KALIMAT PERTAMA yang kalian dengar tentang aku adalah kebohongan. Mereka berkata aku kehilangan selendang. Mereka menulis namaku dalam cerita-cerita yang dibacakan ibu kepada anak-anaknya menjelang tidur. Mereka menggambarkanku sebagai perempuan langit yang tidak berdaya sebab selembar kain dicuri oleh seorang lelaki bumi. Mereka mengingat Jaka Tarub sebagai pemburu yang berhasil menemukan rahasia para bidadari, sementara aku dikenang sebagai perempuan yang terperangkap oleh cintanya sendiri.
Padahal tidak demikian. Aku tidak kehilangan selendang. Aku meninggalkannya. Perbedaan antara kehilangan dan meninggalkan mungkin tampak kecil bagi manusia. Kalian sering menyamakan keduanya sebab lebih mudah mempercayai seseorang yang dirampas daripada seseorang yang memilih melepaskan. Kehilangan membuat seseorang tampak sebagai korban, sementara meninggalkan mengandung keberanian yang sering tidak nyaman untuk diterima.
Sebab manusia lebih mudah mencintai cerita tentang seseorang yang tidak memiliki pilihan. Barangkali sebab dengan begitu manusia dapat merasa menjadi penyelamat. Aku tahu, suatu hari nanti akan ada seorang lelaki yang datang, mengambil selendang itu, lalu mengira bahwa ia telah memenangkan sebuah permainan yang tidak pernah ia mengerti aturannya. Aku ingin melihat wajahnya ketika ia menyadari bahwa sejak awal ia bukan pemain.
Ia hanya bagian dari cerita.
Di kahyangan, waktu berjalan berbeda. Tidak ada pagi yang tergesa-gesa mengejar siang. Tidak ada senja yang diam-diam mencuri warna dari langit. Cahaya selalu hadir dengan tenang, seperti doa yang tidak membutuhkan suara untuk didengar. Namun, di tempat yang penuh cahaya itu, aku sering bertanya tentang bumi. Bukan sebab bumi lebih indah. Justru sebab bumi memiliki sesuatu yang tidak dimiliki langit, yakni keterbatasan.
Manusia memiliki umur yang pendek, tetapi mereka mampu mencintai sesuatu seolah-olah waktu tidak pernah berakhir. Mereka kehilangan orang-orang yang mereka sayangi, tetapi masih menyimpan nama mereka dalam doa. Mereka tahu tubuh akan menua, tetapi tetap menanam pohon yang mungkin tidak sempat mereka nikmati buahnya.
Ada keindahan dalam sesuatu yang tidak abadi. Mungkin sebab manusia memahami arti pulang. Kami di kahyangan tidak pernah benar-benar kehilangan apa pun. Segala sesuatu ada dalam kesempurnaan. Tetapi justru sebab itu, kami tidak selalu memahami arti berjuang mempertahankan sesuatu.
Aku ingin mengetahui manusia. Aku ingin mengetahui mengapa makhluk yang diberi akal masih sering dikalahkan oleh keinginannya sendiri. Aku ingin mengetahui mengapa manusia sering mengira bahwa memiliki adalah bentuk tertinggi dari mencintai. Maka aku turun.
Bukan sebagai perempuan yang mencari suami. Bukan sebagai bidadari yang menunggu diselamatkan. Aku turun sebagai seseorang yang ingin membaca manusia seperti membaca kitab yang belum selesai ditulis.
Hari itu langit berwarna pucat. Embun masih menempel di daun-daun ketika aku dan enam bidadari lainnya turun ke sebuah telaga yang tersembunyi di antara pepohonan. Airnya jernih. Permukaannya memantulkan wajah langit seolah bumi sedang menyimpan cermin untuk Tuhan.
Kami melepaskan selendang di atas batu. Biasanya kami meletakkannya jauh dari jangkauan manusia. Tetapi hari itu aku berbeda. Aku memilih sebuah batu yang dekat dengan jalan setapak. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Cukup untuk ditemukan seseorang yang berjalan dengan mata penuh keinginan.
Salah seorang saudariku melihatku. “Kau sengaja melakukannya?” tanyanya.
Aku tersenyum. “Apa?”
“Meletakkan selendangmu di sana.”
Aku menatap air telaga yang bergetar disentuh angin.
“Aku ingin mengetahui sesuatu.” ujarku.
“Apa?” sambut saudariku.
“Apakah manusia masih dapat membedakan antara menemukan dan mengambil.” Jawabku. Ia terdiam. Barangkali ia menganggap pertanyaanku aneh. Tetapi bukankah banyak hal besar dalam kehidupan dimulai dari pertanyaan yang dianggap tidak perlu?
Jaka Tarub datang ketika matahari mulai naik. Aku melihatnya dari balik bayangan pohon. Ia membawa busur, tetapi bukan binatang buruan yang membuat langkahnya berhenti. Matanya tertuju kepada kami. Kepada perempuan-perempuan yang tidak biasa ia temui. Kepada cahaya yang tidak biasa ia lihat.
Dan kemudian kepada selendangku. Aku melihat sesuatu terjadi di dalam dirinya. Bukan kejahatan. Jangan bayangkan aku sedang menulis kisah tentang seorang lelaki buruk yang datang untuk menghancurkan hidup seorang perempuan. Tidak. Jaka Tarub hanyalah manusia. Dan manusia adalah makhluk yang selalu berada di antara bisikan kebaikan dan bayangan keinginan.
Ia tahu mengambil sesuatu yang bukan miliknya adalah kesalahan. Tetapi ia juga ingin percaya bahwa kesempatan yang datang kepadanya adalah hadiah. Begitulah manusia sering menipu dirinya sendiri. Mereka tidak mengubah kenyataan. Mereka hanya mengganti nama bagi keinginan mereka. Keserakahan disebut kesempatan. Ketakutan disebut kehati-hatian. Kepemilikan disebut cinta.
Tangannya mengambil selendang itu. Aku melihatnya. Aku mendengar detak jantungnya. Aku tahu saat itu ia merasa telah memenangkan sesuatu. Padahal sebenarnya ia baru saja memasuki sebuah pertanyaan yang akan membutuhkan seluruh hidupnya untuk dijawab.
Kemudian, aku tinggal di bumi. Aku menjadi istrinya. Aku mengenal pagi dengan cara yang tidak pernah kukenal di langit. Aku belajar bahwa suara ayam lebih jujur daripada bunyi lonceng istana. Aku belajar bahwa tangan yang kasar sebab bekerja dapat menyimpan kelembutan yang tidak ditemukan pada tangan yang selalu bersih. Aku belajar bahwa manusia sering menyembunyikan kesedihan di balik pekerjaan-pekerjaan kecil.
Aku menanak nasi. Aku menyapu halaman. Aku menunggu hujan. Aku mendengar anakku menangis dan tertawa. Dan, perlahan aku memahami mengapa manusia begitu mencintai bumi meskipun bumi penuh luka. Sebab hanya di tanah yang retak benih dapat tumbuh.
Jaka Tarub mencintaiku. Aku tahu itu. Tetapi cinta manusia sering membawa bayangan yang tidak disadarinya. Ia mencintaiku, tetapi di dalam cintanya ada keinginan untuk memiliki.
Ia menjagaku, tetapi sebagian dirinya takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah menjadi miliknya.
Maka aku memberinya sebuah batas. “Jangan membuka tutup dandang ketika aku menanak nasi.” tegasku. Ia menatapku.
“Mengapa?” tanyanya.
“Sebab ada hal-hal yang tidak perlu diketahui sebelum waktunya.” jawabku.
Ia mengangguk. Tetapi aku melihat keraguan kecil tumbuh di matanya. Aku mengenal keraguan. Ia seperti benih kecil yang ditanam di tanah lembap. Pada awalnya tidak terlihat. Namun, jika terus disiram oleh rasa penasaran, ia akan tumbuh menjadi pohon yang sulit ditebang.
Hari ketika ia membuka tutup dandang, aku sedang berada di halaman. Angin berhenti sebentar. Burung-burung seperti menyimpan suaranya. Aku tidak marah. Aku hanya merasa sedih. Bukan sebab rahasiaku terbuka. Rahasia tidak pernah takut diketahui. Aku sedih sebab manusia sering lebih percaya pada rasa ingin tahu daripada kepercayaan. Bukankah sejak awal manusia diciptakan dengan pertanyaan? Namun, tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan tangan. Ada yang cukup disimpan dalam hati.
Ketika kesaktianku dikatakan hilang, aku tersenyum. Manusia selalu mengira sesuatu yang tidak mereka lihat berarti telah lenyap. Padahal, banyak hal hanya memilih diam. Aku mulai menumbuk padi seperti perempuan bumi lainnya. Tanganku mengenal luka. Punggungku mengenal lelah. Tetapi anehnya, aku merasa semakin dekat dengan sesuatu yang selama ini kucari. Aku menemukan bahwa keterbatasan bukan hukuman. Keterbatasan adalah cara Tuhan mengajarkan manusia tentang rasa syukur.
Suatu sore aku pergi ke lumbung. Aku menemukan selendang itu. Kain itu masih sama.
Tetapi waktu telah membuatnya berbeda. Ada debu di permukaannya. Ada aroma rumah yang menempel di sana. Aku mengambilnya perlahan. Jaka Tarub melihatku. Wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya aku melihat seorang lelaki yang tidak sedang kehilangan seorang perempuan.
Ia sedang kehilangan cerita tentang dirinya sendiri. “Kau akan pergi?” tanyanya.
Aku menatapnya. “Aku selalu bisa pergi.”
“Lalu mengapa kau tinggal?” ujarnya penasaran.
Aku diam cukup lama. Sebab pertanyaan itu akhirnya bukan lagi tentang aku.
“Sebab aku ingin tahu apakah seseorang dapat mencintai tanpa merasa memiliki.” Ujaaarku. Ia menunduk.
Sebelum mengenakan selendang, ia bertanya, “Apakah kau pernah mencintaiku?”
Aku tersenyum. Kemudian aku jawab, “Aku mencintaimu.”
“Kalau begitu mengapa kau meninggalkanku?” tanyanya.
Aku melihat sawah, rumah, dan anak kami. “Aku tidak meninggalkanmu. Aku hanya mengembalikanmu kepada dirimu sendiri.” jawabku.
Ia tidak memahami sepenuhnya. Tidak apa-apa. Tidak semua hal harus segera dipahami. Dan tidak segala hikmah datang ketika manusia mendengarnya. Sebagian baru datang ketika kehidupan telah mengajarinya.
Aku mengenakan selendang itu. Langit terbuka. Namun sebelum kembali, aku menoleh sekali lagi. “Jaka.” Ia menatapku. “Menurutmu, siapa sebenarnya yang mencuri siapa?” tanyaku. Ia tidak menjawab. Barangkali sebab untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa selama ini ia bukan pencuri selendang. Ia adalah manusia yang sedang dicuri oleh keinginannya sendiri.
Berabad-abad kemudian, kisah kami terus diceritakan. Mereka menyebutnya kisah Jaka Tarub. Mereka mengatakan seorang lelaki menemukan selendang seorang bidadari. Mereka tidak pernah bertanya mengapa selendang itu berada di tempat yang mudah ditemukan. Mereka tidak pernah bertanya mengapa seorang bidadari yang mampu kembali ke langit harus menunggu seseorang mengambil jalan pulangnya.
Mereka hanya percaya pada cerita yang telah diwariskan. Dan mungkin itulah eksperimen terakhirku. Bukan untuk mengetahui apakah manusia dapat mencintai. Bukan untuk mengetahui apakah manusia dapat menjaga kepercayaan, melainkan untuk mengetahui apakah manusia berani mempertanyakan cerita yang membuat mereka merasa paling benar.
Sebab sejak awal, aku tidak sedang menguji apakah seorang lelaki dapat mencuri seorang bidadari? Aku sedang menguji apakah manusia mampu menemukan kembali dirinya setelah kehilangan sesuatu yang selama ini mereka kira telah mereka miliki.
BIODATA
Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak.














