SURABAYA, Balipolitika.com- Lonjakan temperatur udara yang kian menyengat dalam beberapa pekan terakhir mendorong lonjakan kebutuhan mesin pendingin ruangan (air conditioner/AC) di berbagai kawasan hunian maupun ruang komersial. Di tengah memanasnya pasar tata udara nasional, persaingan sengit antara dua jenama papan atas asal Asia—Daikin dan Gree—kerap memantik perdebatan publik mengenai unit mana yang paling perkasa menaklukkan hawa gerah.
Menanggapi keraguan tersebut, Chief Marketing Officer TerbaikAC.id, Dennis Sugijanto, membeberkan bahwa persepsi publik yang memvonis satu merek lebih dingin dibanding kompetitornya merupakan kekeliruan mendasar. Pihaknya menegaskan tolok ukur kesegaran udara murni ditentukan oleh kalkulasi teknis British Thermal Unit per hour (BTU/h) yang berpadu dengan kesesuaian beban termal ruangan.
“Konsumen sering mengira merek tertentu lebih dingin, padahal yang paling menentukan itu kapasitas pendinginan dan kesesuaian AC dengan beban ruangan. Kalau PK dan BTU-nya sama, selisihnya tidak akan terasa ekstrem,” kata Dennis saat memberikan penjelasan teknis, Selasa (1/9/2026).
Dennis memaparkan, perbedaan mendasar antara kedua pabrikan tersebut sebenarnya bermuara pada karakter distribusi pendinginan dan orientasi teknologi kompresor yang disematkan.
Lini produk Daikin menonjolkan kestabilan suhu yang berkesinambungan serta kenyamanan hembusan angin, terutama pada varian berteknologi inverter. Sistem inverter bekerja secara presisi mengatur putaran kompresor mengikuti fluktuasi beban ruangan secara real-time, sehingga temperatur tetap konsisten tanpa lonjakan arus listrik yang membengkak drastis. Keunggulan tersebut menjadikannya primadona di segmen perhotelan dan perkantoran premium.
Sebaliknya, unit besutan Gree memiliki diferensiasi kuat pada semburan pendinginan instan di awal pengoperasian (fast cooling). Kompresor Gree dirancang langsung memacu daya maksimum sesaat setelah diaktifkan demi memangkas waktu penurunan suhu secara agresif, sebuah nilai plus bagi konsumen yang memprioritaskan efisiensi anggaran dengan performa kilat.
“Gree itu kuat di pendinginan awal. Banyak pengguna merasa ruangannya cepat sejuk setelah AC dinyalakan. Tapi begitu suhu stabil, keduanya sama-sama mampu menjaga temperatur,” tutur Dennis menambahkan.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa kesalahan fatal yang kerap menjebak pembeli awam adalah keterpakuan sempit pada label tenaga kuda (Paardekracht/PK). Dua area dengan luasan identik 15 meter persegi tetap menuntut daya pendinginan berbeda jika salah satu ruangan terus-menerus terpapar sengatan sinar matahari langsung atau dipadati aktivitas banyak orang.
Dennis mengimbau masyarakat agar tidak terjebak klaim sepihak dan mulai cermat meneliti lembar spesifikasi teknis, khususnya rincian angka BTU/h, sebelum menjatuhkan pilihan. Ketepatan kalkulasi beban kalor, penempatan posisi unit, hingga standar baku instalasi pipa freon menjadi penentu utama apakah ruangan akan terasa sejuk maksimal atau justru tetap gerah. (BP/CHA).














