MONUMEN BOM BALI
Apakah Tuhan menangis atau tertawa
Ketika anak Tuhan membunuh anak Tuhan lainnya dengan mengatasnamakan Tuhan
Ini musim panas lebih panas dari biasanya
Udara panas mengapung di kelopak mata
Suatu malam,
Mereka meledakkan surga yang tersisa di bumi
Lagu-lagu tenggelam dalam suara runtuhan gedung
Kepingan-kepingan nama berhamburan memenuhi jalan raya
Darah berceceran seperti tumpahan anggur dari seorang pemabuk
Mereka berteriak gembira
“Tuhan Maha Besar”
Udara panas membakar kata-kata
Dunia menjadi sepi
Tanpa Bahasa yang dimengerti
DIMANAKAH HARI ESOK
Dia selalu berjanji
Hari esok yang baik
Sambil menuangkan anggur ke dalam gelas kaca
Gelak tawa membuncah ke udara
Dia bernyanyi dengan nada tinggi
Suaranya memecah sudut kegelapan
Hari esok yang baik
Hari esok penuh harapan
Mereka berteriak dan menari dengan riang
Tapi hari ini terasa sangat berat
Dapatkah kutemukan hari esok?
AIR MATA BADUT
Bahkan di terik panas ini
Air mataku
Masih menjadi beban
Ia tak mau pergi menguap
Bebas bersama udara
Jauh ke langit biru
Ia tak mau lenyap
Ketika aku tak ingin melihatnya
Aku ingin hidupku penuh ceria
Seperti peran yang selalu aku mainkan
Aku ingin selalu bahagia
Penuh gelak tawa
Seperti anak-anak yang terbahak-bahak melihat aku menari
Tapi air mata ini masih setia melekat di pipi
Menjadi noda dalam hidupku
Aku muak melihat air mataku sendiri
Karena ia cermin yang suram
Karena ia duka yang muram
Dalam melewati hari-hari
Yang tak ingin kuingat
COVID 19
Kita akan tetap di sini, sayang
Duduk-duduk
Dalam rumah
Sembari menikmati lagu
Dan lembar-lembar buku
Jangan pedulikan sesuatu yang ada di luar
Abaikan suara sirene meraung-raung
mengantar kematian
Abaikan imbauan ini itu
Abaikan semua yang tidak jelas
Jangan biarkan pikiran bertambah cemas
Kita tetap di sini
Dalam rumah
Sekalipun kupu-kupu bertengkar dengan lebah berebut mawar di halaman
Biarkan saja semua. Biarkan
Selebaran keberangkatan untuk wisata itu dibuang saja
Karena kita tak akan kemana-mana
Dunia dalam keadaan tidak baik
Dunia tengah berduka
Meninggalkan rasa takut
Melihat kehancuran kehidupan
Kini, tak ada yang lebih penting
Daripada berdiam diri dalam rumah, sayang
Biarkan Jalan-jalan sepi
Dipenuhi pohon duka cita
PESAN DARI KEMATIAN
Aku akan mati. Kita semua akan mati
Jika sedikit beruntung, ada sedikit tangis untuk kami
Musim panas akan berganti musim hujan
Kemudian musim hujan berganti musim panas
Orang-orang lalu-lalang
Berjuang mempertahankan hidup
Dan mereka mulai melupakan kami
Mereka bilang hidup bukan untuk sebuah kenangan
Tapi untuk masa depan
Dan kami akan sendiri
tanpa nyanyi burung
tanpa langit biru
berjalan dalam dunia sunyi
Dengan karma yang membebani pundak
WARUNG DOA
Suatu ketika: dimana hal-hal yang praktis lebih disukai daripada makna
Hidup tidak dapat diramalkan
Jalan kematian tidak tahu kemana arahnya
Maka segala sesuatu harus dibuat dengan kemudahan
Adat seperti penderita gula dengan luka borok di kakinya
Takkan pernah bisa mengejar perubahan jaman
Terlalu lemah dan juga terlalu lambat
Warung doa itu kemudian tumbuh dengan daftar menu
ragam upacara
dari sejak dalam kandungan hingga kematian
Bertulis huruf kuning keemasan
Seakan menguliti dengan kejam kekuasaan para dewa
Kini bekerjalah dengan tenang
Takkan ada lagi seseorang ditelantarkan
Hanya karena di tempat kerja kau tak mendapat ijin, sedangkan cutimu telah habis
Kini berpikirlah dengan tenang
Tak usah risau akan biaya dan tempat
Segala sesuatunya tersedia
Tinggal pilih sesuai kemampuanmu
Bahkan waktu bisa kau tentukan sendiri
Karena setiap hari adalah hari baik
Kini hiduplah dengan tenang
Karena semua ini adalah pilihan
Dalam dunia yang kontradiktif
HIDUP
Apakah pohon akan cemas kepada daun-daunnya ketika angin kencang berhembus?
Apakah hujan percaya pelangi akan muncul setelah ia selesai melaksanakan tugasnya?
Waktu seperti sungai yang mengalir
Tak pernah paham apa yang terjadi dalam arusnya
Tetiba ia telah sampai di muara
Dengan usia senja
Mata yang mulai tak jelas melihat
Dan pikiran yang penuh penyesalan
Karena banyak kesempatan untuk menikmati kesegaran setiap tetes air ia abaikan
Ingin ia mengulang namun tak ada jalan kembali
Di hadapannya adalah samudera, sesuatu yang penuh dengan rahasia
Apakah dingin?
Apakah gelap?
Gelombang raksasa siap menerkam
Menyeret nyawa ke dalam kehampaan
Tubuh-tubuh berubah menjadi air
Menguap menjadi awan
Ditiup perlahan melewati lembah dan gunung
Jatuh seperti hujan di hulu
Dan
Awal kehidupan baru telah dimulai
Mengalir kembali dalam sungai waktu
Apakah ada sesuatu yang dicemaskan hingga hidup tiba di muara?
BIODATA
STHIRAPRANA DUARSA lahir di Denpasar. Buku kumpulan puisi tunggal yang telah diterbitkan adalah Bagian Dari Dunia (1994), Pulang Kampung (2008), Autobiografi Kejahatan (2019) dan Puisi-Puisi yang Ditulis Karena Cinta (2023). Selain itu beberapa puisinya juga tersebar di beberapa antologi bersama













