DIFFERANCE
Barang kali kau hadir sebagai puisi
tak satu pun kata
hanya metafora tumbuh seperti bayang-bayang
di bawah lidah waktu
menunda makna
Cerita bisa jadi kata-kata sifat
tersusun di sela citraan kalimat
berpendar lirih
hendak menyampaikan maklumat
tetapi selalu tersisa
sebagai tafsir menggantung di tepi kalimat
Barang kali juga kita bertukar tempat
di antara paragraf-paragraf
menjalani takdir kisah panjang dalam tubuh prosa
sementara kita hanya pembaca
dan tiba-tiba kata itu menatap balik
menghapus aku sebelum sempat menulisnya
Gresik, 2026
TARIAN WAJAH SUNYI
Wajah sunyi itu menyimpan warna
tak pernah benar-benar pergi
merah dipendam terlalu lama
memucat di tepi pipi
seperti bedak tipis
menahan runtuh
ia menatap cermin
tanpa berharap dikenali
pantulan retak
tak menyimpan wajah utuh
kecupnya jatuh
pada sesuatu yang telah pecah
retak menjalar pelan
seperti jam dinding kehilangan bunyi
kepastian sempat singgah
di bibir yang dingin
lalu gugur
sebelum sempat dipercaya
wajah itu menyelam
ke dalam matanya sendiri
airnya asin
menyentuh sudut yang tak bernama
ada ketekunan ganjil
tinggal di dalam luka
ia tak mencari sembuh
hanya mengulang
dengan gerak lebih perlahan
dunia dilihat
dari jendela setengah terbuka
udara masuk tipis
membawa bau hujan dan besi
bayangan bergerak lebih jujur
daripada tubuhnya
senyum hanya gema
dari sesuatu yang telah berubah
mimpi menjalar di permukaan kulit
dingin seperti embun tertahan
napas tersusun pendek
melewati ruang yang menyempit
malam tak lagi gelap
melainkan wadah
segala yang tertahan
mengendap tanpa suara
sesuatu menyerah perlahan
tanpa bunyi
tanpa peristiwa
hanya sisa bertahan
menempel di dinding waktu
dan saat ia kembali menatap cermin
wajah itu telah lebih dulu pergi
meninggalkan bayangan
yang tak pernah merasa ditinggalkan
Gresik, 2026
BUKAN SEBAGAI ANDAI
Pernah kita sepakati.
Setiap ucap adalah jejak merayap.
Sekali lagi, ingin kuhindari kata andai, pun sebagai.
Sebab akan lenyap keberadaan,
sekadar pijakan kaki-kaki jemari
kerap menuliskan bahasa sepi.
Hanya kau yang kuinginkan.
Tanpa ini, tanpa itu,
dingin bayanganmu,
sentuhan lembut bibirmu.
Setiap helai rambutmu
menjelma tekstur pada kulit tanganku,
tak henti mengusap kening hingga sampai ke palungmu.
Malam-malam kita tersimpan dalam detik,
di antara napas saling menunggu.
Diam menjadi saksi,
menyimpan rahasia dalam gelap,
hingga kata-kata kehilangan beban.
Tanganmu yang jauh
peta bagi rinduku,
menuntun setiap debar,
hingga dunia
menyusut
hanya untuk kita berdua.
Gresik, 2026
ENDAPAN
malam menempel di kaca jendela
embun mengeruhkan kota
namamu sempat terbaca, lalu larut
napas menipis di ambang bening
aku menjauh
jalan itu masih menyimpan langkahku
persimpangan menahan berat
lampu bergetar di genangan
cahaya pecah ke dalamnya
kota menimbun kita diam-diam
jejak tinggal tanpa bentuk
beberapa halaman kucabut dari hidupku
kertas basah oleh malam
suaramu terlipat di sela kalimat
sekarang halaman berbalik sendiri
sunyi duduk membaca ulang
hatimu berpindah tanpa tanda
pagi masih hangat
sore jatuh ke air yang tak selesai
aku tertinggal
memungut cahaya dari telapak tangan
serpihnya menggigit mata
angin lewat
sebelum sempat kuberi nama
di sungai itu
wajahmu muncul sebentar
lalu pecah bersama bulan
aku berdiri di tepi
menunggu garis matamu utuh
air terus berjalan
bayanganmu lebih cepat hilang dari sentuhan
tubuhku ringan
debu yang lupa tanah
kata-kata mengering di udara malam
surat kehilangan alamat
beberapa kalimat menetap di dada
bangku tua masih mengenal tubuh kita
retaknya menyimpan lekuk
dua napas pernah menghangat
percakapan jatuh seperti daun kering
bayangan duduk lebih dulu
malam tidak perlu suara
di dada ini masih ada bara kecil
redup
hampir menutup mata
ia tak cukup terang untuk pulang
tapi menolak padam
angin datang berkali-kali
bara itu belajar keras kepala
kota ini belum selesai denganmu
trotoar menyimpan lembap
lampu gemetar di permukaan
cahaya retak, tapi tidak jatuh
udara malam membawa namamu
tanpa alamat
aku meminjam cara batu:
tenggelam tanpa kehilangan nama
arus lewat berulang
waktu mengikis permukaan
di kedalaman
namamu tetap berdenyut
pelan
menolak hilang
suatu malam langkahmu mungkin kembali
jalan ini masih mengenali bayangmu
bangku tua tetap menunggu
kayu menyimpan sisa panas
seseorang duduk di sana
diam
sabar
bara kecil dijaga
jam dinding memanggil
tak ada yang menjawab
Gresik, 2026
KENING
bidang sunyi di atas mata
menyimpan aku
setengah pijakan
undakan naik tanpa suara
yang tertinggal mengering
di permukaannya
lintasan lain menggesek tipis
hampir tanpa bekas
aku kini tinggal
di garis yang menahan runtuh
serat dinding membuka celah
tempat benturan berulang
di baliknya
denyut kecil berdiam
di sisi luar
gurat bertambah
pelan menjadi lipatan
yang menetap
tanpa pernah diminta
Gresik, 2026
KENANG
yang tertinggal
halus
lebih kecil dari bunyi
air merapat
pada permukaan yang nyaris diam
getar menahan diri
di ujung daun
sebelum angin sempat ada
sesuatu menyusup
tanpa rupa pasti
menanam namaku
sebagai butir
di lipatan yang luput
waktu mengendapkannya
dalam diam
tumbuh satu garis
merambat pelan
menyilang arah
membuka cabang
yang tak selesai
mekar
tanpa warna
menguap
sebelum dikenali
Gresik, 2026
BIODATA
Sholihul Mubarok lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 24 Februari 1985. Ia merupakan penyair yang aktif berkarya di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, antara lain Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, serta antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025). Selain menulis buku puisi tunggal, ia juga aktif mengikuti kegiatan sastra daring dan menghadirkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube @SholihulMubarokOfficial. Saat ini, ia tengah mempersiapkan buku puisi terbarunya berjudul Dalam Semesta Matamu (2026).














