EPHEMEROS
Di atas kepalaku
waktu terus menyuarakan pertemuan
dan kepergian
tak ada titik ataupun koma, di sana
tak ada lampu kuning ataupun merah
di tiap simpang jalannya
pertemuan hanyalah utopia doa
yang dipanjatkan seorang hamba
dan kepergian adalah distopia
yang tak pernah ada dalam mulut doa
Pada kafe yang memperkosa malam
terlihat para pendosa sedang menyeduh kata
di atas meja, di bawah lampu yang redup
mereka suka menelanjangi hidup
dengan duka, tawa dan anomali lainnya
kadang tiba-tiba mereka bertanya:
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Bagaimana bisa terjadi?”
“Mengapa harus terjadi?”
hening, sejenak mereka menyeruput kopi pesanan
yang masih sehangat pertemuan
dan berasa pahit kepergian
Ternyata tuhan bersembunyi di bibir cangkir putih
lewat mulut pendosa ia berfirman:
“Sungguh ini semua ephemeros yang dipeluk tubuh surga!”
Sebab semua hanyalah kata sejenak
yang terasa baqa pada tiap ritus pertemuan
Pada cakap yang tak mau cukup
beberapa luka mereka teguk
bersamaan dengan sabda-sabda
yang tak tuntas dipelihara
ya, begitulah ketika tuhan ikut larut
pada setiap percakapan malamnya
maka sungguh tak ada kata “ephemeros” di sana.
Bandung, 2026
AKULAH CELURITMU
Akulah celuritmu yang lahir dari rahim waktu
diasah sakera dan diasuh marlena
dibesarkan ombak dengan petuah leluhurya
merapah ke setiap musim tanpa jemawa
Pada tembang yang dinyanyikan sagara
aku menitip doa sambil menutup mata
lalu menatap renjana di kejauhan
tampak relung wajahmu yang cawang-cawang
Akulah celuritmu yang sedang direparasi peradaban
kecamuk pemerintahan dan halai-balai perkotaan
melacuri tubuh hingga tak lagi tabu
tanpa titik, tanpa koma atau bahkan tanpa titik-koma
Pada tanah lapang yang dibelah karapan
aku menadah tangan sambil menunda angan-angan
lalu menengadah ke langit
melihat kawanan burung pipit berpacu membawa doa ibu
Akulah celuritmu yang kelak bakal menguar
membawa nubuat dari palung kamar
membingkai pertemuan dengan madah kasmaran
menyemat kepergian di antara batu nisan
Pada dermaga yang menyuguhkan sandyakala
aku sulung di tepi sana
mentakzimkan diri pada dewi panasea
yang menjala segala duka mengangah di dada
Akulah celuritmu yang digantung di balik pintu
menunggu tanggal dari sang tunggal
perihal kekasih yang dibawa mikail
atau obituari yang dibawa izrail
Pada musim yang mati kata-kata
aku ingin baka dalam dekap tubuhmu yang taba
Bandung, 2026
ANGKOT TUA
di sana, di jantung kota
banyak pertemuan dan kepergian
di setiap pundak jalannya
wajah kusam yang diberkati nasib masing-masing
jalan raya yang tak mempunyai titik dan koma
para buruh yang pura-pura tak mengenal waktu
semua adalah ritme perjalanan
bagi seorang penyair yang menyisir hidup
di dalam angkot tua
kadang kebisingan adalah keheningan
yang ia cari-cari di luar pintu malam
ia tak punya tujuan, satu-satunya tujuan
yang ia miliki adalah tidak adanya tujuan
di dalam angkot tua itu
sudah begitu banyak pertemuan dan kepergian
yang ia kantongi
berbagai rupa wajah ia screenshot
ia simpan dalam sebuah folder album
yang sebelumnya menjadi ruang kenangan
bersama sang mantan
perjalanan tiba-tiba terhenti
di depan rumah yang baru saja meneriakkannya
dengan nama tuhan
angkot tua itu sejenak menepi
sebab ada tubuh yang perlu dibasuh
ada jiwa yang rindu menengadah
Bandung, 2026
GADIS SENJA DAN PERJALANAN PULANGNYA
Pada jalan raya yang tak pernah galau
riak kenalpot brong dan jeritan sirene menjelma risau
ada seorang gadis senja
yang hari-harinya cuma tabah dan tawa
berdiri di lengan jalan
menunggu angkutan kota
yang kehausan para pejalan
dari cibiru ke cileunyi
gadis senja itu suka mengeja perjalanan
dan menyimpan serpihan peristiwa
tetang seorang sopir yang piawai memuatar takdir
dengan rambut yang tak lagi berusia
terlihat diluar jendela
seorang pemotor asik dengan dunianya
seolah-olah tak ada kehidupan disekelilingnya
tuhanpun marah lewat pekik sang sopir
namun ia tetap saja jumawa
dengan dunia ditangannya
gadis senja yang duduk dibelakang
dengan kesibukannya
yang masih mengeja perjalanan
hanya tertawa renyah
sebab apa yang baru saja terjadi
tidak perlu terjadi
Bandung, 2026
UTOPIA KAMPUNG HALAMAN
Pada jalan emas menuju kampung halaman
aku merapal doa para pendosa
azimat nabi yang dibawa burung greja
ke dalam rumah sang hamba
di kampung halaman
aku mencium anemos negeri sulaiman pada tiap pohonan dan ilalang
juga sedap aroma ketiak bilqis pada tiap relung sawah dan selokan
sungguh, inikah kampung halaman atau montase tubuh tuhan?
entahlah, aku rasa ini fragmen surga yang dibawa adam atau hama
di kampung halaman ini orang-orang tanpa kendali
namun tertata rapi layaknya layangan yang melayang sendiri
anak-anak piawai memasak tanah lapang
dengan tawa sebagai bumbu penyedap rasa
mewarnai lorong yang tak beraspal dengan kaki-kaki binal
tak ada obituari atau trauma di sini
bukan sebab aku tak mengenali
karena memang kampung halaman ini
lebih mengenalnya sebagai gincu puisi
Bandung, 2025
RIAK RAMPAK
Pada jalan yang sempat lumpuh
dari riak rampak
aku menghela napas trauma
meratap kaki-kaki desa
menyuluh tangan-tangan kota
lewat fragmen leluhur
filantropi zaman tak bernisan
barangkali rampak yang kau bungkus
dalam dekap doa
bakal menjelma suluk
membasuhi hiruk-pikuk
dan biarkan doa ibu memasak pilu
pada tubuh waktu yang tabu
Bandung, 2025
BIODATA
Yoga Zulkarnain. Pemuda kelahiran Madura, Mahasiswa Jurusan Akidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Puisi-puisinya dibukukan dalam Antologi Puisi Jambore Sastra Asia Tenggara ‘Ijen Purba: Tanah, Air dan Batu’ (2024), Antologi Puisi PPN XIII Jakarta ‘Layang-layang Tak Memilih Tangan’ (2025), dan lain-lain. Beberapa karya lainnya dimuat di berbagai media online, majalah dan koran.














