Ingatan
Masih kuingat retak bibirmu di punggung waktu
Segaris gelap di langit tubuhmu
Menjelma sayap menerbangkan engkau ke otakku
Serupa api yang tak kunjung padam
Menawarkan percik-percik kasihmu yang tiada pernah menghantam
Dalam sujudku wujud mutlakmu berpentalan
Sering kali berlari-lari menampik berulang-ulang
Reguler, 25
Langit Malam
Senja bertukar malam
Lengkung bulan dalam separuh nafas rindu
Terkoyak-koyak akan sayup nyanyian waktu
Mendayung sepanjang percakapan kita
Hangat dalam palung kata-kata
Sedang sunyi kita menepi
Akan bintang-bintang ingin terbaring
Dimata kita menyala-nyala
Masihkah kau kehendaki
Gulungan bulan akan kau bawa lari.
Reguler, 25
Secangkir Kopi Pagi
Pagi ini waktu masih ku sapa pada celup kopi
Bersinar dari balik mata berlampu matahari
Orang-orang terlihat beranjak dalam mimpinya
Meskipun sebenarnya tubuh nanti akan membeku
Pada hangatnya kopi sekental rindu
Kau buka dengan seduhan kopi
Agar pagi ini senantiasa berkobar-kobar
Dalam pahitnya ampas kopi.
Reguler, 25
Di Ruang Ini
Ruang penuh teka-teki
Yang harus kami pecahi
Dengan setumpuk buku-buku
Berjejeran rapi di rak-rak kami
Tuk menapaki mimpi di esok hari.
Reguler, 25
Kepada Ayah
: untuk hs
Kepadamu aku curahkan do’a pada tuhan
Atas harapanku takdir bisa mengukir
Akan segala perjuangan yang menjadi penyembuh lara
Dari pahitnya musim getir.
Reguler, 25
Bersama Puisi
Bersama puisi
Seperti bermeditasi di lautan diksi
Sambil menyetubuhi puisi dengan rasa sepi
Perlahan lahan mengukir kenangan diri.
Perpustakaan, 25
BIODATA
Saiful Bahri berasal dari Montorna Pasongsongan Sumenep, santri PPA. Lubangsa Utara. Sekarang sedang mencari jati dirinya di Laskar Pena Lubtara dan Pengurus Perpustakaan Lubtara. Beberapa puisinya nangkring di beberapa media cetak dan online.













