SAYA tak menyangka Pandya akan “pergi” secepat ini. Kabar kepergiannya pada 11 Agustus 2026 terasa sangat mengejutkan. Terlalu mendadak, terlalu cepat. Rasanya baru kemarin kami berbincang tentang kesenian, lomba baca puisi, monolog, dan rencana-rencana yang belum sempat diwujudkan. Kini, sahabat saya sejak zaman mahasiswa itu telah “pergi” menuju tempat yang sejak lama dirindukannya.
I Putu Wirasa Pandya—yang kemudian dikenal pula sebagai Sri Mahaprabhu Prahlada Pandya—bukan sekadar seorang pelukis. Ia adalah orang yang hidup dengan banyak bakat seni dalam dirinya. Ia melukis, bermain teater, menari, menikmati sastra, dan memiliki perhatian yang besar terhadap kehidupan spiritual. Dalam dirinya, seni dan spiritualitas seperti dua sungai yang akhirnya bertemu di satu muara.
Kami bersahabat sejak era mahasiswa. Pandya kuliah di Jurusan Seni Lukis STSI Denpasar (kini ISI Bali), sementara saya menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Kampus kami berbeda, tetapi dunia yang kami masuki kurang lebih sama, yakni dunia anak muda yang sedang mencari bentuk bagi kegelisahan, gagasan, dan keyakinannya. Pada masa itu, kesenian bagi kami bukan sekadar kegiatan, namun cara memandang dunia.
Pandya yang saya kenal era itu adalah anak muda yang bersemangat. Selain melukis, ia senang bermain teater dan menikmati sastra. Ia juga ikut terlibat dalam aksi-aksi Reformasi 1998, ketika jalan-jalan dipenuhi demonstrasi dan negeri ini sedang berada di persimpangan sejarah. Kami menyaksikan sebuah zaman berubah dari dekat. Ada keberanian, kegelisahan, kemarahan, juga harapan yang tumbuh di antara anak-anak muda pada masa itu. Banyak kenangan bersamanya yang tak terlupakan.
Namun, seperti sering terjadi dalam kehidupan, persahabatan pun kadang mengalami jarak. Kesibukan, perjalanan masing-masing, dan perubahan arah hidup membuat kami lama tak berjumpa. Pandya kemudian semakin suntuk mengurusi Pesraman Kayu Manis di Tegalmengkeb, Tabanan. Di tempat itu ia bukan hanya menjalani kehidupan spiritual, tetapi juga membangun sebuah ruang perjumpaan, yakni Tegalmengkeb Art Space.
Barangkali di sanalah saya melihat perubahan terbesar dalam diri Pandya. Ia tidak lagi sekadar menjadi seorang seniman yang berkarya untuk dirinya sendiri. Ia mulai menjadi seseorang yang membuka ruang bagi orang lain untuk berkesenian dan berkegiatan spiritual.
Pada Januari 2026, setelah lama kami tak berjumpa, tiba-tiba Pandya menghubungi saya. Ia menggagas Lomba Baca Puisi se-Bali dengan hadiah yang cukup besar. Saya diminta membantu mengonsep acara sekaligus menjadi juri, bersama Dewa Jayendra dan Kardanis Muda Wijaya. Saya menyambut ajakannya dengan gembira. Kami menggelar rapat di Tegalmengkeb.
Pertemuan itu seperti membuka kembali pintu persahabatan yang sempat lama tertutup. Kami kembali berbicara tentang puisi, penyair, kesenian, anak-anak muda, dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan dari sebuah tempat kecil bernama Tegalmengkeb.
Lomba itu berlangsung lancar dan sukses. Tetapi belakangan saya menyadari, mungkin lomba tersebut bukan semata-mata sebuah acara kesenian bagi Pandya. Ada kerinduan yang lebih dalam di baliknya. Ia sedang merindukan dunia seni yang pernah menjadi bagian penting dari hidupnya. Ia sedang merindukan teman-teman lamanya. Ia sedang memanggil kembali sesuatu dari masa mudanya yang pernah begitu akrab dengannya.
Dan ternyata, kerinduan itu belum selesai. Pada pertengahan Juni 2026, Pandya kembali menggagas acara kesenian. Kali ini lomba monolog se-Indonesia, dengan hadiah yang juga cukup besar. Saya kembali diminta menjadi juri bersama Jayendra dan Kardanis. Saya merasa seperti sedang menyaksikan seorang sahabat yang menemukan kembali rumahnya. Rumah itu bernama kesenian.
Sejak 2023, Pandya juga mulai kembali melukis setelah cukup lama meninggalkan aktivitas tersebut. Kali ini ia melukis dengan tema-tema spiritual. Ada pencarian batin di dalam karya-karyanya, seperti seseorang yang tidak lagi hanya ingin membuat gambar, tetapi ingin memahami sesuatu yang lebih jauh daripada bentuk. Saya pernah diminta menulis dan membahas karya-karya tersebut dalam sebuah tulisan seni rupa yang kemudian dimuat di sebuah media online. Saya bersyukur pernah mendapat kesempatan itu.
Sebab sekarang, ketika Pandya telah pergi, saya melihat karya-karya tersebut dengan cara yang berbeda. Lukisan-lukisannya terasa seperti bagian dari percakapan panjang yang sedang ia lakukan dengan dirinya sendiri. Percakapan tentang manusia, kehidupan, Tuhan, dan perjalanan menuju sesuatu yang tak kasatmata.
Pertemuan terakhir kami terjadi dalam lomba monolog itu. Tanggalnya 24 Juni 2026. Hari itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-53. Malam itu sekaligus menjadi malam penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba monolog. Saya masih bisa membayangkan suasananya. Orang-orang berkumpul, percakapan berlangsung, para pemenang menerima penghargaan, dan Pandya berdiri sebagai tuan rumah di tengah orang-orang yang datang karena kecintaan kepada seni. Saat itu, Pandya sangat banyak berpidato dan memberi wejangan kepada hadirin. Pandya tampak sangat cerewet seperti butuh perhatian lebih.
Tak ada yang menyangka bahwa pertemuan itu akan menjadi pertemuan terakhir kami. Pada malam tersebut Pandya menyampaikan sebuah rencana. Tahun depan, katanya, ia ingin menggelar Lomba Baca Puisi se-Indonesia. Saya mendengarnya sebagai sebuah rencana besar. Sebuah gagasan yang akan kami bicarakan lagi ketika waktunya tiba.
Ternyata tidak. Pandya keburu “pergi”. Pandya “pergi” sebelum lomba itu sempat dilaksanakan. Pergi sebelum kami kembali duduk bersama membicarakan puisi dan para penyair. Pergi sebelum rencana-rencana kesenian lainnya selesai diwujudkan.
Ada sesuatu yang terasa ganjil dalam kematian seorang sahabat seniman. Tubuhnya pergi, tetapi gagasan-gagasannya masih berkeliaran di antara kita. Mungkin begitulah cara seorang seniman tetap hidup.
Ia meninggalkan lukisan. Meninggalkan panggung. Meninggalkan kata-kata. Meninggalkan ruang bagi orang lain untuk berkarya. Dan yang paling penting, meninggalkan kenangan pada orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Pandya telah melakukan semua itu. Sebagai pendiri Tegalmengkeb Art Space dan pinisepuh Pesraman Kayu Manis, ia meninggalkan sebuah ruang yang lebih luas daripada bangunan dan halaman. Ia meninggalkan ruang perjumpaan—tempat seni, spiritualitas, persahabatan, dan pencarian manusia bertemu.
Kini saya hanya bisa mengenang perjalanan panjang itu dengan perasaan yang campur aduk. Sedih, tentu. Tetapi juga berterima kasih. Terima kasih karena ia pernah menjadi sahabat saya sejak masa muda. Terima kasih untuk percakapan-percakapan yang pernah kami lakukan. Terima kasih karena kami masih sempat bertemu kembali dalam kesenian. Terima kasih karena melalui Tegalmengkeb, ia kembali mengingatkan bahwa seni tidak selalu membutuhkan gedung besar, dana besar, atau panggung megah. Kadang-kadang seni hanya membutuhkan seseorang yang percaya bahwa pertemuan manusia melalui seni masih penting.
***
Pandya, sahabatku, kau “pergi” terlalu cepat. Masih banyak puisi yang belum kita dengarkan. Masih banyak monolog yang belum kita saksikan. Masih banyak lukisan yang mungkin akan lahir dari tanganmu. Masih banyak gagasan yang belum sempat kita bicarakan.
Dan ada satu lomba baca puisi se-Indonesia yang tahun depan seharusnya kita kerjakan bersama.Tetapi mungkin, seperti keyakinan yang selama ini kau hidupi, perjalanan manusia memang memiliki waktunya sendiri. Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan sebuah perjalanan harus berakhir.
Kali ini kau telah sampai lebih dulu. Mungkin di sana tidak ada lagi jarak antara puisi dan doa. Tidak ada lagi batas antara lukisan dan meditasi. Tidak ada lagi panggung yang harus disiapkan, hadiah yang harus diserahkan, atau lomba yang harus diselenggarakan. Mungkin di sana kau sedang menemukan sebuah panggung yang jauh lebih luas. Dan mungkin kau sedang menulis puisi yang tidak akan pernah selesai.
Selamat jalan, Pandya. Selamat jalan, sahabatku. Terima kasih telah pernah hadir dalam perjalanan hidupku. Damailah di Alam Maha Puisi. Di sana, barangkali, kau akhirnya menemukan bait terakhir yang selama ini kau cari.***
*penulis adalah penyair.














