HUJAN UNTUK PUTIH BIRU
Tangisan sendu pagi hari itu
Di saat purnama terlena mimpi
Di saat matahari menemani embun
Tiba-tiba retak sudah hatiku
Hujan seketika turun
Seakan berduka dalam gemuruhnya
Bentala seakan tak percaya ketika,
Insan tak sempurna disucikan dengan air mata
Insan gagah itu dikebumikan
Terangkat dengan senyuman menuju langit nirwana
Butir air mata menggenang pada buku catatan terakhir
Senyuman itu bagaikan kenangan menggema yang tiba-tiba
Seharusnya dengarkanlah
Bagaimana malaikat maut membacakan puisi tentang dia
Di sela-sela tinta menulis kata abadi
Dan tawa buku diary mengejek pada pena
Kelas-kelas menuju masa depan
Seluruhnya tertunduk lesu penuh pertanyaan retorika
Air mata semu membuat alunan nada di kertas
Mengenai tajuk perasaan tak tersampaikan dirinya
Maaf dari kami,
Seharusnya kami dengar deru nafas hatimu
Itulah kata terakhir kami untukmu sang Bestari
Syair kehidupanmu selalu kami maknai dalam setiap bait
BIARKAN AKU DIRAYU HARU
Untuk malaikat paling berdosa, yang membuatku jatuh dalam jiwa berangan;
Haruskah aku pergi ke gereja demi mengakui itu semua?
Atau aku simpan karena banyak insan tak pernah yakin kau ada?
Di sini,
Di bumi penuh manusia ini,
Yang bahkan laut enggan membisikkan rahasianya pada mereka
Perpustakaan adalah saksi,
Namun apakah buku-buku mengangguk ketika aku dengan gugup bercerita padamu?
Bisakah mereka melihat sayap lebar yang surga usir itu?
Atau itulah bentuk dari nafsuku yang membusuk penuh aroma harum?
Tak ada yang kupercaya,
Bahkan tangan ini seakan tersenyum dingin ketika kau menggenggam nya
Ntah, kau bilang kau datang dari bintang
Sayapmu hanya ilusi
Kau bilang kau bukan tokoh protagonis
Hanya seonggok bayang untuk cerita ini tetap hidup
Biarkan aku dirayu haru,
Walau belum saatnya kehilanganmu
Kau semakin membuatku menunggu dalam takut
Akan ada hal dari dirimu yang dibunuh lalu jatuh padaku
Apapun itu,
Kan ku panggil kau Malaikat Paling Berdosa,
Yang menggenggam tanganku dan menyelipkan sebuah kata,
Rahasia.
JIKA MEREKA BISA MENYAMPAIKAN
Yang jadi memoriam, bercerita akan luruhnya setia;
Maaf dari bintang pada matahari,
Bahwasannya ia tak bisa menjaga kita
Saksi dari bintang untuk matahari,
Bahwasanya kita menyesap kata luka
Aku direngkuh nyawa yang pergi
Tepi bibirmu dikecup sesal
Air mata menilik abu hatiku
Yang serakah menghalau indah
Pijar bintang sebelum ia hancur, mengiringi sabda yang ditulis penulis tentang kita;
Wahai pemeran utama
Lantunan orkestra itu mati
Sinambung cinta yang huru-hara
Dan peranmu yang dijerat rintih
Aku tak ingin menunggu pagi,
Membiarkan patah hatimu kusut di atas nisan
AKU BENCI HALAMAN TERAKHIRMU, TUAN
Bab 34, kau ketik judul ‘pulang’
Seakan menulis tiap bait itu hanya rayuan
Lidah kelu dengan spontan
Aku layu dibuat kau, tuan
Ugi, Ugi, Ugi
Tulisan bencanamu itu kelu
Hampir aku cium penamu
Hampir aku bawa terbang halaman itu
Hampir aku tertawa akan imajinasimu
Ugi, Ugi, Ugi
Kau katakan ‘Nataga’ bagai dewa
Tapi dia menjauh dari arus rinca
Ini bukan ‘pulang’ !
Kau tutupi parang diantara spasi halaman
Yang menunggu ku terluka akan ending yang kau buat
Rona pipi senja di ufuk barat
Membias padu langit yang hampir menangis
Di pinggiran pantai tanah komodo
Binatang-binatang berjajar penuh duka
Mengingat harum ‘Enam Sang Naga Beo’
Aku tak ingin mengatakan banyak
Aku tak ingin mensyiarkan luka
Aku tak ingin membicarakan duka
Aku tak ingin digoda lara
Tapi
Aku tetap benci halaman terakhirmu, tuan.
SAKSI DERET KURSI
Lirih gunjingan para kursi
Pagi jelang apel Senin
Mereka tak pernah tahu
Strategi murid-murid itu memilih mereka
Guru-guru bercerita khayal
Rumus penuh cemburu terbentang halaman
Tak pernah dipilih sejati
Para kursi menopang dosa murid-murid
Buku digores tinta yang murung
Menulis tanggap paksaan kecerdasan buatan
Rusak wawasan dirasuk untaian layar
Sebagian kertas hilang dimakan kalam sia-sia
Dan lembar ujian tertawa remeh
Bagai filosofi mati diketik pada kertas
Murid-murid menerima angka yang nihil
Meja-meja penuh dansa
coretan sinis tertatap
BIODATA
Hurul Aini Az-Zahra, lahir di pulau besar Kalimantan tepatnya pada 16 April 2009, Kota Banjarmasin. Anak sekolahan yang masih berada di jenjang SMA, berlokasi di SMAN 5 Banjarbaru, jurusan IPA. Pernah mencoba melangkah pada perlombaan FL3SN di tahun 2025, menjadi juara harapan yang membuka hatinya untuk terus menulis karya. Tidak ada jejak karya digital, hanya Instagram sunyi @decalcomanie_zza.










