AKU tidak pernah mengejar Timun Mas. Yang kulakukan hanyalah berjalan. Barangkali manusia memang tidak pernah benar-benar tahu perbedaan antara seseorang yang berjalan dan seseorang yang mengejar. Dari kejauhan keduanya tampak serupa: langkah yang meninggalkan jejak, tubuh yang bergerak menuju sesuatu, bayangan yang memanjang di tanah. Hanya niat yang membedakannya, dan niat adalah sesuatu yang paling sulit dibuktikan oleh cerita.
Namaku telah lama menjadi bagian dari ketakutan orang-orang. Para ibu menyebutnya menjelang tidur, para kakek mengulanginya di beranda, dan anak-anak belajar bahwa hutan adalah tempat di mana raksasa menunggu orang-orang yang tersesat. Dalam pertunjukan wayang, tubuhku dibuat lebih besar daripada manusia, mataku merah, taringku panjang, suaraku berat seperti batu yang dijatuhkan dari tebing.
Tidak ada yang pernah bertanya bagaimana rasanya hidup sebagai tokoh jahat dalam cerita yang tidak pernah kita tulis sendiri. Aku sudah terbiasa. Hutan mengajariku bahwa sesuatu yang besar tidak selalu berbahaya. Pohon-pohon tua tumbuh puluhan tahun tanpa pernah mengejar siapa pun. Sungai membawa lumpur, ranting, daun, bahkan bangkai, tetapi tidak pernah dituduh memiliki niat buruk. Hanya manusia yang gemar memberikan niat kepada segala sesuatu yang tidak mereka mengerti.
Aku tinggal di antara pohon-pohon tua itu. Pada musim kemarau, tanah di bawah kakiku pecah-pecah. Rumput menguning. Bau daun jati yang membusuk bercampur dengan debu. Pada malam hari, ketika udara mulai dingin, aku sering mendengar suara burung hantu dari balik rumpun bambu. Sesekali rusa datang ke mata air yang tersisa di antara bebatuan.
Di tempat seperti itulah aku menunggu. Bukan menunggu seseorang, melainkan sebuah janji. Sebab begitulah aku dilahirkan. Aku tidak pernah tahu siapa ayah dan ibuku. Aku hanya tahu bahwa tubuhku bertambah berat setiap kali manusia mengucapkan janji yang tidak sanggup mereka tepati. Setiap sumpah yang ditinggalkan membuat langkahku semakin berat. Setiap kata yang dilupakan tumbuh menjadi tulang di tubuhku. Mungkin itu sebabnya manusia melihatku sebagai raksasa. Mereka tidak pernah melihat beban yang kubawa.
Pada sebuah musim kemarau, seorang perempuan datang ke tepi hutan. Aku melihatnya dari balik pohon randu. Ia berjalan tanpa alas kaki. Kainnya telah memutih oleh debu. Di telapak tangannya terdapat bekas-bekas tanah yang mengering. Ia duduk di bawah pohon dan menatap ladang yang telah lama tidak menghasilkan apa-apa. Namanya Mbok Srini.
Aku sudah mengetahui namanya sebelum ia menyebutkannya. Ia datang bukan untuk mencari kayu bakar atau daun obat. Ia datang membawa kesunyian yang terlalu lama tinggal di rumahnya. Ketika matahari turun dan bayangan pohon semakin panjang, ia mulai menangis. Tidak keras. Tangisnya seperti air yang merembes dari celah batu.
“Aku ingin seorang anak.” bisiknya di antara tangis dan air matanya. Hanya itu yang dikatakannya. Aku keluar dari persembunyian. Ia tersentak. Tubuhnya mundur beberapa jengkal. Aku tidak mendekat. Aku tahu manusia membutuhkan jarak untuk memahami sesuatu yang mereka takuti.
Dari tempatku berdiri, kulihat wajahnya berubah antara takut dan berharap. Dua perasaan itu sering kali memiliki wajah yang sama. Ia meminta seorang anak agar rumahnya tidak lagi sunyi. Aku mengambil sebuah mentimun kecil dari tanaman liar yang tumbuh di antara semak. Kulitnya kasar, tidak mengilap seperti mentimun yang dijual di pasar. Ada bekas gigitan serangga di salah satu sisinya. Aku menyerahkannya. Ia menerimanya dengan kedua tangan.
Aku hanya mengatakan bahwa benih dari buah itu akan memberinya seorang anak. Sebelum ia pergi, aku sempat menyampaikan sesuatu yang kemudian barangkali dilupakannya: “Anak yang datang kepadanya kelak tidak boleh dianggap sebagai miliknya.” Ia mengangguk.
Lalu pulang membawa mentimun itu. Aku kembali ke hutan. Malam turun. Tidak ada yang istimewa. Hanya suara jangkrik dan angin yang menggesek daun-daun kering. Aku mengira urusan telah selesai. Ternyata belum.
Hujan datang beberapa minggu kemudian. Air pertama jatuh ke tanah seperti ribuan jari mengetuk pintu rumah yang telah lama tertutup. Tanah menghitam. Rumput-rumput kecil muncul. Di kebun Mbok Srini, biji mentimun yang ditanamnya tumbuh merambat di antara batang-batang bambu. Aku melihatnya dari jauh. Bunga kuning pertama muncul menjelang pagi. Kemudian buah. Besar. Berwarna keemasan. Ketika buah itu dibelah, seorang bayi perempuan ditemukan di dalamnya.
Begitulah Timun Mas datang ke dunia. Tidak dengan suara petir. Tidak dengan cahaya dari langit. Ia datang bersama bau tanah basah dan suara hujan yang menetes dari daun pisang. Aku melihatnya beberapa hari kemudian. Bayi itu tidur di pangkuan Mbok Srini. Tangannya mengepal. Napasnya kecil dan teratur. Di dekat wajahnya terdapat sehelai rambut hitam yang menempel karena keringat. Mbok Srini tersenyum. Aku tidak tahu apakah pada saat itu ia masih mengingat ucapanku. Anak bukan milikmu. Barangkali manusia memang mudah mengingat hadiah dan cepat melupakan syarat.
Tahun-tahun berlalu. Aku tidak datang menagih apa-apa. Aku hanya mengawasi dari kejauhan. Timun Mas tumbuh seperti pohon kecil di halaman rumahnya. Mula-mula ia belajar merangkak di atas tanah yang penuh debu. Kemudian berdiri dengan berpegangan pada tiang bambu. Ia jatuh berkali-kali. Lututnya sering penuh luka. Mbok Srini akan membasuhnya dengan air hangat dan meniup luka itu seolah-olah tiupan seorang ibu mampu mengusir rasa sakit dari tubuh anak. Aku melihat semuanya.
Pada pagi-pagi tertentu, Timun Mas membawa bakul kecil ke sungai. Ia pulang dengan ikan-ikan kecil yang bergerak-gerak di dalam air. Kadang-kadang ia berhenti di tengah jalan hanya untuk memperhatikan capung yang hinggap di rumput. Ia tumbuh tanpa mengetahui bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari sebuah perjanjian.
Barangkali itu lebih baik. Sebab seorang anak seharusnya tidak dibebani dosa yang dilakukan sebelum ia mengenal dunia. Ketika berusia tujuh tahun, ia melihatku. Aku sedang berdiri di bawah pohon beringin. Tubuhku tertutup bayangan. Ia tidak berlari. Ia hanya memandang. Lalu tersenyum. Aku tidak pernah lupa senyum itu. Anak-anak belum mengenal cerita yang membuat mereka takut. Mereka melihat apa yang ada di depan mata. Bukan apa yang dikatakan orang lain.
Sejak hari itu aku beberapa kali melihatnya datang ke batas hutan. Ia tidak pernah terlalu dekat. Ia duduk di atas batu, membawa bunga atau ranting, lalu bercerita kepada dirinya sendiri. Kadang-kadang ia bernyanyi. Aku tidak pernah menjawab. Aku hanya mendengarkan.
Pada suatu sore ia meninggalkan sepotong singkong rebus di atas batu. Barangkali ia mengira aku lapar. Aku tidak menyentuhnya sampai ia pergi. Setelah ia menghilang di balik pepohonan, aku mengambil singkong itu. Masih hangat.
Mbok Srini akhirnya melihatku. Sejak saat itu semuanya berubah. Ia melarang Timun Mas pergi ke hutan. Pintu rumah lebih sering ditutup. Jendela dikunci sebelum matahari tenggelam. Cerita tentang raksasa mulai beredar dari satu rumah ke rumah lain. Ada yang mengatakan aku telah datang untuk mengambil Timun Mas. Ada yang melihat jejak kakiku di sawah. Ada yang bersumpah mendengar suaraku pada malam hari. Padahal aku tidak pernah datang ke desa. Ketakutan rupanya dapat berjalan sendiri. Ia tidak membutuhkan kaki.
Ketika Timun Mas beranjak dewasa, aku kembali melihat Mbok Srini di tepi hutan. Rambutnya telah memutih. Tubuhnya lebih kecil. Ia datang membawa sesaji. Aku melihat tangannya gemetar ketika meletakkan bunga dan dupa di atas tanah. Janji lama rupanya belum hilang. Ia hanya tertimbun tahun. Aku tidak meminta apa pun. Aku hanya ingin melihat Timun Mas.
Keesokan paginya, rumah mereka sepi. Timun Mas telah pergi. Ia berlari melewati pematang. Di belakangnya Mbok Srini menangis. Di tangannya terdapat empat buntalan kecil yang diberikan seorang pertapa: biji mentimun, jarum, garam, dan terasi.
Aku mengikuti dari kejauhan. Tidak berlari. Hanya berjalan. Sawah sedang menguning. Angin menggerakkan bulir-bulir padi seperti permukaan air. Kaki Timun Mas berkali-kali tergelincir di tanah basah. Kainnya robek pada bagian lutut.
Ia menoleh. Aku masih jauh. Namun, ia terus berlari. Biji mentimun dilemparkannya. Beberapa biji jatuh di lumpur. Tidak terjadi apa-apa. Hanya satu yang pecah. Dari retakan kecil itu muncul tunas hijau. Aku berhenti. Timun Mas juga berhenti. Kami memandang tunas itu. Kecil sekali. Hampir tidak terlihat. Ia tumbuh di antara jejak kaki manusia yang berlari. Aku tidak mengatakan apa-apa. Begitu pula Timun Mas. Ia kembali berlari.
Jarum-jarum dilemparkan. Berkilauan sebentar di bawah matahari sebelum jatuh ke tanah. Aku melewatinya. Garam ditaburkan. Angin mengangkatnya seperti kabut putih. Terasi pecah di antara rerumputan dan meninggalkan bau yang mengingatkan pada dapur-dapur rumah, pada ikan asin, pada tangan ibu yang setiap pagi mengolah makanan sebelum anak-anak bangun.
Semakin jauh kami dari desa, semakin lambat langkah Timun Mas. Akhirnya ia berhenti. Aku juga berhenti. Jarak kami hanya beberapa depa. Untuk pertama kalinya ia melihatku tanpa cerita orang-orang. Ia melihat wajahku. Barangkali ia menemukan sesuatu yang tidak pernah diceritakan ibunya. Aku tidak marah. Aku tidak lapar. Aku bahkan tidak ingin membawanya ke mana-mana.
Di belakangnya, langit mulai merah. Di kejauhan terdengar suara Mbok Srini memanggil namanya. Timun Mas menoleh. Lama. Kemudian ia bertanya, hampir seperti berbisik, mengapa aku datang.
Aku memandangnya. Kemudian ke arah desa. Kemudian kembali kepadanya. Aku tidak perlu menjawab. Barangkali pada saat itu ia telah mengerti. Yang datang mencarinya bukan aku. Yang datang mencarinya adalah janji yang pernah dibuat ibunya. Dan, yang selama ini ia lawan bukan tubuhku, melainkan ketakutan orang-orang yang tidak sanggup menerima bahwa seorang anak pada akhirnya harus memiliki jalannya sendiri.
Aku berbalik kembali ke hutan. Timun Mas tidak mengejarku. Ia berdiri lama di pematang, sampai bayanganku hilang di antara pepohonan.
Bertahun-tahun kemudian, orang-orang tetap menceritakan bahwa aku kalah. Mereka mengatakan Timun Mas berhasil menyelamatkan diri dengan empat benda ajaib. Mereka mengatakan tanah berubah menjadi lumpur, hutan bambu tumbuh, air meluap, dan terasi menelan tubuhku.
Aku membiarkan cerita itu hidup. Cerita kadang-kadang membutuhkan kebohongan kecil agar dapat diwariskan. Lagi pula, manusia lebih mudah menerima raksasa yang mati daripada raksasa yang mengingatkan mereka kepada dirinya sendiri.
Sampai hari ini aku masih tinggal di hutan. Kadang-kadang, ketika malam terlalu sunyi, aku mendengar suara langkah anak-anak dari kejauhan. Mereka datang untuk mencari kayu, bermain di sungai, atau sekadar mengejar kunang-kunang. Aku membiarkan mereka.
Harus tetap aku tegaskan, aku tidak pernah mengejar Timun Mas. Aku hanya berjalan di belakang sebuah janji. Dan sampai sekarang, aku masih berjalan. Barangkali suatu hari nanti manusia akan mengerti bahwa yang paling menakutkan dari sebuah janji bukanlah siapa yang datang untuk menagihnya, melainkan kenyataan bahwa setelah seseorang mengucapkannya, hidup tidak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri.
BIODATA
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.














