Juriat Dari Rahim Aksara
Dulu, kulukis garis waktu pada batin yang lengang,
tentang kepak sayap-sayap mungil yang belajar bertualang,
hingga tiba masanya mereka mengepak lebih tinggi,
membangun sarang-sarang
Kita adalah langit pertama tempat mereka mengeja arah
Lalu, di ujung hari yang tanggal,
kita kembali mengecap senyap
Tapi lihatlah,
ternyata buah hati kita benar-benar telah lahir satu per satu
Benih-benih ruhani yang engkau titipkan di rahim puisiku,
begitu elok mengenakan jubah dari air mata kerinduan
Mereka tidak perlu timbangan dari bumi,
sebab berat jiwanya adalah keikhlasan cinta yang kita dekap
Tak ada tangis pertama yang pecah,
sebab nadinya adalah gema bait yang kau titipkan pada detak semesta
Mereka mewarisi dalamnya telaga matamu,
dan ketabahan jemarimu yang tekun menenun kenangan
Mereka merangkak di antara senyap spasi,
berayun manja di lekuk tanda baca,
menjelma pendar kunang-kunang di pikiran setiap orang
Mereka enggan lekang, meski kelak raga kita luruh
Sebab riwayat anak-anak kita yang lahir dari ceruk sunyi aksara,
adalah jejak kekal yang bakal kita tinggalkan
Dulu, jemariku gemar mengeja kerut di keningmu,
meramal nasib senja sembari menghitung helai demi helai rambut
yang kian memutih
Pernahkan kita bersepakat mengikat janji berkalang tanah di hadapan waktu?
Bukankah kita telah sama-sama tahu,
takdir kerap melipat jarak dengan tergesa
Kelak dari kejauhan,
engkau menatapku sebagai seorang renta,
yang membiarkan rumah penuh memori
Sementara kursimu di sebelahku,
meskipun tak pernah engkau singgahi tetap ada menemani
Hari ini, aku semakin jatuh cinta pada sepi
Pikiran menuntunku pulang,
melompati pagar waktu yang ranggas,
menuju masa lalu yang terlewat lampau
Bahkan jauh sebelum namamu mengeja di dadaku
Aku adalah petualang yang pulang menjemput diri sendiri,
mengasuh juriat-juriat ruhani kita
untuk mengabadikan hidup di jantung kemustahilan
Semarang, 2026
Di Antara Sauh dan Pasang
Lelaki bersarung tenun endek
memainkan kaki-kakinya di pasir pantai
Memandang gelombang yang tengah meramal nasib
Ataukah badai sedang mengetuk hari
Segala yang terapung kian gamang,
terayun di antara sauh dan pasang
Di batas cakrawala, seorang gadis melepas resah,
melarungkan risau pada rona langit
Buih-buih menyusup,
menembus jukung-jukung yang bersandar
Kembang pandan laut mekar,
luruh tersapu air
Derit ombak membawa kabar lama
Di dasar laut Sanur yang paling dalam
Musim semi telah bermula
Angin pesisir membawa kerinduan paling sunyi
namun begitu menenangkan
Semarang, 2026
Ketika Malam Luruh Tanpa Sisa
Engkau tak pernah ingkar, Gusti
dari setiap lara yang mengalir,
akulah sulung yang pertama lahir
Duhai derita yang merajam,
tangguhkan diri dari belenggu ini
Biarkan napasku kuat meraba sunyi
Nyala obor terasa dingin, nyaris padam
Waktu merayap lambat,
membawa sekerat sukacita yang lebur,
karam dalam pelukan duka
Di dalam dadaku,
malam luruh sepenuhnya,
pekat tanpa sisa cahaya
Sayap-sayap pengharapan mengepak jauh,
kian memudar
Dalam tikaman takdir,
Kepingan hatiku berpindah haluan
Aku terkoyak luka dan kehilangan
Dan hari-hari setelah sedu sedan itu?
Hanyalah puing-puing waktu yang berserakan,
menjelma abu yang pasrah ditiup angin ketidakpastian
Semarang, 2026
Titah Benih
Di kedalaman malam yang luruh,
pulau-pulau sunyi karam di samudera maha luas
Ketika bumi lahir kembali dari rahim sepi,
desau daun-daun berbisik lirih
Langit lunglai dalam sujud panjang
Sebab segala yang fana akan hidup abadi
Maka, ketika titah-Mu berlabuh,
jatuhkan aku sebagai benih-benih suci rebah di atas tanah
Tersebar menembus pekat garba bumi,
tumbuh menjadi cinta yang merekah
Semarang, 2026
Pucuk-Pucuk Pinus
Pucuk-pucuk pinus merayap mendaki lingkar puncak tertinggi
Kembangnya riuh gugur berjatuhan
Di lengkung ranting dan hening dahan,
angin malam menepi,
tetirah dalam dekap yang sunyi
Cericit burung-burung kecil merajut sarang
di pucuk-pucuk pinus penuh sorak sorai
Di bawahnya, seorang pengelana rebah bersandar,
menderas doa-doa sunyi
Dalam pekat wangi pinus yang mendekap
Aroma purba yang menjalar teduh,
meraba sukma yang tengah berduka
Semarang, 2026
BIODATA
Leenda Madya, lahir di Wonogiri, 9 Agustus 1984. Lulusan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro yang mencintai dunia sastra dan literasi. Menerbitkan buku puisi tunggal berjudul Kenang Aku Sebagai Penyair, Liburan Penyair ke Negeri Anggur, Dongeng Penyair untuk Kekasihnya, Setiap Orang Adalah Penyair, Setiap Hari Adalah Ibu, Di Tiongkok Kecil Matahari Tenggelam Dalam Sungai Yang Panjang, dan novel berjudul Candikolo. Tahun 2026 menerbitkan antologi puisi berjudul Luminari.













