Beberapa Hal Tidak Akan Menyelamatkanmu
Air putih delapan gelas sehari
tidak akan menjangkau tempat itu.
Kau tahu tempat yang kumaksud:
yang letaknya tidak di dada,
tidak di kepala,
tetapi di suatu titik antara keduanya,
yang tidak punya nama
di anatomi mana pun.
Orang bilang waktu adalah tabib.
Tetapi tidak ada yang menuliskan dosisnya,
jadi kau duduk di kursi tunggu bernomor ganjil,
memegang kertas antrean
yang sudah kusut di lipatan keempat,
dan nama yang dipanggil
selalu nama orang lain.
Playlist yang dirancang
menenangkan saraf,
kau sudah coba.
Empat puluh dua menit,
lalu berhenti di lagu ketujuh,
karena sesuatu di nadanya
justru membuka pintu
yang sedang kau usahakan tutup.
Luka tertentu tumbuh gigi.
Bukan untuk menyerang,
ia mengunyah pelan
bagian yang paling tidak kau jaga,
karena kau pikir tidak ada yang tahu
bagian itu ada.
Sertifikat vaksin di dompetmu,
tertanggal dua tahun lalu.
Ia melindungi dari sesuatu yang berbeda,
dari sesuatu yang cara masuknya
tidak melalui udara.
Di akhir hari,
kau masih hidup,
dan rasa sakit itu juga masih hidup,
duduk di sebelahmu,
menyebut namamu dengan nada
orang yang sudah lama kenal,
dan tidak perlu mengetuk pintu lagi.
Kau tidak tahu itu berita baik atau bukan.
Kau hanya tahu
namamu masih dikenali
oleh sesuatu,
meski bukan sesuatu
yang kau pilih untuk mengenalmu.
Bekasi, 18 Juli 2025
SAAT BUMI GONJANG GANJING, MARI KITA DANCING
Bumi gonjang ganjing, darling,
dan aku masih ingat celah di ubin lantai dapurmu,
yang menelan satu kancing jaketku
waktu kita bertengkar soal siapa yang salah
menutup pintu.
Kancing itu tidak kita cari.
Kita biarkan jatuh
ke sela yang terlalu sempit untuk jari,
terlalu kecil untuk diratapi,
terlalu nyata untuk dilupakan.
Kata-kata meluncur,
bukan seperti pisau,
tapi seperti sendok sup yang terjatuh:
mengenai lantai, memantul ke kaki,
meninggalkan bekas merah
yang tidak cukup parah untuk ditunjukkan,
tapi cukup untuk diingat
sampai besok pagi.
Kita menari di dapur yang terlalu kecil,
di antara kursi yang belum digeser,
di atas ubin yang menyimpan kancingku.
Pinggulmu menabrak meja,
aku terkekeh,
dan untuk sebentar
bumi berhenti gonjang ganjing
karena sedang kita ambil alih.
Kekosongan tetap ada, darling,
ia tidak pergi,
hanya duduk di pojok,
sambil menonton kita
mencoba mengangkat kaki lebih tinggi
dari yang seharusnya.
Malam datang seperti biasa.
Kota tidak peduli.
Dada kita bergerak seperti drum bocor,
masih berbunyi,
tapi ada yang keluar
lewat lubang yang tidak kita tahu
sejak kapan ada di sana.
Tapi kita masih di sini,
di lantai yang sama,
di atas kancing yang sama,
menari dengan cara yang tidak pernah
ada di tutorial mana pun,
sempoyongan,
dan tidak berhenti.
2026
BARAK MILITER
Beredar kabar,
orang-orang yang gemar bertanya kapan nikah
akan dikirim ke barak militer.
Di sana mereka dilatih
menutup mulut,
pelajaran yang ternyata
lebih berat dari menahan lapar.
Setiap pagi push-up seribu kali,
sambil teriak lantang:
status hubungan bukan urusan negara!
Siang hari cuci piring berjajar,
menyalin laporan tentang
manfaat hidup sendiri,
beserta risiko mencampuri hidup orang lain.
Malam hari dihukum hormat bendera,
sampai benar-benar paham
bahwa cinta
tidak bisa dipaksa,
tidak bisa dijadwalkan
seperti upacara.
Lulus dari sana,
mereka pulang dengan mulut rapat,
tangan di belakang punggung,
hanya bertanya soal cuaca.
2025
CENTANG SATU
Konon,
negara yang centang satu
hanya butuh anggaran untuk bekerja
dan rapat malam,
agar terlihat sibuk,
dan kita percaya.
Tapi servernya
selalu no response,
sejak log in ke sistem demokrasi
pukul 19.45,
di saat suara rakyat
dan janji politik
sama sama kehilangan arah.
Statusnya:
aktif,
mungkin korup selamanya.
Sementara kita
terjebak scroll ulang undang undang,
dan sisa sisa
kenangan merdeka.
Hak yang tak ditepati
mirip notifikasi pajak:
tumpuk tumpuk masuk,
auto-update,
tapi error
di hati kita.
Barangkali demokrasi
adalah notifikasi
yang di-mute,
tak pernah muncul
di layar pertama.
2025
SISYPHUS KEPADA CAMUS
(Setelah batu jatuh kembali ke dasar bukit)
Halo, Camus.
Batunya jatuh lagi tadi,
jam tiga sore,
persis di tikungan yang sama,
di mana tanahnya sedikit licin
karena kemarin hujan,
dan aku terlalu percaya
pada pijakan yang sudah berulang kali
tidak bisa dipegang.
Aku duduk dulu.
Lima menit.
Lutut kiri agak nyeri
sejak minggu lalu,
dan kau tidak pernah menulis soal itu,
soal bagaimana absurdisme
tidak menyediakan anggaran
untuk nyeri lutut kronis.
Kau tulis aku dengan wajah muram,
seolah itu pilihan estetika.
Aku muram karena dehidrasi, Camus.
Karena Hades tidak menyediakan air minum
di sepanjang jalur pendakian,
dan aku sudah tiga kali mengajukan permintaan
ke administrasi alam bawah,
yang sistemnya, percayalah,
lebih buruk dari BPJS.
Soal bahagia.
Kau bilang aku harus dibayangkan bahagia.
Kalimat itu kau tulis
di meja kafe di Paris,
dengan kopi yang masih panas,
dengan jari yang tidak kapalan,
dengan punggung yang belum pernah
merasakan sudut batu
selama delapan jam berturut-turut.
Aku tidak marah.
Aku hanya ingin kau tahu
dari mana kalimat itu kau tulis,
supaya pembacamu juga tahu.
Ini yang tidak kau masukkan ke buku.
Batunya berat di sisi kiri
lebih dari sisi kanan.
Ada retakan lama di permukaannya
yang, kalau kena sudut tertentu,
akan memotong telapak tanganku
di tempat yang sama
setiap kali.
Aku sudah hafal tempatnya.
Aku sudah tidak kaget.
Tapi tetap terluka.
Dan itu, Camus,
adalah hal yang berbeda
dari pasrah.
Kau ingin aku jadi lambang.
Aku ingin sandal yang solnya
tidak lagi menipis
di bagian tumit kanan,
karena cara berjalanku
sudah berubah sejak lama,
menyesuaikan beban
yang tidak pernah diminta pendapatku
sebelum ditetapkan.
Dan batu ini.
Mungkin memang harapan yang kau titipkan.
Tapi kau titipkan tanpa tanya,
tanpa surat,
tanpa bahkan satu kalimat pembuka
yang berbunyi seperti orang
yang benar-benar ingin tahu jawabannya.
Kau baik-baik saja, Sif?
Aku,
sampai hari ini,
masih memikirkan
apa yang akan kujawab
kalau kau pernah bertanya.
Bekasi, 2025-2026
WAKTU: BAGIAN JAM OVERTHINKING
00.13
Notifikasi terakhir
masuk pukul sebelas lewat empat puluh,
pesan yang tidak membutuhkan balasan,
tapi kepalaku sudah membalas
dua belas versi
tanpa mengirim satu pun.
Layar mati.
Pikiran lanjut sendiri.
01.07
Ada yang belum selesai
dari percakapan tiga hari lalu,
kalimat yang kututup terlalu cepat
dengan iya, nggak apa-apa,
padahal maksudku
sesuatu yang bahkan sekarang
belum ketemu padanannya
dalam bahasa yang aku punya.
Kepala berputar di sana,
di kalimat itu,
di versi lain dari kalimat itu.
01.44
Jendela kamarku
menghadap ke tembok tetangga,
jarak tiga meter,
cat abu-abu yang mengelupas
di bagian kanan atas.
Aku sudah hafal
pola mengelupasnya,
lebih dari hafal
wajahku sendiri di pagi hari.
Malam ini aku hitung lagi:
tujuh titik besar,
dua yang hampir menyatu,
satu yang bentuknya
mirip tanda tanya
kalau dilihat dari sudut tertentu.
02.31
Getah di ranting patah itu nyata.
Maksudku, ada pohon mangga
di depan kontrakan,
yang rantingnya patah sejak Februari,
dan getahnya mengering
jadi warna cokelat tua
yang menempel di sana
seperti sesuatu yang tidak tahu
sudah tidak berguna.
Aku melihatnya setiap pagi.
Pagi ini belum tiba.
Tapi aku sudah di sana.
03.09
Kata yang ingin kutulis
tadi malam adalah:
aku lelah dengan cara aku memikirkan segalanya.
Tapi kalimat itu
terasa terlalu mudah,
terlalu rapi,
terlalu seperti sudah pernah
ditulis orang lain
dengan tangan yang lebih tenang.
Jadi aku hapus.
Lalu ketik lagi.
Lalu hapus lagi.
File-nya masih ada,
tersimpan otomatis
dengan nama Untitled-7,
isinya satu baris kosong.
03.58
Ini bukan pertama kali.
Tubuhku tahu jadwal ini
lebih dari tahu
jadwal makan siangnya sendiri,
jam tiga lewat,
sesuatu mulai menekan
di antara tulang dada dan perut,
di tempat yang kalau diperiksa
tidak akan ditemukan apa-apa
selama ini.
04.22
Di cermin kamar mandi
ada retak kecil
di sudut kiri bawah,
sudah dari sebelum aku pindah ke sini.
Kata pemilik kontrakan,
itu tidak mempengaruhi fungsinya.
Pagi ini aku berdiri di depannya
lebih lama dari biasanya.
Wajahku terpotong sedikit
di bagian kiri.
Retaknya persis
di garis rahang.
Aku tidak minta diganti.
Entah kenapa.
05.01
Fajar masuk
dari celah gorden
yang tidak pernah rapat sempurna,
cahayanya jatuh
di kasur bagian kaki,
bergerak pelan ke atas,
seperti sesuatu yang tidak terburu-buru
tapi pasti datang.
Kepalaku akhirnya
berhenti di satu tempat.
Tubuhku tidur
dengan posisi yang besok pagi
akan membuat leherku kaku
di sisi kiri.
Aku tahu ini.
Aku tetap tidak bergeser.
Karena berpindah
butuh energi
yang sekarang sedang dipakai
untuk hal lain,
hal yang bahkan
saat terbangun nanti
tidak akan bisa kujelaskan
sudah kupikirkan apa.
2026
KESEDIHAN DALAM BENTUK KEMASAN SACHET
KESEDIHAN
varian: harian
isi bersih: tidak diukur
kemasan: 1 sachet sekali pakai
(habis dalam semalam, atau bertahun-tahun,
tergantung kondisi penyimpanan)
Mengupas wajah hari
demi hari;
kecemasan yang alpa
kadaluwarsa.
KOMPOSISI:
perasaan yang tidak kamu undang (74%),
kenangan yang sudah kamu putuskan
untuk dilupakan (18%),
nama seseorang yang tidak kamu sebut
keras-keras (6%),
sisanya: tidak diketahui.
CARA PENYAJIAN:
seduh dengan diam.
aduk sampai rata,
atau biarkan mengendap;
hasilnya sama saja.
sajikan dalam gelas yang biasa kamu pakai,
supaya tidak terlihat
seperti upacara.
PERHATIAN:
produk ini mungkin mengandung jejak
percakapan yang tidak pernah selesai.
beberapa pengguna melaporkan rasa
yang muncul kembali tanpa peringatan;
terutama pada malam hari setelah hujan,
atau ketika lagu tertentu lewat
di antrian acak.
EFEK SAMPING:
kelelahan yang tidak hilang
setelah tidur,
keinginan mengirim pesan
lalu tidak jadi,
duduk di tepi kasur cukup lama,
sampai lupa
sedang mau apa.
TIDAK DIANJURKAN:
dikonsumsi sambil memeriksa foto lama,
diceritakan kepada orang
yang langsung memberi solusi,
ditahan terlalu lama di dalam dada
(kapasitas terbatas;
tidak ada indikator penuh).
PENYIMPANAN:
simpan di tempat yang tidak terlalu terang;
jauhkan dari pertanyaan
“kamu baik-baik saja?”
yang tidak benar-benar
menunggu jawaban.
PRODUSEN:
dirimu sendiri,
tanpa sengaja,
sejak tanggal yang tidak kamu catat.
tidak perlu dikembalikan.
tidak ada garansi.
tidak ada nomor yang bisa dihubungi.
2026
BIODATA
Listio Wulan Nurmutaqin adalah penulis asal Brebes yang kini berdomisili di Bekasi. Karya puisinya telah dipublikasikan di berbagai media lokal dan nasional, antara lain Tempo, Kompas.id, Republika, Suara Merdeka, Bacapetra, serta Majalah Kandaga terbitan Kantor Bahasa Banten. Pada 2024, salah satu puisinya terpilih dalam ajang Payakumbuh Poetry Festival. Selain itu, karyanya juga termuat dalam sejumlah antologi nasional terpilih, termasuk antologi peringatan Hari Puisi Nasional 2025.













