BADUNG, Balipolitika.com- Tua-tua keladi, mantan Kepala Bapenda Badung, I Made Sutama, S.H., M.H. makin bersinar di masa senjanya.
Tak hanya mengemban amanah sebagai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Badung dan Komisisaris Bank BPD Bali pasca pensiun sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) alias PNS, kini I Made Sutama dipastikan akan menambah kesibukannya sebagai Bendesa Adat Pecatu masa bakti 2026–2031.
Ia resmi terpilih sebagai Bendesa Adat Pecatu periode 2026–2031 setelah meraih 926 suara dalam pasuaran krama yang digelar di Wantilan Murda Ulangun, Desa Adat Pecatu, Minggu, 26 Juli 2026.
I Made Sutama mengungguli I Ketut Giriarta yang memperoleh 688 suara dan I Nyoman Mahardika dengan 266 suara dengan sembilan suara tidak sah.
Sambil menunggu upacara mejaya-jaya bendesa terpilih yang rencananya digelar 29 Agustus 2026, bendesa terpilih mulai menggodok susunan prajuru dan program kerja kedepan.
Ketua Panitia Ngadegang Bendesa Adat Pecatu, I Made Tomy Martana Putra menyampaikan, pelaksanaan pemilihan Bendesa Adat Pecatu periode 2026–2031 berlangsung aman, tertib, dan kondusif.
Dari hasil penghitungan suara, I Made Sutama memperoleh 926 suara, disusul I Ketut Giriarta dengan 688 suara, I Nyoman Mahardika meraih 266 suara, serta terdapat sembilan suara tidak sah.
“Sebelumnya kami sudah mengupayakan musyawarah untuk mencapai mufakat, tetapi karena belum tercapai kesepakatan, mekanisme dilanjutkan melalui pasuaran krama atau voting. Pemungutan suara berlangsung dari pukul 09.00 hingga 14.00 Wita di Wantilan Murda Ulangun, Desa Pecatu,” terangnya, Senin, 27 Juli 2026.
Menurut Tomy, seluruh rangkaian pemilihan berjalan sesuai harapan dengan suasana guyub dan penuh kedewasaan dalam berdemokrasi. Ia mengapresiasi seluruh krama adat yang menjaga situasi tetap harmonis selama proses berlangsung.
Usai pemungutan suara, panitia langsung menetapkan hasil pemilihan. Namun, sesuai mekanisme, masih diberikan waktu bagi para calon apabila ingin mengajukan keberatan atau perselisihan hasil.
Namun hal itu diperkirakan tidak terjadi mengingat setiap saksi pasangan calon sudah menyaksikan proses penghitungan serta menandatangani berita acara.
Tomy menjelaskan, dalam waktu sekitar tujuh hari ke depan panitia akan mengatur tahapan berikutnya menuju pelantikan yang diperkirakan berlangsung pada awal Agustus 2026.
Selanjutnya, prosesi mejaya-jaya dan ngadegang Bendesa Adat dijadwalkan pada 29 Agustus 2026. Pada momentum tersebut juga akan dilakukan pengukuhan prajuru Desa Adat Pecatu setelah Bendesa Adat terpilih menyusun jajaran kepengurusannya.
“Inilah hasil yang telah dipilih krama. Kemenangan ini adalah kemenangan bersama. Mari bergandengan tangan dan bersatu membangun Desa Adat Pecatu yang lebih baik,” pungkasnya.
Terpisah, Bendesa Adat Pecatu terpilih, Made Sutama mengaku semula tidak memiliki keinginan untuk maju dalam pemilihan Bendesa Adat Pecatu.
Bahkan di tengah proses pencalonan, ia sempat meminta agar masyarakat memilih calon lain.
Namun, dorongan yang kuat dari kerama Banjar Adat Tengah Pecatu yang telah lama menginginkannya maju sebagai bendesa, membuatnya akhirnya bersedia maju. Ia bersyukur seluruh tahapan pemilihan berlangsung dengan baik, damai, dan hubungan antarkandidat tetap harmonis.
“Ngadegang sudah berjalan bagus, tenang, hubungan antarcalon juga baik, panitia yang bertugas juga bekerja dengan baik. Semua saling menghormati,” ujar I Made Sutama.
I Made Sutama menegaskan, momentum Ngadegang Bendesa Adat Pecatu bukan sekadar memilih pemimpin baru, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya berdemokrasi secara santun.
Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar dan tidak seharusnya memicu perpecahan. “Kami ingin memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa persaingan tidak harus diwarnai gontok-gontokan. Yang harus ditonjolkan adalah program, gagasan, dan kiprah nyata dalam mengabdi kepada masyarakat. Setelah pemilihan selesai, tidak ada lagi kubu-kubuan, yang ada adalah kebersamaan untuk membangun Desa Adat Pecatu,” tegasnya.
Lazimnya, pemilihan kelian adat memang mengedepankan musyawarah dan mufakat.
Namun karena belum tercapai kesepakatan, proses akhirnya dilanjutkan melalui pasuaran krama atau pemungutan suara.
Setelah selesai pemilihan, ia mengaku juga telah menyampaikan kepada para pendukung bahwa yang menang bukan dirinya secara pribadi, tetapi Desa Adat Pecatu yang telah berhasil melahirkan bendesa baru untuk melanjutkan estafet kepemimpinan menggantikan Made Sumertha yang masa tugasnya telah berakhir.
I Made Sutama pun mengajak seluruh krama kembali bersatu setelah pemilihan usai. Menurutnya, tidak ada lagi sekat pendukung maupun perbedaan pilihan.
Fokus ke depan adalah membangun Desa Adat Pecatu secara bersama-sama.
Ia juga berencana memperkuat tata kelola organisasi, termasuk menyusun pakta integritas bagi jajaran prajuru sebagai bentuk komitmen terhadap amanah yang diemban.
“Sekarang semua sudah selesai, mari bersatu membangun Desa Adat Pecatu. Selanjutnya kami akan menyusun struktur, membangun komunikasi, menyerap aspirasi, termasuk menyusun pakta integritas sebagai bentuk komitmen dalam menjalankan tugas,” tegas I Made Sutama. (bp/ken)













