AICHI, Balipolitika.com- Kontingen Indonesia akhirnya resmi memecahkan kebuntuan medali emas pada ajang Asian Games 2026. Kepastian gelar juara lahir dari arena bulu tangkis beregu putra.
Partai final digelar di Ichinomiya City Sports Gymnasium, Aichi-Nagoya, Kamis (24/9).
Merujuk Regulasi Penyelenggaraan Turnamen BWF Seksi Empat tentang Poin Beregu, skor akhir disahkan. Merah Putih mengunci kemenangan agregat tipis 3-2 atas tim putra China.
Pecah telur di Jepang. Moh Zaki Ubaidillah keluar sebagai juru selamat pada partai kelima yang menegangkan.
Pebulu tangkis yang akrab disapa Ubed itu mengandaskan perlawanan sengit Weng Hongyang. Laga tuntas dua gim langsung dengan skor 23-21 dan 21-13.
Gim pertama berjalan sangat alot. Kedua pemain saling kejar angka hingga masa setting.
Mental Ubed berbicara. Smes kerasnya mengunci kemenangan krusial. Tribune stadion langsung bergemuruh menyambut sujud syukur sang pemain.
Tetapi skenario kemenangan Indonesia sejatinya harus dirintis lewat jalur terjal dan mendebarkan. Pasukan Merah Putih sempat tertinggal telak 0-2 terlebih dahulu.
Kecemasan sempat menyelimuti bench tim. Tunggal pertama Jonatan Christie gagal membuka angka pembuka usai tumbang di partai pembuka.
Nasib serupa dialami ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri pada partai kedua. Pasangan racikan baru itu takluk di hadapan wakil Negeri Tirai Bambu.
Dua poin lepas berurutan. Indonesia berada di bibir jurang kekalahan. Sebaliknya semangat pantang menyerah justru menyengat tunggal putra kedua Alwi Farhan.
Alwi memangkas jarak ketertinggalan menjadi 1-2 lewat pertarungan spartan tiga gim. Napas tim Merah Putih kembali tersambung.
Peluang emas terbuka lagi. Pasangan ganda Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin lantas menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Duet The Babbies tampil sangat beringas meredam gempuran lawan di depan net.
Gim pamungkas jadi penentu. Singkatnya Ubed masuk lapangan membawa beban raksasa sebagai penentu nasib kontingen Indonesia. Ketenangan menjadi kunci utama.
Pemain muda itu bermain sangat taktis dan minim melakukan kesalahan sendiri. Penempatan bola silangnya mematikan langkah Weng.
Ubed sukses menunaikan tugas berat ini secara paripurna, kata pelatih di pinggir lapangan. Lawan dibuat mati kutu. Kemenangan dramatis ini mengantongi catatan sejarah yang teramat prestisius bagi olahraga nasional.
Pasukan putra Indonesia sukses mengulang memori manis Asian Games 1998 di Bangkok. Kala itu, armada pimpinan Rexy Mainaky dan Taufik Hidayat merebut medali emas beregu.
Penantian panjang 28 tahun tuntas sudah. Dahaga emas beregu putra terbayar lunas di tanah Jepang.
Lagipula tambahan sekeping emas ini langsung mendongkrak posisi tim Merah Putih di klasemen. Koleksi medali Indonesia menyamai raihan Singapura, Filipina, Myanmar, dan Vietnam.
Peringkat negara kawasan Asia Tenggara makin ketat, imbuh ofisial Komite Olimpiade Indonesia.
Persaingan perebutan podium tertinggi belum berakhir.
Selanjutnya para pilar bulu tangkis nasional bersiap mengalihkan konsentrasi menuju nomor perorangan. Modal emas beregu membakar motivasi bertanding mereka.
Target medali berikutnya dibidik.
Evaluasi kebugaran fisik pemain mulai dijalankan tim medis pelatnas, beber staf pendamping. Pemulihan stamina harus dipercepat sebelum babak utama perorangan bergulir.
Dengan demikian kontingen Garuda berhasil mematahkan dominasi raksasa China di partai puncak. Mental bertarung para pebulu tangkis muda terbukti berkarakter baja.
Pesta kemenangan dirayakan haru di ruang ganti pemain. Lagu kebangsaan Indonesia Raya akhirnya berkumandang lantang di Aichi.
Pada akhirnya ketenangan seorang Moh Zaki Ubaidillah menasbihkan kebangkitan bersejarah bulu tangkis tanah air di panggung Asia. Peluit akhir mengunci kejayaan Merah Putih. (BP/CHA).













