berpikir tanpa menuntun cara menjadi manusia pada akhirnya melahirkan generasi yang terasing dari dirinya sendiri. Itulah generasi yang cerdas tetapi kehilangan kompas moral; generasi yang mampu memecahkan persoalan matematis tetapi gagal memecahkan persoalan batinnya sendiri. Bahkan pada titik ekstrim, alienasi itu dapat bermuara pada tindakan-tindakan yang jauh dari nurani: murid yang merakit bom dan meledakkan sekolahnya, siswa yang membully temannya, atau perundungan yang mengakar hingga menjadi budaya. Semua ini bermula dari sebuah pertanyaan sederhana yang tak pernah dijawab sekolah: bukan apa yang harus kamu capai, tetapi siapa sebenarnya dirimu.
Kita perlu arah balik. Pendidikan harus kembali pada humanisme dan perenialisme—menempatkan manusia sebagai pusat, bukan sebagai instrumen. Belajar bukan sekadar untuk hidup, tetapi untuk memahami makna hidup. Guru bukan sekadar pengajar kurikulum, tetapi penuntun jiwa, penjaga cahaya fitrah yang menerangi perjalanan seorang anak. John Dewey pernah mengingatkan bahwa pendidikan sejati adalah kehidupan itu sendiri, bukan persiapan menuju kehidupan. Sementara itu, Leo Tolstoy berkata, “Tujuan akhir pendidikan adalah kebebasan.” Dalam konteks kita hari ini, barangkali kebebasan itu bukan lagi tentang merdeka berpikir, tetapi merdeka menemukan diri—agar manusia tidak kehilangan hakikatnya.
Pada titik ini, perjumpaan saya dengan seorang tokoh pendidikan, ketika saya diundang Direktorat SMA di Jakarta dalam sebuah acara, menjadi hikmah yang memantik kesadaran baru. Ia berkata bahwa pendidikan yang baik bukan hanya membangun kompetensi, tetapi memulihkan kemanusiaan. Di tengah kesibukan sekolah yang padat, ia mengingatkan bahwa guru yang diberi ruang untuk berkembang akan kembali ke kelas dengan hati yang lebih lapang. Namun realitas di lapangan seringkali berbeda. Ketika guru ditugaskan untuk dinas luar selama satu atau dua hari, sebagian pihak menganggapnya sebagai bentuk kelalaian. Padahal dengan teknologi e-learning, pembelajaran jarak jauh justru semakin memungkinkan. Guru dapat tetap membimbing meski tidak hadir fisik di kelas. Maka seyogianya kepala sekolah tidak perlu risau atau melarang guru mengikuti bimtek, workshop, atau menjadi pemateri di lembaga lain. Pengembangan diri guru bukanlah kemewahan, tetapi kebutuhan fundamental agar pendidikan tetap relevan.
Jika kita menoleh ke Finlandia—negara yang kerap dikagumi karena keberhasilan pendidikannya—kita menemukan prinsip yang konsisten: memperlakukan guru sebagai profesional dengan kepercayaan penuh. Di sana, jam belajar siswa tidak panjang, rata-rata enam jam per hari. Ada ruang besar untuk tumbuh, bermain, berinteraksi, dan mengembangkan diri. Pendidikan dibangun di atas kepercayaan, bukan kontrol. Di Cina, sekolah bahkan menyediakan waktu tidur siang bagi murid karena mereka memahami bahwa tubuh dan pikiran yang lelah tidak mungkin belajar dengan optimal. Sementara itu di Indonesia, jam sekolah bisa mencapai delapan setengah jam, dari pukul 06.45 hingga 15.15. Anak-anak kita menghabiskan sebagian besar hidup mereka di sekolah, nyaris tanpa waktu untuk bertemu diri sendiri.
Karena itu, ketika guru menjalankan dinas luar dan siswa mendapatkan penugasan jarak jauh yang dapat dikerjakan dengan santai di kelas, itu bukan tanda kemunduran pembelajaran. Justru fleksibilitas semacam itu mungkin menjadi jeda yang dibutuhkan siswa. Dalam momen demikian, mereka bisa berdiskusi, bersosialisasi, atau belajar mengelola waktu secara mandiri. Kita sering lupa bahwa manusia belajar tidak hanya dari ceramah guru, tetapi juga dari percakapan antar teman sebaya. Bahkan filsuf Martin Buber menulis, “Manusia menjadi manusia melalui relasi dengan manusia lainnya.” Pendidikan yang terlalu ketat justru menghapus kemungkinan relasi-relasi insani yang membentuk kemanusiaan itu sendiri.
Teknologi seharusnya memudahkan hidup, bukan mempersempit ruang gerak manusia. Kehadiran robot atau kecerdasan buatan bukan alasan untuk membuat manusia bekerja lebih keras, lebih panjang, atau lebih mekanis. Sebaliknya, pekerjaan mesin biarlah dikerjakan oleh mesin, agar manusia dapat kembali menjadi manusia—punya waktu untuk keluarga, bertemu saudara, menghayati hidup. Produktivitas bukan berarti tekanan tanpa henti; ia adalah hasil dari kerja yang efektif dan efisien, bukan kerja yang melelahkan tubuh dan mematikan jiwa.
Guru pun bukan robot. Mereka memerlukan ruang bernapas. Ketika guru bahagia dan dihargai, mereka mengajar dengan cinta. Ketika mereka diberikan kepercayaan, mereka memberikan kembali kepercayaan itu kepada murid-muridnya dalam bentuk pembelajaran yang lebih manusiawi. Maka di zaman modern seperti hari ini, kepala sekolah yang humanis sangat dibutuhkan. Pimpinan yang memahami bahwa guru dan murid tidak harus diforsir waktunya hanya untuk urusan sekolah. Pimpinan yang membuka ruang dialog, bukan mempertahankan hierarki. Pimpinan yang mendorong diferensiasi, bukan menyeragamkan. Karena manusia tidak bisa diperlakukan seperti mesin atau robot, dan setiap sekolah memiliki konteks yang berbeda: sekolah desa berbeda dengan sekolah kota.
Akhirnya, esai ini mengajukan satu gagasan mendasar: pendidikan harus menjadi ruang tempat manusia bertumbuh sebagai manusia. Sekolah tidak boleh menjadi tempat hukuman, tempat memupuk tekanan, atau tempat di mana murid kehilangan dirinya. Pendidikan adalah upaya kolektif untuk menyelamatkan manusia dari keterasingan dalam dirinya sendiri.
Pertanyaannya kini: apakah kita berani mengembalikan ruh kemanusiaan itu ke ruang-ruang belajar? Apakah kita mampu berhenti sejenak dari kecepatan sistem untuk mendengar suara anak-anak yang ingin menjadi manusia utuh? Apakah kita siap, sebagai pendidik dan pemimpin, untuk menumbuhkan sekolah-sekolah yang menyembuhkan, bukan menyakiti; yang membebaskan, bukan membelenggu?
Pada akhirnya, mungkin tugas terbesar pendidikan hari ini bukan mencetak manusia pintar, tetapi memastikan bahwa manusia tidak kehilangan dirinya. Dan apakah itu bukan tugas paling manusiawi yang bisa kita tunaikan. (*)
*Fileski Walidha Tanjung adalah seorang pendidik kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen di berbagai media nasional. Buku terbarunya berjudul “Diksi Emas”.













