MATA pelajaran Seni Budaya yang dipandu oleh Bu Rita, guru paling ramah di SMP Pikir Abadi, dimulai dengan sebait pernyataan tegas.
“Ingat, kecerdasan buatan atau e-ai ada untuk membantu kita, bukan sebaliknya.”
Bu Rita, yang memiliki motivasi dan dedikasi selangit terhadap dunia pendidikan, belum lama ini mendapat sosialisasi terkait penggunaan e-ai langsung dari wakil presiden. Pejabat pemerintahan nomor dua itu menginstruksikan seluruh tenaga pendidik untuk membekali siswa tingkat menengah dengan e-ai demi kemajuan dan pembangunan. Dengan e-ai, generasi muda negeri ini bisa terbang tinggi mengalahkan bangsa-bangsa kuat lainnya. Menciptakan rudal balistik sampai metamesta super-canggih. Ibarat memangkas ketertinggalan.
Dipikirnya, pemahaman soal e-ai generatif dapat dibuka melalui pendekatan budaya. Bu Rita sangat yakin, prompt tak ubahnya mantra sakti yang dirapal para leluhur terdahulu. Penjelasan ini pun memudahkan siswa untuk mengerti.
“Kita mulai dari yang paling sederhana. Hanya dengan menuliskan ‘mantra’ di kolom ini, e-ai mampu menghasilkan gambar yang kalian mau.”
Fokus anak-anak itu jatuh pada papan tulis yang dilimpahi cahaya dari proyektor bekas hasil patungan.
“Cuma dengan menulis?” tanya salah satu siswa.
“Betul! Anggaplah ini seperti japa mantra dalam tradisi kuno. Nah, biar asyik, mari kita coba bersama-sama.”
Bu Rita mengetik beberapa kata di kolom prompt menggunakan laptop.
“Buat gambar seekor kucing berbulu putih yang sedang tidur di atas karpet berpola batik.”
Tak perlu lima detik, sinar di papan tulis memancarkan ilustrasi sebagaimana yang diminta. Anak-anak lugu itu tertegun kagum, sebagian menggeleng-gelengkan kepala, sementara sisanya bertepuk tangan.
“Jika kalian menuliskan mantra yang lebih detail, gambar yang dihasilkan akan semakin mendekati bayangan yang ada di kepala kalian,” Bu Rita kemudian mengarahkan telunjuknya ke Ingka, sang ketua kelas, “sekarang giliran kamu,”
Ingka merenung sebentar lalu mengetik seutas kalimat.
“Buat foto seorang anak yang tengah belajar di kamar yang rapi dan sunyi, di situ tak ada orang, hanya tampak deretan buku yang berjejal di rak di belakangnya.”
Setelah tiga detik, gambar terbentang dengan elok. Bu Rita tersenyum. Ia tahu, Ingka tak memiliki kamar pribadi, apalagi sebersih yang tampak di gambar. Suasana rumahnya pun mustahil sepi karena di situ tinggal ibu, bapak, ketiga adiknya, satu pamannya yang belum menikah, serta kakek dan nenek.
Berikutnya, Bu Rita menyodorkan laptop ke Rafa, anak asuhnya yang tukang onar. Menurutnya, sifat bandel Rafa hanyalah buah dari pengabaian. Maka dengan memberi anak-anak tipe ini kesempatan dan perhatian, mereka bisa mengekspresikan potensi yang terpendam. Ketika laptop sudah di hadapannya, Rafa buru-buru memuntahkan isi kepalanya ke kolom prompt.
“Buat lukisan seorang pria berumur 20 tahun yang memakai jas dan dasi sedang berpose di depan garasi besar berisi 4 mobil mewah, rumahnya yang berarsitektur art deco dihiasi pohon cemara yang berjejer rapi di sepanjang teras, dari samping memancar kilau pagi, langitnya cerah berawan.”
Berkat perintah yang lebih rinci, Rafa melahirkan gambar yang lebih konkret ketimbang Ingka. Bu Rita melayangkan dua jempol. Ia ingat, Rafa selalu mengidamkan kehidupan yang mapan, sehingga dapat mengangkat derajat keluarganya yang melarat dan kerap menyambung napas dari antrean bansos.
“Selanjutnya… Kemila!”
Kemila tersentak. Walaupun dinobatkan sebagai anak dengan otak paling cemerlang, belum setitik pun ide yang muncul di benaknya. Ia berjalan gontai ke meja guru di depan kelas.
“Bagaimana jika bayangan gambar yang kuinginkan tak pernah ada dalam kepalaku?” Kemila berbisik.
Bu Rita kelimpungan. Ia harus merawat wibawanya sebagai guru meskipun wawasannya terhadap e-ai juga masih terbilang belia.
“Dengan ini, kamu bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaanmu. Uraikan mantramu sejelas mungkin berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang kamu jumpai lewat buku, artikel di internet, bahkan obrolan orang, agar hasilnya memuaskan dan nyata. Sesudah itu, tekan tombol ‘Enter’ dan tunggu.”
Kemila sekilas menatap plafon kelas yang kusam. Setelah beberapa saat, ia mempersiapkan mantranya.
“Buat potret dua orang, satu perempuan dan satu lelaki. Tema realistis lembut, warna hangat keemasan, gaya pencahayaan sinematik, resolusi tinggi, komposisi vertikal (portrait), rasio 3:4. Perempuan berusia 5 tahun, berwajah lonjong dengan pipi yang tembam kemerahan, kulit langsat yang menjurus ke pucat, alis agak tebal, cuping hidung yang sedikit lancip, dahi yang tak terlalu lebar, rambut hitam pekat bergelombang sebahu, tak memakai bando ataupun aksesori lainnya, lengan yang kurus dilipat ke dada, seperti menggenggam jiwa yang
mencungul dari celah rusuk, tengkuknya tegak, ada sepasang anting mungil di telinga, kakinya dirapatkan, tertutup setelan elegan dan sopan berupa gaun bernuansa hitam campur kuning di bawah lutut, dengan sepatu flat hitam mengilap tanpa hak. Di belakang sang perempuan tampak lelaki jangkung dengan tatapan yang hangat meskipun nyaris tak pernah tidur karena gunungan utang akibat judi akut yang tiada putus, hidung mancung yang agak bengkok ke kiri lantaran berulang kali dipukuli imbas menggondol teve dari kompleks elite seberang, rahang yang tirus dengan segaris codet dan cambang tipis yang urung diucukur selama 3 pekan, rambut hitam pendek yang kaku dengan pitak di bagian kanan yang didapat setelah diseret sejauh 100 meter karena meniduri istri bos petopan, alis berbentuk cekung seperti huruf ‘M’, jakun yang timbul, kemeja bercorak kotak-kotak lusuh yang dipakai tiap kali hendak berbohong bahwa dirinya betul-betul sedang bekerja di bursa efek, celana denim biru tua bermerk lokal yang robek di sekitar paha atas, cincin batu akik kecubung ungu di telunjuk kiri hasil curian di Pasar Rawa Bening, kerutan di area pelipis, rajah bermotif ular belerang setengah jadi yang dicacah secara manual saat mabuk oleh kawan yang sama-sama mabuk, bibir yang menghitam dan deretan gigi yang menguning imbas berbatang-batang keretek yang tiada henti (bagian gigi tak perlu ditampilkan), aroma napas berbau anyir imbas dari minuman oplosan, sepatu lars kumal yang dihadiahi kenalan militernya usai membantu merobohkan halte saat demonstrasi besar-besaran di ibu kota, ikat pinggang cokelat tua yang sudah terkelupas di dekat gesper, perut buncit yang disebabkan oleh tumpukan santan dan alkohol selama puluhan tahun, serta bola mata yang mirip dengan sang perempuan, dua mata yang sejatinya dikutuk menjadi pemurung di sisa hayat. Lelaki itu sedang berpose memeluk sang perempuan yang duduk di atas bangku kayu berpelitur, menghadap kamera dengan senyum yang tak pernah dilihat dan muskil dilukiskan oleh sang perempuan. Fokus pada ekspresi sang perempuan yang terlihat lega, bahagia, dan penuh kerinduan karena akhirnya bisa bertemu sang lelaki yang menelantarkannya, yang kabur entah ke mana, yang semestinya ia panggil….”
Kemila sadar, itu bukanlah mantra yang lazim, dan justru terkesan berlebihan. Bagaimana nantinya jika ada murid yang kesal karena mengantre giliran? Renungnya. Maka, ia mengetik mantra yang lebih ringkas.
“Bikin gambar seorang anak perempuan dan ayahnya.”
Selesai. Kemila menekan tombol “Enter”.
BIODATA
Muhammad Faisal Akbar lahir di Jakarta dan bermukim di Depok. Sederet karyanya, fiksi maupun non-fiksi, telah dimuat di sejumlah media. Kini bekerja di gudang penerbitan buku.














