JELAS ini bukan salahku. pemecatan Dian sebagai kepala HRD di perusahan ini semata-mata karena kesalahannya. Dia tidak mengikuti aturan yang Aku tetapkan. Bukankah sebagai pemimpin di perusahaan ini Aku memiliki wewenang yang mutlak. Bukankah pemimpin harus diikuti. Tuhan pun memerintahkan begitu, kan? Mengapa harus ada protes yang menjadi-jadi. Prosesnya sudah jelas. Aku adalah pemimpin dan semua yang ada di bawahku adalah bawahan yang harus manut, nurut, taat kepadaku. Semenjak Aku kecil, Guruku selalu mengatakan bahwa kita harus mengikuti perintah Tuhan, Nabi, dan pemimpin. Nah, Aku adalah pemimpin di perusahaan ini. Dengan begitu, siapa saja yang tidak mengikuti perintah dan aturan yang kutetapkan sesungguhnya dia telah melanggar perintah Tuhan dan Nabi. Begitu kan?
Dian memang sudah lama bekerja di perusahaan ini, setidaknya sejak almarhum ayahku yang memimpin perusahaan. Dian adalah karyawan senior, bahkan tidak ada yang lebih senior dibandingkannya. Namun, apalah artinya senior apabila melawan pemimpinnya. Buat apa? Da toh dia akan menyesal juga akhirnya. Apakah dia tidak ingat apa yang disampaikan Ustaz Ridwan yang sengaja didatangkan perusahaan dalam rangka syukuran perusahaan saat mendapatkan laba sangat besar tahun ini. Bukankah Ustaz Ridwan mengatakan bahwa “Pemimpin harus diikuti dan dituruti karena dia menjadi perantara rezeki kalian dari Tuhan.” Bukankah mendatangkan Ustaz adalah bagian dari amar makruf nahi munkar yang Aku terapkan di perusahaan ini. Orang yang tidak mengikuti perintahku sungguh merupakan golongan orang-orang yang sesat lagi merugi.
Sebagai kepala HRD di perusahaan, Dian memang bekerja dengan cukup baik. SDM di perusahaan ini berkembang dengan begitu baik. Dian menetapkan standar yang ketat dalam rekrutmen karyawan, melakukan pelatihan, pengembangan, sampai pada membina hubungan kerja di perusahaan dengan baik. Selain itu, Dian juga dapat mendorong kinerja karyawan dan memastikan kepatuhan terhadap peraturan perusahaan. Tapi, semua yang dilakukannya menjadi tidak berarti apa-apa karena dia sendiri bersikap dan bertindak menjadi seorang munafik “Masa menyuruh orang patuh dianya sendiri membangkang.” Apalagi membangkang kepadaku. “Ah, sudah tidak tahu diri orang itu.”
Mungkin, Dian sebagai karyawan senior lupa kalau Aku adalah keturunan orang suci, ayahku dari ayah dari ayah dari ayahku adalah orang suci. Kalau ditarik garis keturunan beberapa ratus tahun lagi maka akan ketahuan bahwa Aku adalah keturunan Sahabat Nabi. Keturunan orang suci yang bersanding dengan Kekasih Tuhan. Andaikan saja Dian memahami itu, mungkin dia tidak akan berani melawan perintahku. Tapi, ya sudahlah. Dian memang tidak tahu diri. Tidak tahu diuntung.
Setelah pemecatan Dian Mulyanto dari kepala HRD, ada semacam gelombang ketidakpercayaan kepadaku dari beberapa karyawan yang mengidolakan Dian. “Ah, omong kosong. Mana ada orang yang mengidolakan orang yang tidak taat kepada pemimpin.” Aku sangat yakin bahwa apa yang Aku lakukan sudah sesuai rel perusahaan dan rel kebaikan di dunia dan akhirat.
Aku tidak bisa melihat bagaimana anak buah yang tidak taat kepada pemimpin dapat hidup bahagia. Mereka tentu akan sengsara. Akan dilaknat di dunia dan tentu akan sengsara dia akhirat. Kalian harus tahu bahwa “Ketaatan kepada pemimpin adalah jalan menuju Surga. Mereka yang menolak tunduk sesungguhnya sedang melawan titah Tuhan.” Begitu Aku selalu menyampaikan keyakinanku kepada seluruh orang yang bekerja di perusahaan ini, tanpa kecuali. Semua orang harus memahami bahwa pemimpin sudah digariskan Tuhan untuk membawa semua orang di bawahnya menuju kebahagiaan dan kemuliaan.
Pagi ini seperti biasa, sebelum melaksanakan kegiatan di perusahaan Aku akan mengadakan “briefing jasmani dan rohani” hal ini penting karena Aku harus memastikan seluruh karyawan, tanpa terkecuali, memiliki kesehatan jasmani dan rohani secara prima. Bukankah, Nabi juga mengatakan “Bahwasannya dalam tubuh yang sehat itu terdapat jiwa yang kuat”. Tidak ada yang salah dengan kebijakan briefing yang selalu Aku lakukan ini. Aku adalah orang paling taat terhadap ajaran agama di perusahaan ini. Mungkin tidak berlebihan jika Aku mengharapkan balasan Surga dari apa yang sudah Aku lakukan untuk perusahaan ini dan tentu saja untuk seluruh karyawan dan keluarga mereka. Jangan lupa, Aku adalah perantara Tuhan atas rezeki untuk mereka semua. Di akhir briefing, Aku selalu menekankan pentingnya berdoa agar perusahaan tetap diberikan kemakmuran dan keluasan rezeki. Bukankah kehidupan karyawan di perusahaan ini berada di dalam tanganku. Dalam wewenangku.
Aku melihat mata yang berbinar-binar di mata para karyawan yang sekarang sudah mulai saleh. Mereka mengangguk dan kadang meneteskan air mata. Aku sangat yakin kalau kebijakan yang sedang Aku terapkan telah menyentuh kalbu para karyawanku dengan sangat dalam. “Aku akan masuk Surga,” gumamku. Wahai Tuhan, Aku melakukan semua ini atas nama-Mu dan demi agama-Mu
***
“Pak, Maaf ada beberapa laporan pajak yang tidak sesuai yang harus direvisi, Pak” ujar Dian Mulyanto suatu siang di depanku.
“Apa ada yang keliru, Pak Dian?” jawabku ketus.
“Betul, Pak” jawab Dian.
“Coba jelaskan, kelirunya di mana?” dengan nadaku yang agak meninggi.
“Pada laporan tahun ini, perusahan belum melaporkan SPT, PPh, dan PPN, Pak? Jadi, perusahan akan dianggap melanggar ketentuan Pasal 39 dan Undang-Undang nomor 11 tahun 2020 tentang cipta kerja.” Dian menjelaskan.
“Jadi, perusahaan harus bagaimana menurut Kau, Bapak Dian Mulyanto, S.Ak., M.M.?” jawabku menahan amarah sambil sengaja kuberikan penekanan pada kata “Kau” dan namanya.
“Laporan pajak harus direvisi Pak, karena ada dana yang harus dibayarkan sekitar Rp 2.639.670.983,” tuturnya.
“Baik, Pak Dian Mulyanto yang sangat keminter. Begini, Anda tahu tidak, apa yang Aku lakukan ini adalah untuk kesejahteraan karyawan. Apa yang Aku lakukan sudah digariskan dalam tuntunan agama dan ajaran Nabi. Jadi, biarlah laporannya seperti itu. Kalau Anda tidak setuju, berarti Anda tengah berada pada jalan yang salah sesalah-salahnya.” Ujarku dengan nada sangat tinggi. “Dan, orang yang berada di jalan itu adalah orang yang rendah, serendah-rendahnya. Asfala safilin.” Aku menatap Dian Mulyanto dengan sangat tajam.
Dian Mulyanto, hanya terdiam saja. Hampir 30 menit Aku memberikan nasihat dan wejangan kepada orang yang sok pintar itu. Dia hanya diam, mematung. Aku tidak berlaku zalim kepadanya. Aku hanya melakukan tugasku sebagai pemimpin, yakni mengarahkan bawahan yang keliru yang salah yang kesasar.
Sampai pada suatu pagi, Subagja Mulyanto, anak dari Dian Mulyanto, menghadap ke ruanganku dengan wajah yang memerah. Kemungkinan dia sedang menahan amarah yang besar. Dia mengaku, bahwa ayahnya telah diintimidasi dan diteror oleh Hasan, pengawal pribadi yang selalu menjaga keamanan dan keselamatanku. Hasan mantan tentara yang kini mengabdi padaku. Perawakan dan badan dia sangat besar, matanya bulat dan besar, kumis dan janggutnya tebal. Dia pengawal setia yang sangat setia.
Berdasarkan penuturan Subagja, Hasan menemui Dian Mulyanto setelah pertemuanku dengannya tempo hari dan langsung menamparnya. “Kamu, karyawan senior yang kekanak-kanakan.” Plak! tangan besar Hasan mendarat di pipi Dian sampai merah. Dian Mulyanto terhuyung hampir pingsan. “Jangan coba-coba berkhianat kepada pemimpin kita, Pak. Plak! Plak!” Dua pukulan mendarat lagi di pipi sebelahnya. Setelah itu, Hasan pergi. Dian Mulyanto, karyawan paruh baya itu, terhuyung, mata berkunang-kunang, gelap, dan ambruk. Tidak sadarkan diri.
Tentu Aku menolak bahwa yang dilakukan Hasan adalah perintahku. Walaupun begitu, Aku tidak menyalahkan Hasan. Justru yang Aku salahkan adalah Dian Mulyanto, karyawan yang tidak tahu diri yang berani melawan pemimpinnya. Hasan adalah contoh bawahan yang baik. Dialah sebaik-baiknya contoh, uswatun hasanah, teladan yang baik, dalam membela dan patuh kepada pemimpinnya.
Aku ceritakan itu semua kepada Pak Heru, polisi yang membuat BAP di Polres Kota D dengan berapi-api. Semua pertanyaan yang diajukannya Aku jawab dengan sungguh-sungguh dan jelas tidak ada keraguan sama sekali padaku. Aku tetap berkeyakinan bahwa pemimpin itu harus diikuti karena perintahnya adalah titah dari langit. Bukankah Tuhan memerintahkan kita untuk taat kepada Tuhan, Nabi, dan pemimpin?
BIODATA
HERI ISNAINI lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Pernah mengikuti acara “Temu Penyair Asia Tenggara 2018” di Padang Panjang, Sumatera Barat, mengikuti Festival Seni Multatuli 6-9 September 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Puisi-puisinya juga pernah dimuat pada Jurnal Aksara, Deakin University, Australia. Cerpennya pernah dimuat pada koran Radar Banyuwangi, Radar Kediri, dan Harian Rakyat Sultra. Kegiatan sehari-harinya adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi Cimahi.













