LENTERA minyak di setang sepeda jengki Baskara mati tepat ketika kabut tebal naik dari bibir Rawa Pening. Pukul sebelas malam, dan aspal ujung jalan Ambarawa yang biasanya mulus mendadak berganti menjadi jajaran tegel batu hitam yang lembap oleh lumut. Baskara turun, menuntun sepedanya melewati gapura kembar yang tidak pernah ada dalam peta kabupaten. Di atas kepalanya, bulan bulat sempurna memancarkan cahaya perak yang dingin, menembus kabut dan menyingkap deretan bangunan tua dengan jendela-jendela jalujur kayu yang tinggi.
Kota ini kembali kelihatan, persis seperti desas-desus yang didengarnya dari para kuli angkut pasar seminggu lalu: sebuah tempat senyap yang hanya menampakkan wujudnya setiap kali bulan mencapai purnama penuh.
Baskara bukan pemburu harta karun atau pengumpul barang antik. Pemuda berusia dua puluh empat tahun itu hidup dari cerita—ia bertahan di tengah kejamnya dunia luar dengan mendengarkan kisah orang lain. Fisiknya ringkih, jantungnya lemah sejak lahir, dan dokter puskesmas kecamatan sudah lama angkat tangan. Sejak kecil, tubuh Baskara menolak makanan padat; ia hidup, tumbuh, dan mempertahankan detak nadinya murni dari cerita-cerita yang ia dengar dari mulut manusia lain. Setiap kisah cinta yang tulus, dongeng pengantar tidur yang hangat, bahkan ratapan duka seorang janda di pinggir kuburan, adalah tenaga nyata yang membuat darahnya tetap mengalir di dalam urat.
Ia menghentikan sepedanya di depan sebuah kedai kopi tanpa papan nama. Pintu kayunya terbuka setengah, mengeluarkan aroma cengkeh dan bubuk kopi tubruk yang pekat ke udara malam.
Baskara melangkah masuk, duduk di atas kursi rotan sudut ruangan yang menghadap langsung ke arah jalan batu. Di dalam kedai, belasan orang berpakaian kain drill lusuh duduk mematung dengan pandangan mata yang jernih namun kosong. Mereka tidak mengunyah makanan, tidak pula meminum kopi dari cangkir-cangkir seng di atas meja. Mereka hanya menggerakkan bibir, membisikkan baris demi baris kalimat ke udara ruangan yang pengap.
“Kamu datang terlalu larut, Bas. Purnamanya sudah lewat puncaknya,” sebuah suara perempuan dari balik meja kasir memutus keheningan.
Perempuan itu bernama Nisa, mengenakan kebaya katun motif bunga jarik yang warnanya telah lumat oleh waktu. Ia meletakkan selembar kertas buram kosong di depan Baskara, lalu menyodorkan sebatang pensil pendek yang ujungnya sudah tumpul.
Baskara tidak memesan minuman. Ia memejamkan mata, membuka lebar-lebar indra pendengarannya, membiarkan dadanya yang semula sesak mendadak dialiri udara segar yang hangat. Suara bisikan dari orang-orang di sekelilingnya mulai merembes masuk ke dalam kepalanya laksana aliran air sumur yang meluap.
“…perahu suamiku pecah dihantam badai di laut selatan, jangan tunggu dia di dermaga lagi…” sebuah suara parau pria tua terdengar bergetar dari meja sebelah kiri.
“…surat pengosongan rumah itu palsu, kita harus bertahan di bawah pohon kersen…” sela suara anak kecil dari barisan bangku belakang.
Setiap kali baris kalimat itu selesai didengar oleh Baskara, jemarinya yang kaku mulai bergerak lincah di atas kertas buram, menuliskan huruf demi huruf untuk mengumpulkan ingatan orang-orang kota mati ini. Baskara bisa merasakan denyut nadinya kembali menguat, rasa linu di lutut kirinya lenyap, dan kehangatan hidup kembali memenuhi dadanya. Orang-orang di dalam kota ini adalah sisa-sisa jiwa yang kisahnya telah hilang oleh bisingnya kehidupan modern di luar sana; mereka hanya bisa muncul untuk menceritakan kembali sejarah mereka yang hilang kepada Baskara, satu-satunya manusia yang bersedia hidup sebagai wadah bagi ingatan mereka.
“Aksi pembongkaran benteng lama di bawah kota besok fajar akan menghapus sisa dinding tempat kami menyimpan nama, Bas,” bisik Nisa pelan, matanya menatap lurus ke arah jalan batu luar yang mulai tertutup kabut tipis seiring bergesernya posisi bulan di langit barat. “Mulai besok malam, tidak akan ada lagi tempat bagi kami untuk mengetuk ingatanmu.”
Baskara menghentikan goresan pensilnya. Rahang pemuda itu mengatup rapat, menatap lembar kertasnya yang kini sudah dipenuhi ratusan baris kisah bisu.
Alasan dari seluruh cara hidup ganjil yang mengunci umurnya selama belasan tahun ini akhirnya terjawab utuh melalui selembar foto lama yang tergeletak di dasar laci meja kasir Nisa pada detik itu juga. Baskara melangkah mendekat, memungut kertas foto yang tepiannya sudah robek digigit lembap tersebut dengan jemari yang gemetar hebat.
Di dalam foto hitam putih tertanggal tiga puluh tahun lalu itu, tidak ada gambar pemandangan kota tua Ambarawa atau potret kedai kopi yang ramai. Foto itu menampilkan sosok dirinya sendiri saat masih bayi, sedang digendong oleh seorang perempuan berkebaya jarik di depan sebuah rumah sakit bersalin yang runtuh akibat gempa bumi besar. Di sudut bawah foto, tertera sebaris surat keterangan resmi dari dinas kesehatan yang menyatakan bahwa bayi laki-laki bernama Baskara telah dinyatakan meninggal dunia akibat gagal napas tiga puluh menit setelah dilahirkan.
Baskara tidak pernah benar-benar hidup sebagai manusia nyata di dunia luar, dan ia tidak sedang menderita sakit jantung.
Ia adalah salah satu dari sekian banyak jiwa yang malam itu ikut terkubur di bawah reruntuhan kota tua, dan hidupnya selama dua puluh empat tahun ini murni dirajut oleh kumpulan cerita dan memori yang terus didendangkan oleh orang-orang mati di kota ini. Mereka membuat napas Baskara, memberi makan jantungnya menggunakan kisah-kisah mereka, agar ada satu sosok manusia hidup yang bersedia berjalan menuntun sepeda jengki keluar gerbang setiap pagi, membawa buku catatan hitam untuk membuktikan kepada dunia luar yang serba bergegas bahwa kota dan manusia-manusia kecil ini pernah benar-benar ada di atas bumi.
Nisa mengambil kembali foto usang itu dari tangan Baskara, memasukkannya ke dalam kardus paling bawah bersama sisa pensil yang patah. Di luar jendela, langit malam mulai berubah rona menjadi kelabu bersih laksana langit fajar. Satu per satu bangunan, tegel batu hitam, dan belasan manusia di dalam kedai mulai menghilang lambat, menyatu kembali menjadi hamparan ilalang dan air rawa yang tenang seiring tenggelamnya bulan purnama di balik bukit.
Baskara kembali berdiri sendirian di tepi jalan makadam yang berlubang, memegangi setang sepedanya yang berkarat di bawah guyuran gerimis tipis pertama pagi hari. Buku catatan di dalam tas sepedanya kini telah kosong melompong, menyisakan lembaran putih bersih tanpa sebaris pun coretan tinta, membiarkan akhir dari kehadirannya tetap menggantung terbuka di sela angin barat yang bertiup kencang, tanpa pernah tahu pasti apakah esok malam saat bulan kembali mengecil ia masih memiliki sepotong jiwa untuk terus melangkah maju, atau memilih larut menjadi bagian dari sunyinya kabut rawa seumur dunia berjalan.
Banjarnegara, Agustus 2026
BIODATA
Dwi Scativana Isnaeni adalah penulis asal Banjarnegara, tulisannya telah dimuat di berbagai media digital, zine, buku antologi. Menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah satu buku yang telah terbit berjudul “Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik”. Buku Novel terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 serta Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya Hamka, dan dalam proses penerbitan.













