Ketinggalan Kereta
di stasiun kereta api
tampak modern kini
dengan jadwal pasti
aku ketinggalan dan seperti sia-sia
berlari-lari kecil mengejarnya
tadi malam tidurku teramat lelap
seluruh hidupku mulai melambat
karcis di tangan menjadi aneh
dan sunyi sendiri
lembar-lembar karcis sudah lama
dibuang di tong sampah
tak ada lagi yang memungutnya
tapi lembar-lembar berwujud kembali
menjadi tiket
di stadion sepakbola, di konser musik,
di gedung bioskop, di obyek wisata
lembar-lembar karcis juga
bertumpuk di tong sampah
menjadi tiket
dan selalu ketinggalan kereta tiap hari
di stadion sepakbola tak jumpa pelatih
tapi tampak coach memberi instruksi
pemain tak lagi memakai kaos, diganti jersey
venue konser sudah gantikan lokasi
film perdana diputar menjadi premiere
tempat wisata lebih suka disebut destinasi
mengapa aku selalu ketinggalan kereta
sia-sia juga berlari-lari kecil mengejarnya
tiba di halaman sekolah terantuk-antuk masuk
sekolah sudah jadi satuan pendidikan
terpampang mata pelajaran, berganti bidang studi,
lalu kembali jadi mata pelajaran
ada ulangan, berubah penilaian, berubah evaluasi
biar keren jadi asesmen
tampak pula pelajar, eh … murid, eh … siswa,
eh … peserta didik
tapi guru tak jadi penuntun didik
kepala sekolah tak jadi pengelola didik
yayasan tak jadi penyelenggara didik
dan cepatnya kereta api itu
membelok, menikung, berputar-putar
berbalik arah, berpusing-pusing sendiri
Juli 2026
Kata-kata Ternyata
ia telah diamankan. Polisi memborgol
dari persembunyian yang jebol
seminggu lebih warga memburunya
kamera pengawas di musala pabrik merekamnya
sepasang sandal jepit diambilnya
(diamankan, ternyata ditahan)
tapi para pekerja pabrik resah. Telah ratusan
dirumahkan, dan sisanya dalam pertimbangan
rupiah makin melemah
ekspor barang kian nelangsa
neraca makin sulit, pabrik pailit
(dirumahkan, ternyata diberhentikan)
akhirnya bantuan itu datang. Lega rasanya
diplomasi antarkedua kepala negara
lobi-lobi menteri melangkah semringah
dan para pengusaha tampak nyengir
bantuan dari negara adidaya itupun cair
(bantuan, ternyata utang)
Ada yang diberi tepuk tangan. Teriak, “Hidup!”
riuh rendah, hiruk pikuk, gegap gempita
pidato bergemuruh
diplomasi bantuan berhasil
tapi dada membusung tampak mengecil
(diteriaki “Hidup!”, ternyata diteriaki “Turun!”)
dan akupun mulas seketika. Semulas-mulasnya
menyaksikan, menonton, membaca
ada yang harus segera diekspresikan
bergegas cari kamar kecil. Ruang yang sejuk,
bersih, wangi, dan luas
(kamar kecil, ternyata ruang luas, jamban juga)
Juli 2026
Atlas Dunia
bentang alam itu organ tubuhku tergambar
menyusut dan mengeriput
dataran tinggi dan rendah, gunung dan pesisir
laut dan samudra pada legenda
hanya simbol beku dan warna kelabu
kulit tubuh ini, kulit bumi mulai retak
garis-garis mulai terbengkalai
sungai, jalur kereta, jalan raya berkelok susah
lalu jaringan hingga perut bumi
dan garis putus-putus itu
antara lambung, pankreas, ginjal
minyak bumi, gas bumi, batubara
apakah berakhir usus buntu
seperti atlas dunia yang muram
atlas diri makin menghunjam
pikir dan rasa berperang
hanya empedu ketika rasa itu menang
Juni 2026
Petak Umpet
kemana pun kau sembunyi
di balik pohon besar atau gorong-gorong kali
kucari sebagai kucing mengejar kelinci
mari, mari petak umpet dimainkan
lari, lari sesudah sepuluh kali hitungan
betapapun kau baru kenal dunia
hijau usiamu bertanda bukan siapa
hanya mimpi besarmu pada siang bolong
dan retorika itu bagiku kosong
mari, mari bermain petak umpet
hingga kita menikmatinya
lari, lari dari kejaran dan terkaman
pilih mati atau digelandang ke bui
lalu mengapa jua kita melupakan
mari, mari mengutak-atik jalan kekuasaan
lalu kawan jadi lawan, dan lawan jadi kawan
sama-sama berpegang kepentingan
mari, mari bermain petak umpet
kepura-puraan kucing kejar kelinci
berkejaran lalu saling jatuh hati
Mei 2026
Segalanya Tak Pernah Usai
dari jendela kamar paling haru
seorang tua di sudut bisu
masa lalu dan haru biru. Kini terasa benar
segalanya tak pernah usai
seperti fragmen cerai-berai
betapa dulu tak terbayangkan
hidup adalah perjuangan. Dan napas itu
terengah-engah bersuara
hidup memang perjuangan. Bukanlah
untuk jadi pahlawan
ketika tiba pada masa paling bisu
fragmen masa lalu
dan haru biru. Seorang tua itu
merasakan benar betapa tak pernah selesai
apa yang diperjuangkan
pahlawan gugur satu, tumbuh seribu
penjahat mati satu
tumbuh pula seribu. Betapa dulu
tak terbayangkan sebagai pilihan
tak pernah selesai pula segalanya
Mei 2026
Sayap-sayap Berkepak
Adik minta telepon genggam buatan Cina
lalu ibu mengingat-ingat: Bakmi, bakwan,
bakpia, bakso, bakpao
“mBakyu!” celetuk ayah (ibu sewot)
Kakak tidak mau telepon genggam buatan Cina
lalu ayah mengingat-ingat: Gincu, cabo,
kiu-kiu, mahyong, cangklong
“Kongkalingkong!” celetuk ibu (ayah sewot)
Ibu membeli telepon genggam buatan Cina
kata adik, “Kamsia!”
Ayah membeli telepon genggam buatan Cina
kata kakak, “Amsyong!”
Soalnya tentang buatan mana
di rumah ini adik dan kakak telah lama menjelma
sayap-sayap militansi
berkepak ideologi
April 2026
Tentang Evolusi Itu
Lalu apakah kita sejenis monyet, Darwin?
belantara ilmu pengetahuan
bayang peradaban
serupa klausul, bicara asal-usul
genetika dan evolusi. Seperti juga tumbuhan
binatang tidaklah bersifat tetap
Seperti gunung es lalu meleleh
kita mencair mengikuti arahnya
Lalu apakah kita sejenis monyet, Malthus?
di antara seleksi alamiah
berbayang kompetisi kehidupan
serupa teori, bicara revolusi biologi
serupa dan berubah. Seperti alam semesta
tidak ada keabadian
Seperti mata air lalu meluber
kita mengalir mengikuti arusnya
Lalu apakah kita sejenis monyet, Wallace?
deretan evolusi kian nyata
tak ada lagi permanen
serupa falsafi, bicara konstruksi. Seperti narasi
berlembar antropologi dan sosiologi
merambah cahaya merambat
gerak taktik berbaur politik
berangsur pula ekonomi bersemi
Lalu apakah kita sejenis monyet?
jika tak ada lagi yang abadi
kecuali evolusi, perubahan itu sendiri
lalu kutembus semesta ini, kulihat diri
Di bawah langit yang sama
bumi peradaban berbeda
Sebagai makhluk sama
akal membedakannya
Maret 2026
Tato Messi dan Yolla
Adik ingin tato Messi di lengannya
karena tato, Messi jadi seksi
Kakak ingin tato Yolla di dadanya
karena tato, Yolla makin seksi
Ibu menolak tato untuk adik dan kakak
karena tato, kotorlah semua
Ayah menengahi ibu, adik, dan kakak
karena tato, janganlah pecah keluarga
Ibu, adik, dan kakak mengikuti ayah
sebab retaknya bangsa karena retaknya keluarga
Ayah memanggil Messi yang tengah main bola
“Mengapa pemain bola harus bertato?”
Ayah memanggil Yolla yang tengah main voli
“Mengapa pemain voli dan cantik harus bertato?”
Baik Messi maupun Yolla bungkam bersuara
Messi hanya memperlihatkan tato di lengannya
Yolla hanya memperlihatkan tato di dadanya
Sejak saat itu adik, kakak, dan ibu
mengganggap tato adalah tabu
tapi hati ayah telah retak tertancap tatomu
Februari 2026
Awas Ada Culik
Dulu,
ketika ada proyek kilang di desaku
Ibu berseru
Awas ada culik!
Bukan hanya ibu
juga ayah, nenek, kakek, bibi, paman
tetangga, saudara, kerabat jauh
kompak berseru
Awas ada culik!
Seisi rumah, lingkaran tetangga,
lingkungan desa dan antardesa
telah masuk dongeng raksasa
pemakan daging manusia
untuk tumbal pengeboran minyak mentah
lalu, lama-lama lenyap sebagai cerita belaka
Lalu,
proyek kilang itu berdiri
mengolah minyak dan gas bumi
Ibu berseru
Tak ada itu culik!
Juga ayah, nenek, kakek, bibi, paman
tetangga, saudara, kerabat jauh
kompak berseru,
Tak ada itu culik!
Aku yang berseru,
Budiman telah diculik!
juga teman-teman seperjuangannya!
Di mana?!
tanya ibu
juga ayah, nenek, kakek, bibi, paman
tetangga, saudara, kerabat jauh
Dalam perjalanan antara tirani dan reformasi
lalu, dari reformasi akan kembali ke tirani
Februari 2026
Pada Mulanya Jemari
Pada mulanya jemari
bukan kata
Betapa sepuluh jari menari-nari
tiap saat tiap hari
kata-kata turut membubuhi
orkestra yang menabuhi
Jika tuts-tuts bersuara
lalu simbol angka mereka-reka
lalu simbol aksara bergatra-gatra
dari jemari berkata-kata
Bersamamu hitung kembali
deret angka hanya sembilan
di belakangnya kuinginkan
angka-angka nol tak terhitungkan
Bersamamu pergi membawaku
berselancar hingga batas dunia
di tepinya kuangankan
menembus maya atau surga kenyataan
Serupa tari, sepuluh jemari menari
melaju dan meliuk
di layar kaca keringat menitik
hidup tanpa mekanik
tombol-tombol berdesir desau
analog tak lagi memukau
Pada mulanya jemari
menggerak digital
Kata-kata telah terpenjara
klik jemari lebih kuasa
terkirim, terpesan, di tempat bisa bayar
: mengenyangkan hari-hari lapar
Januari 2026
BIODATA
Supali Kasim, tinggal di Indramayu Jawa Barat. Buku puisi tunggalnya, Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023).














