SAYA sedang mencintai perempuan yang menyenangi buku, dan mungkin karena alasan itu beranda sosial media saya kerap disinggahi unggahan perempuan pembaca nan estetik-indah. Biasanya, unggahan semacam itu mampir dan didahului sebuah tangkapan layar dari sebuah tulisan bertajuk Antara Buku dan Perempuan? Rocky Menjawab: Perempuan yang Membaca Buku karya Zul Fadli Rambe (Medium, 14 Maret 2026). Ketika membacanya, saya salfok pada sebuah kalimat yang bagi saya, jika dibaca pelan-pelan, sebenarnya membongkar sendiri argumen yang (mungkin) ingin dibangun penulisnya, katanya: “Fenomena menemukan ‘perempuan yang membaca buku’ di era ini, terasa seperti menemukan ‘treasure’ di dasar laut.”
Sekarang coba perhatikan kata kerjanya: menemukan. Bukan mendengarkan, bukan mengenal, bukan mencintainya dengan sangat. Menemukan, mungkin seperti pemburu mutiara yang menyelam lalu membawa serta sesuatu ke permukaan untuk dilihat-pamerkan. Di kalimat itu, perempuan yang sedang membaca tidak sedang menjadi subjek yang berpikir, melainkan diposisikan menjadi ‘objek yang ditemukan’ oleh subjek lain yang sialnya adalah laki-laki.
Nah, masalahnya esai gombal itu—yang tampak hendak memuji—justru membangun puja-pujinya di atas struktur persis sama dengan yang selama ini dikritik oleh feminisme. Kenapa sih perempuan terus dinilai berdasarkan seberapa menarik ia di mata yang memandang? Pada akhirnya yang berlainan cuma objeknya, berganti kostum sahaja. Jika sebelumnya yang dipuji adalah lekuk tubuh pula paras ayu, maka yang dipuji sekarang adalah tangan menggenggam buku, gestur membaca, ‘kedalaman’ yang terpancar dari cara ia menunduk ke halaman penuh kata-kata. Tak ada yang berubah, kering, tanpa tawaran. Logikanya sama persis, perempuan tetap dilihat, dinilai, dan diberi skor oleh mata laki-laki yang kebetulan sedang kagum padanya.
Ironisnya lagi, sejarah yang dipaparkan esai itu sendiri, mulai dari Hildegard von Bingen di biara, Christine de Pizan yang menulis diam-diam, para penulis perempuan abad ke-19 yang bersembunyi di balik nama laki-laki, hingga Nawal El Saadawi yang menulis sambil diburu (lihat Perempuan di Titik Nol, 2003), semuanya adalah kisah tentang perempuan yang membaca dan menulis ‘justru karena tidak ingin dilihat’. Buku bagi mereka adalah ruang privat yang menolak tatapan, cara untuk lolos dari penilaian dunia yang hanya menghargai perempuan lewat tubuhnya. Virginia Woolf dalam A Room of One’s Own tidak minta ruang itu supaya bisa dikagumi orang lewat jendela, argumennya justru bahwa privasi dan kemandirian ekonomi (bukan pengakuan publik) adalah syarat perempuan bisa berpikir bebas. Ia minta ruang itu justru supaya tidak ada yang mengintip, berhentilah curi-curi pandang!
Ketika hari ini perempuan membaca buku dipuji sebagai “mutiara langka”, sebetulnya yang terjadi adalah kolonisasi ulang atas ruang privat itu. Persis sama dengan struktur yang oleh Laura Mulvey dalam esai bekennya, Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975), disebut male gaze, adalah cara pandang yang menempatkan perempuan sebagai objek ‘lihatan’ dan diberi nilai oleh subjek pengamatnya, bukan sebagai subjek yang berpikir sendiri. Tatapan yang musti ditolak, maksud saya penilaian, ukuran, pemberian label ‘istimewa’ atau ‘biasa saja’, sekarang masuk kembali melalui pintu belakang, mengendap-endap, menyamar sebagai apresiasi intelektual. Perempuan tidak hanya harus cantik untuk pantas dilihat; sekarang ia juga harus terlihat cerdas. Bebannya tidak hilang, bertambah bahkan.
Equality sesungguhnya, seperti yang esai itu sendiri singgung di bagian akhir, harusnya membuat pemandangan perempuan membaca buku menjadi tidak istimewa sama sekali, biasa saja, umumnya manusia, sesuatu yang tidak perlu ditepuktangani, tidak perlu jadi bahan podcast, tidak perlu jadi alasan seorang laki-laki dianggap paham feminisme hanya karena ia bilang lebih tertarik pada ‘perempuan pembaca buku’ ketimbang perempuan itu sendiri sebagai manusia utuh dengan atau tanpa buku di tangannya. Kekaguman yang menuntut syarat adalah kuota estetika baru, bukan penghormatan.
Dari Tubuh ke Rak Buku
Pertanyaannya, apakah keadaan ini berkelit-kelindan jua dengan fenomena toko buku instagramable, atau hanya sebuah kebetulan? Entah. Yang pasti beberapa tahun terakhir banyak toko buku (umumnya di ‘kota besar’) dirancang lebih mirip studio foto ketimbang perpustakaan. Mulai dari dinding dicat berwarna pastel, rak melengkung yang apik difoto dari sudut tertentu, sudut baca dengan cahaya keemasan pukul lima sore, tulisan-tulisan quotable di dinding yang siap potret jadi story.
Barangkali pasar memang tahu betul siapa paling responsif terhadap ruang semacam ini: perempuan muda, yang secara historis dan sosial memang dilatih sejak kecil untuk peka terhadap estetika ruang dan citra diri. Sebuah kepekaan yang ironisnya dulu dibentuk oleh industri kecantikan dan sekarang dipanen oleh industri smart girl aesthetic. Logikanya identik dengan pola yang dalam kajian pemasaran disebut femvertising, bacalah riset-riset tentang komodifikasi feminisme dalam iklan (saya sebut satu, jurnal Corporate Communications: An International Journal, 2025) menunjukkan bahwa narasi ‘pemberdayaan perempuan’ dalam kampanye merek sering kali tetap terjebak logika kapitalis dan standar estetika yang itu-itu saja, cuma bungkusnya diganti dari “kamu akan terlihat cantik” menjadi “kamu akan terlihat cerdas”, buktinya banyak di feed Instagram dan Tiktok, carilah kalau tak percaya.
Buku dalam skema ini bukan lagi objek untuk dibaca, tapi prop untuk membangun citra. Sama seperti tas mahal atau lipstik warna tertentu, saya ndadak khawatir jikalau buku juga menjadi aksesori identitas yang hanya dikonsumsi lewat tampilannya, bukan isinya. Oiya, tulisan saya tak hendak melawan arus kok, karenanya ada satu perlu ditegas-sampaikan, bahwa tak ada yang salah dari manusia datang ke beli buku kemudian foto, itu perilaku yang sepenuhnya wajar dalam budaya visual apa pun, baik oleh laki-laki maupun perempuan. Yang berbahaya adalah ketika industri dan wacana publik (termasuk esai yang sedang kita bahas) diam-diam menegaskan pesan yang sama ihwal nilai seorang perempuan dapat ‘naik kelas’ ketika ia terlihat membaca, entah ia benar-benar tenggelam dalam bukunya atau sekadar menunggu momen kamera yang pas. Toko buku instagramable dan podcast yang memuji ‘perempuan pembaca buku’ sebenarnya dua produk dari satu pabrik gagasan yang sama: perempuan tetap paling berharga saat menjadi tontonan, hanya temanya yang di-upgrade dari sensual menjadi intelektual.
Akhirnya, Rocky Gerung boleh saja terkesan dengan jawabannya sendiri, penulis esai Antara Buku dan Perempuan? Rocky Menjawab: Perempuan yang Membaca Buku juga boleh saja terharu mendengarnya. Tapi kekaguman itu, sehalus apa pun bungkusnya, tetap menempatkan perempuan sebagai objek yang dinilai dari luar. Kali ini lewat standar baru bernama ‘kedalaman’. Bagi saya (koreksi jika salah) feminisme sebenarnya bukan meminta perempuan dipuji karena membaca. Feminisme meminta agar tidak ada seorang pun manusia merasa berhak memberi nilai atas eksistensi perempuan, baik lewat ukuran tubuh maupun lewat buku.
Perempuan tak perlu jadi mutiara untuk pantas dihargai. Ia berhak membaca dengan membosankan, di tempat yang buruk rupa, tanpa ada yang perlu menemukannya sebagai harta karun.
BIODATA
Syauqi Khaikal Zulkarnain. Lahir di Kangean, berkegiatan di Yogyakarta. Alumnus Sastra Indonesia UAD. Sedang mempersiapkan buku kumpulan puisi pertamanya. Juga aktif menghimpun dan mendokumentasikan sisa-sisa khazanah kebudayaan manusia di kampung halamannya yang terlupakan itu.













