SUARA RINTIK JAM
rintik hujan
detik jam
bergantian
detak jantung
rentak gema
bertukaran
detik hujan
rintih jam
bersipongang
detik detak rentak jantung
rintik rintih dering hujan
berkumandang
Bandung, 15 Maret 2021
BENANG LABA-LABA
– Katie Melua, 2005
bila kulit-hitam menjadi rasis, layakkah?
jika prasangka kulit-putih yang membuatnya begitu
karena si penindas jugalah korban, katanya
artinya mereka setali tiga uang
karena garis antara salah dan benar cuma seutas benang laba-laba
hitam dan putih tuts piano
suaranya bagai jutaan warna dalam benakmu
aku bisa memintamu berperang
atau berpawai untuk damai dan berhenti bertikai
bagaimana kutahu mana yang benar?
kuharap dia pun tahu saat memintamu bertengkar
karena garis antara salah dan benar cuma seutas benang laba-laba
hitam dan putih tuts piano
suaranya bagai jutaan warna dalam benakmu
mengapa kita malah saling menyalahkan
haruskah kita hidup, haruskah kita berbagi?
ingatlah selalu senjata dan serpihan bulu
karena garis antara salah dan benar cuma seutas benang laba-laba
Bandung, 2021-2022
AMEILIA, 4
/Bandara KL/
dia membayangkan suatu
perjumpaan tak dinyana
di entah ruangan mana
dia kenakan sudah cinta
di sekujur ingatan remang-remang
yang memudar dalam bola cahaya senja
tapi ruang kedatangan mati, di antara lalu-lalang
sayup-sayup suara membisikkan
: “pesawat nomor sekian…”
dan tiba-tiba dia disergap: gamang
dia menantikan suatu
pertemuan bahagia
kecupan sekilas, sekadar meloloskan kutukan
hantu dari luka rindu
tapi ruang keberangkatan, lagi-lagi memanggilnya
dari jendela-jendela kaca
gelap menggelingsir bagai kilat
ah, sembilu ingatan
dalam dirinya menghangat rasa nyaman
akan harapan persamuhan
Bandung, Juli 2023
NGANTI 4
rerimbun pohon tua
onak dan duri
nisan tak bernama
mengasah mandau
para kerabat berbantah
berebut tanah
peninggalan entah siapa
rerimbun pohon tua
makam tak bertanda
konon ular-ular menjaganya
Bandung, Juli 2023
NOTTING HILL
: Julia
kelak engkau akan percaya
yang mimpi dan yang nyata
akan sama
sepanjang percakapan dan tawa
ada di meja makan kita
begitulah bahagia
bergemerincing di pintumu
di hari yang begitu biasa
dan setengah cangkir capucino
tak mampu menyingkirkannya
kau tahu dongeng itu berkata:
“hiduplah seorang putri… “
abrakadabra, alakazam!
hei, dia ada di hadapanmu!
tak bermahkota
berkacamata hitam dan berbaret beludru
rambutnya emas dan
senyumnya panah dewata
sekejap engkau percaya
dongeng berawal dari yang nyata juga
: jaket kulit, sepatu lari,
dan celana senam pagi
atau sinopsis buku perjalanan
: tentang Turki , Alhambra,
atau Kutub Utara
hei, bukankah dia ada di hadapanmu!
mungkin dengan plot sederhana atau sedikit rumit tapi
berakhir bahagia juga
sementara engkau tetap menolak percaya
dongeng dan kisah nyata tak pernah
ditulis dalam skenario yang sama
namun begitulah duka dan bahagia
silihberganti dalam labirin plot
yang berlapis dan tak sederhana
namun kau pun telah tahu pula
semua akan berakhir jua
dalam akhir terbaik buat setiap cerita
dan kelak engkau pun pasti percaya
yang mimpi dan yang nyata
akan sama
sepanjang percakapan dan tawa
berderai di bangku taman kita
Bandung-Palembang, Desember 2025
BANDARA
roda-roda itu senantiasa
bergegas
cuma ada keberangkatan
kedatangan
transit
atau seringkali penundaan
dan keterlambatan
kita makin tak berdaya
diatur jadwal yang menggila
dari pintu dan gerbang
tak ada yang peduli
kecuali sebentuk tiket masuk
bagasi melintas tanpa akhir
labirin kode dan angka
perjalanan
dari bandara ke bandara
hingga penerbangan terakhir
keberangkatan
kedatangan
itukah yang sebenarnya kita nantikan?
Palembang, Januari 2026
Biodata Penulis
Ready Susanto lahir di Palembang, 25 Desember 1967, lulus dari Departemen Jurnalistik Fikom Universitas Padjadjaran pada 1992. Bekerja sebagai jurnalis dan editor di beberapa penerbit di Jakarta-Bandung. Puisi-puisinya dimuat di berbagai media massa dan beberapa antologi bersama. Kumpulan puisi tunggalnya Surat-Surat dari Kota (2006), Sepucuk Pesan Ungu (2007), Album Buahhatiku (2007), dan Sejumlah Tempat Bayanganmu Sekelebat (2019).














