ADA zaman ketika orang yang mampu membaca dianggap telah memiliki kunci menuju masa depan. Namun zaman kita menghadirkan persoalan yang jauh lebih rumit. Hampir semua orang dapat membaca, tetapi tidak semua orang mampu memahami. Informasi berlimpah, tetapi kebijaksanaan tidak otomatis bertambah. Kata-kata beredar tanpa henti, tetapi kemampuan untuk mendengarkan justru semakin langka. Di tengah keadaan semacam itu, literasi perlu dikembalikan kepada makna yang lebih mendasar: bukan sekadar kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan membaca kehidupan.
Gagasan itulah yang menemukan ruangnya dalam Kemah Literasi Kabupaten Madiun yang dilaksanakan pada 12–13 September 2026 di Kawasan Wisata Sekar Wilis, Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. Mengusung tema “Menumbuhkan Literasi, Merawat Budaya, Menguatkan Generasi Berkarakter”, kegiatan ini mempertemukan Forum Taman Bacaan Masyarakat Kabupaten Madiun, Lesbumi PC Kabupaten Madiun, serta IPNU–IPPNU Kabupaten Madiun dalam sebuah perjumpaan yang tidak berhenti pada kegiatan membaca dan menulis. Di dalamnya terdapat sastra, budaya, kepemudaan, lingkungan, kreativitas, pengabdian sosial, dan percakapan antar manusia.
Saya melihat kemah ini sebagai sebuah eksperimen kecil tentang bagaimana literasi seharusnya bekerja. Selama bertahun-tahun literasi terlalu sering dibayangkan sebagai aktivitas yang berlangsung di perpustakaan, sekolah, ruang seminar, atau di hadapan halaman-halaman buku. Padahal, kehidupan sendiri adalah teks yang jauh lebih besar. Hutan memiliki bahasa. Tradisi memiliki tata bahasa. Masyarakat memiliki narasi. Sejarah menyimpan kalimat-kalimat yang belum selesai. Bahkan kesunyian pun terkadang menyampaikan sesuatu yang tidak mampu diucapkan oleh manusia.
Karena itulah Sekar Wilis bukan sekadar tempat berlangsungnya acara. Alam menjadi bagian dari proses pembelajaran. Di sana manusia diajak keluar dari ruang yang serba teratur menuju ruang yang mengajarkan ketidakteraturan kehidupan. Gunung, pepohonan, udara, tanah, dan perjalanan menjadi teks ekologis yang menuntut manusia untuk membaca dengan cara berbeda. Dari sini literasi dapat bergerak menuju kesadaran ekologis: bahwa membaca alam pada akhirnya adalah membaca keberlangsungan hidup manusia sendiri.
Kegiatan ini berdiri di atas kerja kolektif tiga kekuatan kelembagaan. Ahmad Rosyidin, selaku Ketua Forum TBM Kabupaten Madiun, menjadi salah satu penanggung jawab bersama Ketua Lesbumi PC Kabupaten Madiun, Ketua IPNU Kabupaten Madiun Aldan Alif Fauzi Putra, dan Ketua IPPNU Kabupaten Madiun Ayu Nur Fayza. Keempat nama tersebut merepresentasikan perjumpaan antara gerakan literasi, kebudayaan, dan kaderisasi generasi muda. Sementara itu, Steering Committee diisi oleh tim pengarah dari ketiga lembaga yang berkolaborasi dalam kegiatan ini.
Di tingkat pelaksana, Alfu Alfian dari Kebonsari dipercaya sebagai ketua panitia. Ia didampingi Putri Anitasari sebagai sekretaris I, Ismahadi Yahya sebagai sekretaris II, Shella Nur Azizah sebagai bendahara I, dan Seghy Satria Edipurwa sebagai bendahara II. Divisi kegiatan dikoordinatori Muhammad Yusron Almashadi, dengan anggota Nur Rochim Hidayatulloh, Fadkur Zainul Arifin, Hadi Purnomo, Anisya Septyan Nurcahyani, dan Amanda Dwi Fitriana. Divisi perlengkapan dipimpin Wisnu bersama Guntur, Ali Husama, Faiz Wildan, Muhammad Akbar Wardoyo, dan Ahmad Nahkorbi. Divisi konsumsi dikoordinatori Lia Devi Kurniawati bersama Kiki Kiromin Baroroh, Wedha Shiang Abimanyu, Andini Febbi Addiyanti, Dinda, dan Putri. Sementara dokumentasi dipercayakan kepada Jarkominfo PC IPNU IPPNU Kabupaten Madiun.
Bagi saya, susunan tersebut bukan sekadar daftar nama dalam proposal. Ia memperlihatkan bahwa sebuah gerakan kebudayaan selalu dibangun oleh banyak tangan. Di depan peserta mungkin yang tampak adalah panggung, pembicara, tenda, buku, dan kegiatan. Namun di belakang semua itu terdapat orang-orang yang mengangkat perlengkapan, mengurus konsumsi, menyusun acara, menjaga keberlangsungan kegiatan, mendokumentasikan peristiwa, dan memastikan gagasan dapat menjelma menjadi pengalaman. Dalam pengertian tertentu, mereka pun sedang melakukan literasi: membaca kebutuhan, membaca situasi, membaca kemungkinan, lalu menerjemahkannya menjadi tindakan.
Rangkaian kegiatan disusun agar peserta tidak hanya menjadi penonton. Kedatangan peserta dan pendirian tenda menjadi pembuka pengalaman. Setelah pembukaan, peserta mengikuti workshop Kiat Menulis Sejarah Selinkar Wilis yang saya isi sebagai pemantik. Setelah itu kegiatan berlanjut dengan istirahat dan salat, penampilan kreativitas, pengukuhan pengurus Forum TBM Kabupaten Madiun, serta dialog budaya. Dalam sesi Dialog Budaya menghadirkan Jauharul Abidin, ketua Forum TBM Jawa Timur.
Pagi berikutnya peserta mengikuti kegiatan pribadi, giat pagi, bakti sosial, kemudian penutupan. Dalam konsep yang lebih luas, kemah ini juga mengembangkan diskusi dan workshop, sarasehan budaya dan sastra, jelajah alam dan ekologi literasi, serta api unggun dan malam keakraban.
Saya sendiri memperoleh kesempatan untuk mengisi workshop menulis sastra. Dalam pertemuan tersebut, saya mengajak peserta memasuki tiga wilayah utama penciptaan sastra: cerpen, novel, dan puisi. Cerpen saya tempatkan sebagai ruang untuk belajar mengenai ketepatan dan intensitas. Novel sebagai ruang untuk membangun dunia, karakter, konflik, dan perjalanan manusia dalam rentang yang lebih panjang. Sementara puisi mendapat porsi yang lebih besar karena workshop ini memiliki tujuan lanjutan yang konkret: menghasilkan sebuah buku antologi puisi.
Saya selalu percaya bahwa puisi bukan sekadar permainan kata. Puisi adalah cara manusia menguji kepekaan terhadap kenyataan. Seorang penyair tidak hanya bertanya tentang apa yang terjadi, tetapi juga tentang apa yang tersembunyi di balik sesuatu yang terjadi. Sebuah pohon yang tumbang dapat dibaca sebagai peristiwa biasa, tetapi puisi dapat mengubahnya menjadi pertanyaan tentang keserakahan. Sebuah rumah yang kosong dapat menjadi cerita tentang kehilangan. Sebuah jalan di desa dapat berubah menjadi ingatan kolektif. Dengan cara itulah pengalaman personal menemukan pintu menuju pengalaman universal.
Antologi puisi yang lahir dari kegiatan ini nantinya dapat menjadi lebih dari sekadar kumpulan karya. Ia dapat menjadi semacam arsip batin generasi muda Kabupaten Madiun. Di dalamnya kelak tersimpan kegelisahan, cinta, kehilangan, lingkungan, tradisi, keluarga, perubahan zaman, dan berbagai hal yang mungkin tidak tercatat dalam dokumen sejarah resmi. Sebab sejarah seringkali lebih sibuk mencatat peristiwa besar, sementara sastra berusaha menyelamatkan hal-hal kecil yang justru membuat sebuah zaman terasa manusiawi.
Di sinilah saya melihat pentingnya mempertemukan literasi dengan kebudayaan. Generasi muda tidak cukup hanya diwarisi identitas; mereka perlu diberi kesempatan untuk menafsirkan kembali identitas tersebut. Kebudayaan tidak seharusnya menjadi museum yang hanya dikunjungi ketika ada perayaan. Kebudayaan harus menjadi percakapan yang terus berlangsung. Tradisi boleh diwariskan, tetapi tafsir terhadap tradisi harus selalu terbuka. Sebab masyarakat yang tidak mampu menafsirkan kebudayaannya sendiri akan mudah menjadi konsumen kebudayaan orang lain.
Kemah Literasi juga memperlihatkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus disampaikan melalui nasihat. Karakter dapat tumbuh dari pengalaman hidup bersama. Mendirikan tenda mengajarkan kemandirian. Bekerja dalam kelompok mengajarkan kolaborasi. Berdiskusi mengajarkan penghargaan terhadap perbedaan. Berkesenian mengajarkan keberanian berekspresi. Bakti sosial mengajarkan empati. Berhadapan dengan alam mengajarkan kerendahan hati. Dengan demikian, karakter bukanlah slogan yang ditempelkan di dinding, melainkan kebiasaan yang dilatih melalui pengalaman.
Di tengah kehidupan digital yang semakin cepat, gagasan semacam ini justru menjadi semakin penting. Generasi muda hari ini hidup dalam situasi yang paradoksal. Mereka memiliki akses pengetahuan yang nyaris tak terbatas, tetapi berhadapan dengan banjir informasi yang membuat perhatian menjadi barang langka. Mereka dapat berbicara kepada ribuan orang melalui layar, tetapi belum tentu memiliki ruang untuk berbicara secara jujur kepada dirinya sendiri. Mereka dapat membuat konten dalam hitungan detik, tetapi membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk menemukan makna.
Karena itu, kita membutuhkan literasi yang tidak hanya menghasilkan manusia berpengetahuan, tetapi manusia yang berkesadaran. Literasi yang membuat seseorang mampu mempertanyakan informasi tanpa kehilangan akal sehat, memahami sejarah tanpa terjebak romantisme, mencintai budaya tanpa menjadi fanatik, menikmati alam tanpa mengeksploitasinya, dan melihat penderitaan orang lain tanpa buru-buru berpaling.
Dalam konteks itu, perjumpaan Forum TBM, Lesbumi, IPNU, dan IPPNU menjadi sesuatu yang lebih penting daripada sekadar kolaborasi teknis sebuah acara. Ia menunjukkan bahwa masa depan literasi membutuhkan ekosistem. Buku membutuhkan komunitas pembaca. Sastra membutuhkan ruang perjumpaan. Kebudayaan membutuhkan generasi penerus. Kaderisasi membutuhkan gagasan. Dan gagasan membutuhkan manusia yang bersedia menghidupkannya.
Ketika api unggun dinyalakan, ketika puisi dibacakan, ketika orang-orang berdiskusi di bawah langit malam Sekar Wilis, sesungguhnya yang sedang dilakukan bukan sekadar mengisi jadwal kegiatan. Ada sesuatu yang lebih penting: manusia sedang berusaha mengingat kembali bagaimana caranya menjadi manusia di tengah dunia yang semakin bising.
Barangkali kelak tenda-tenda itu akan dibongkar, kursi-kursi dikembalikan, buku-buku disimpan, dan peserta kembali ke rumah masing-masing. Namun sebuah kemah literasi baru benar-benar berhasil apabila sesuatu tetap tinggal setelah semua itu selesai: sebuah pertanyaan yang terus hidup di dalam diri.
Untuk apa kita membaca jika pengetahuan tidak membuat kita lebih peka? Untuk apa kita menulis jika kata-kata tidak membuat kita lebih jujur? Untuk apa kita merawat kebudayaan jika kita tidak mampu merawat manusia yang mewarisinya? Dan untuk apa kita mengenal alam jika pada akhirnya kita tetap merasa sebagai penguasa atas segala sesuatu?
Mungkin literasi pada akhirnya bukan tentang berapa banyak buku yang telah kita tamatkan. Literasi adalah tentang berapa banyak kehidupan yang mampu kita pahami setelah membaca. Buku hanyalah salah satu bentuk teks. Alam adalah teks. Sejarah adalah teks. Kebudayaan adalah teks. Manusia adalah teks. Dan diri kita sendiri adalah teks yang sepanjang hidup belum pernah benar-benar selesai kita baca.
Maka, Kemah Literasi Kabupaten Madiun barangkali bukan sekadar perjalanan dua hari satu malam ke Sekar Wilis. Ia adalah ajakan untuk melakukan perjalanan yang lebih panjang: perjalanan menuju manusia yang lebih mampu membaca dunia, lebih berani mempertanyakan kenyataan, lebih peka terhadap sesama, dan lebih bertanggung jawab terhadap masa depan. Sebab pada akhirnya, pertanyaan terpenting dari setiap gerakan literasi bukanlah “berapa banyak yang telah kita baca?”, melainkan “setelah membaca begitu banyak hal, manusia seperti apa yang ingin kita menjadi. (***)













