Pertemuan Semusim Sunyi
Dan percakapan tentang sunyi
adalah sisa fosil yang beranjak menanggalkan pena sejarah
ia pernah bernafas di gurun waktu yang tidak lagi menyisakan jejak musim
Di tenggorokanku tumbuh duri dari debu yang menempel, ketika kemarau panjang mengucapkan salam
ia begitu haus pada air yang hanya dikenang lidah
setelah lama berdiam diri dalam sunyi
dan menggigil dalam tungku luka
___ Arsy
engkau, bayangan dendam yang mencium subuh
saat embun mengendap pada pori-pori angin
dan peluh malam tidak lagi lekat di bibir pagi
Waktu menjelma mantra
yang dibisikkan daun kepada cahaya
dan kata-kata di kepalamu
adalah burung-burung yang kehilangan langit
pikiran pun luruh seperti ruang hampa dalam mimpi
Aku membaca matahari
sebagai tafsir dari percikan zat azali
antara reruntuhan rumah dan altar semesta
tempat kita pernah mengeja nama Tuhan
dalam bahasa luka
Kau sempat mampir di lorong keraguan
menyusun aksara dari debu jalanan
yang akan tertiup sebelum sempat dibaca
dan akhirnya,
kita bertemu di tepi-tepi musim yang semburkan aksara rindu
sesunyi kata yang tersimpan dalam mimpi
Malang, 2026
Nomen Et Omen
___ Amira
bernyanyilah selagi suara belum bernada
karena sajak, kini hanya gema hampa
yang enggan mengetuk pintu kata
Mari kita bakar malam
dengan api yang tidak mengenal asalnya
dan biarkan puisi mengapung di langit
sebab kata-kata kita mungkin terlahir sebagai anak haram
yang memaksa orang untuk mengakui sebagai pertanda
Tapi waktu, terlalu ringkih
dan tidak pernah ingin melihat ke belakang
di mana kita terjebak dalam frasa nama
waktu itu senantiasa berbisik
: apa arti sebuah nama!
Malang, 2026
Perjalanan adalah Titimangsa Tertunda
Mungkin kota ini telah usang dalam ingatan mimpi
ia hanya mesin—menghitung hari tanpa merasa rindu
dan kita, melukis kisah di atas perjalanan
dengan warna kegelisahan
Mungkin engkau bukan kekasih
hanya pengingat, bahwa kadang awal adalah akhir pertemuan
yang lupa bagaimana cara mencintai
Kota ini, bagai riwayat catatan yang menyimpan kenangan
di mana kita hanya sepenggal metafora dalam titimangsa rindu
Malang, 2026
Échale un Vistazo
Angin, rebah sebagai aksara
berzikir di pucuk cemara
sepi menjulurkan lidah
untuk mengucapkan Tuhan dengan nada asing
Sementara hiruk pikuk asmara?
hanya amplop kosong
yang dikirim dari kantor pos bernama rindu
Daun gugur:
bagai kisah sedih yang tidak diingat pohon
menuju kehidupan yang tidak pernah abadi
Masih adakah sisa harapan
bagi dada yang selalu menyimpan keraguan?
atau kita hanya sepasang sinonim
dalam simfoni musim yang tak pernah didengar
Lihatlah, rerumputan hanya sekumpulan warna hijau
yang berteduh di bawah terik matahari
dan kita adalah sekumpulan kata
yang terus dieja dalam peradaban samar
Malang, 2026
Menziarahi Puisi
Ke mana lagi denyut akan pergi
jika tubuh tidak lagi mengenali suara
Puisi kini tanpa atap
berkelana dari rumah ke rumah
yang tidak lagi berpintu
selain menawarkan tubuh yang mungkin mengudap diksi
Lihatlah matahari mulai bersolek
menjadi kilau warna di balik ruang digital
Kata-kata pun berlari menyembunyikan diri
dalam lempung yang mengeras jadi patung
Kita hanya tulang-belulang
disusun oleh jagal kehidupan
yang terlalu sibuk mengoreksi akhir tanpa menulis awal
Esok?
akan dinyanyikan seperti lagu kebangsaan di pemakaman senja
oleh peziarah yang tidak hafal liriknya
Malang, 2026
Puisi Retak
Ke dalam sunyi, tanganku meraba
seperti mata buta yang kehilangan arah pada bayang sendiri
dinding-dinding waktu merapat tanpa suara
dan aku menjadi gema yang tak pernah kembali
Ke dalam puisi, jemariku menulis kata
tapi kata-kata berkhianat pada makna
ia runtuh sebelum sempat dilahirkan
seperti doa yang gugur di bibir keraguanku
Dan ke dalam ingatan, aku menyimpan gelisah
yang tumbuh seperti lumut di ruang jiwa
tak pernah mati, tak pernah benar-benar hidup
hanya ada—sebagai luka yang belajar
Malang, 2026
BIODATA
VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar, Februari 1964. Bertempat tinggal di Kab. Malang. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983. Founder grup Penyair Berkarya. Karya-karyanya telah dimuat di pelbagai media cetak lokal, nasional, dan Malaysia, antara lain: Koran TEMPO, Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, dll. Termaktub dalam puluhan buku antologi. Buku kumpulan puisi tunggal: Rindu, Sunyi, dan Kematian (Lentera, 2024).











