Abadi
Di sini, udara semakin menusuk tulang
kian keropos dan umur tak lagi mampu dihitung waktu
Tak bosan-bosan jiwaku terus menerus dijerat pasal Yamadipati
Entah berapa kali lagi aku menghitung kenangan
Menyambung garis takdir yang akan berakhir
Pada reinkarnasi: karma masih roda yang
menggelinding; mencintai lalu melihat kekasihku
Mati lagi
dan lagi
2026
Eksekusi
Di hari kematianmu yang lekas
Waktu melesat bagai peluru
Di dalam moncong bedil yang laju
Di kain bercak darahmu mengingatkanku
Pada cinta yang marah, merobek sebagian
Besar tangis jiwaku, perlahan membunuh
Dirinya sendiri
Dalam tangisku yang pecah
Kupenggal denyut nadiku yang gagap
“Tak akan kutemui kau di surga”
2026
Kekasih Lina
Telah terpenggal nasibmu pada bunga rampai
Yang ditabur di atas kuburan kekasihmu, Lina
Saat pertama kali tangismu pecah
pada prosesi kremasi kenangan-kenanganmu itu
di mana kau nyalakan jilat dalam dadamu
kesumat yang kau simpan dengan rapi
telah berhasil mengebumikan satu-satunya
jiwa yang tulus mengerami hatimu yang lusuh
di hari kematian yang lekas menjemput kekasihmu
kau berada tepat pada mata pisau yang menggorok
udara-udara kian menipis
dan kau, menuturkan kebisuan pada urat leher
kekasihmu
2026
Pertanyaan tentang Keikhlasan
Sebab dunia tak pernah mampu mengeja cinta, Mutia
Pada malam-malam panjang, juga doa-doa panjang
Setia mengaliri urat nadi kita ketika tidur lelap
Seperti waktu yang ibu sempatkan untuk menyekar ke pusara
bapak tiap jumat sore, menyemai rampai yang selalu ia beli
di depan gerbang maqbarah
Bibir ibu selalu basah oleh doa-doa yang selalu
Ia panjatkan tiap subuh seperti tetes-tetes keringat
Pada dahinya yang tiap hari ia usap sehabis pulang bekerja
Apakah kita masih fasih mengucap cinta seperti doa-doa
yang selalu ibu langgengkan tiap malam, Mutia
Ketika dunia terlalu menuntut kita tentang keikhlasan
Dan kita masih saja membohongi diri sendiri
2026
Teras
Di teras rumah kami
Sunyi duduk dengan rapi
Kusen jendela keropos, gagang pintu
yang sulit dibuka dan ruang tengah menatap
dingin membisik tentang lengang
Tak ada suara, hanya remang lampu
Dan sejuk angin yang membisu
Di teras rumah
Gelap menyelimuti kami
Semenjak tawa bapak tak lagi
Mengisi sudut-sudut ruangan itu
2026
BIODATA
Maulana Abdi Zahid, lahir di Lombok, NTB pada tanggal 11 Juli, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Mataram. Menulis puisi dan hal-hal yang dirasa perlu. Puisi-puisinya termuat di beberapa media daring. Buku puisi pertamanya Memungut Luka (Digital: Ruangrasa Project, 2025). Berdomisili di Mataram. IG: @telusursunyi













