SUMMA CUM LAUDE
I
Lima tahun.
Jari kecil
menekan C mayor
di Jakarta.
Gema kayu.
Bau politur.
Cahaya tropis
di atas tuts gading.
Sebuah arpeggio
membuka paspornya sendiri.
II
Kanisius.
Bel sekolah
berdetak seperti metronom.
Awan bergerak moderato
di atas halaman.
Fugue-fugue asing
melintasi cakrawala,
menuju Laut Utara.
III
Den Haag.
Angin asin.
Langit abu-abu.
Kanal-kanal dingin.
Steinway hitam
berkilau seperti air hujan.
Etude. Sonata.
Konserto.
Satu nada yang tepat
menjadi horizon.
Rubato
menjadi tata krama.
Kesunyian
menjadi tempo.
IV
Ruang ujian.
Juri-juri marmer.
Jam dinding.
Pedal sustain.
Frase terakhir
melayang di udara.
Lalu dua kata Latin
jatuh perlahan
seperti akor sempurna:
V
Bandara.
Ruang tunggu.
Papan keberangkatan
berganti-ganti tonalitas.
Madrid. Sydney. Oslo.
Wellington.
Kota-kota melintas
seperti not seperenambelas.
Sebuah koper hitam
berisi jas konser,
partitur, dan beberapa zona waktu.
VI
Lima puluh konser setahun.
Lampu kristal.
Aula kerajaan.
Para kepala negara. Para bangsawan.
Para diplomat.
Di tengah protokol
sebuah frase
mencari napasnya sendiri.
VII
Peter Sculthorpe
membawa debu Australia.
Per Nørgård
membawa salju utara.
David del Puerto
membawa matahari Iberia.
Gareth Farr
membawa ombak Pasifik.
Mereka menulis.
Ia memainkan.
Resonansi berpindah
benua.
VIII
Gong Jawa
masuk ke partitur Eropa.
Slendro
berjalan di antara kromatisme.
Pelog
mengendap di balik orkestra.
Gamelan
meninggalkan sidik jari
di atas kertas not.
Indonesia
ialah timbre,
dia lah warna.
apakah gema?
IX
Tiga ratus karya baru.
Tiga ratus kelahiran.
Tiga ratus halaman kosong
berubah menjadi bunyi.
Piano
menjadi pelabuhan pertama.
Dunia
menjadi ruang konser berikutnya.
X
Meja kerja. Pensil.
Kertas partitur. Lampu malam.
Tinta mengambil bentuk melodi.
Motif berkembang
menjadi variasi.
Variasi berkembang
menjadi simfoni kecil.
Komponis
berjalan keluar
dari tubuh seorang pianis.
XI
Seorang anak lima tahun
masih duduk
di depan piano.
Rambut berganti musim.
Paspor bertambah cap.
Peta bertambah kota.
Nada pertama
tetap bergetar.
Sostenuto.
Cantabile.
Con anima.
XII
Tugas akhir: sebuah perjalanan
dari C mayor
menuju dunia.
Dari satu tuts
menuju tiga ratus premiere.
Dari ruang tamu Jakarta
menuju aula-aula kerajaan.
Dari bunyi
menuju bunyi
berikutnya.
Summa Cum Laude.
Sebuah akor penutup. Sebuah
fermata panjang. Sebuah resonansi
yang terus bergerak atau itukah puisi?
2026
RAPSODIA ANANDA
I
Di bukit-bukit Cantabria,
siapa yang mengajarkan kabut
membaca partitur laut?
Dan di dalam piano,
siapa yang menyimpan panas Jakarta
hingga musim dingin berbunga melati?
II
Ke mana perginya sebuah lagu rakyat
setelah meninggalkan mulut nenek?
Apakah ia tidur
di antara senar dan palu?
Ataukah ia menumpang angin
menuju aula-aula yang penuh lampu?
III
Mengapa sebuah provinsi
Ingin menjadi rapsodi?
Apa yang dicari Lampung
di dalam tangan kiri?
Dan berapa banyak ombak
yang diperlukan
untuk mengubah pulau
menjadi bunyi?
IV
Ketika seorang pianis
menyentuh satu nada,
berapa banyak burung
terbang dari masa kecilnya?
Apakah mereka membawa
debu halaman sekolah,
atau aroma hujan
yang masih tinggal
di dalam kayu piano?
V
Siapa yang lebih dahulu bernyanyi:
puisi
atau melodi?
Ketika Sapardi memasuki suara,
siapa yang membuka pintu?
Dan ketika Chairil menjadi napas,
di mana kata-kata
meletakkan apinya?
VI
Apakah gamelan
memiliki bayangan di Spanyol?
Ketika perunggu bergetar di Jawa,
apakah sebuah sonata
ikut bergetar di Madrid?
Dan pohon apa yang tumbuh
dari persahabatan bunyi-bunyi itu?
VII
Berapa banyak anak
bersembunyi di dalam satu nada?
Apakah sebuah tangga nada
dapat menjadi jembatan?
Apakah keberanian
memiliki tonalitas tertentu?
Apakah harapan
lebih dekat kepada mayor
atau minor?
VIII
Mengapa sebuah rapsodi
terus mencari nomor berikutnya?
Apakah dua puluh satu cukup?
Apakah empat puluh cukup?
Ataukah Nusantara
senantiasa menambahkan pulau baru
ke dalam pendengaran?
IX
Ketika para ratu,
presiden,
dan penghargaan
melewati ruang konser,
siapa yang tinggal
setelah lampu dipadamkan?
Sebuah medali?
Sebuah gema?
Atau sebuah frasa
yang terus berjalan
di dalam dada pendengarnya?
X
Ananda,
siapa yang menuliskan namamu
di atas rak resonansi?
Laut?
Kabut?
Seekor burung pembawa tembang?
Atau Indonesia sendiri,
yang mencari suaranya
dari pulau ke pulau,
lalu menemukannya
di antara tuts hitam dan putih?
XI
Dan ketika malam terakhir
menutup partitur,
ke manakah perginya musik?
Apakah ia kembali
menjadi ombak?
Menjadi angin?
Menjadi cahaya?
Ataukah ia tetap tinggal,
diam-diam, di dalam telinga dunia?
2026
CANTO UNTUK SEORANG PIANIS DI ANTARA DUA SAMUDRA
I
Tahun 2000. Lisboa. Sebuah oboe memberi nada A, konduktor mengangkat baton, dan seorang pianis dari khatulistiwa berjalan ke tengah panggung. Di belakangnya, Portuguese National Symphony Orchestra. Di depannya, sebuah sejarah kecil: setelah diplomasi kembali menemukan jalannya, musik lebih dahulu tiba. Senar, kayu, dan logam berbicara dalam bahasa yang tidak memerlukan penerjemah. Atlantik dan Nusantara bertemu dalam satu akor panjang.
II
Sesudah itu kota-kota berdatangan seperti variasi dalam sebuah rapsodi. Madrid, Segovia, Meksiko. Festival, orkestra, akademi, dan lembaga-lembaga musik mengirimkan undangan seperti motif yang mencari perkembangan. Sebuah partitur lahir di satu meja kerja lalu berlayar ke benua lain. Nama-nama besar organisasi hanya menjadi tanda birama; yang bergerak sesungguhnya adalah bunyi.
III
Radio Nacional de España menyiarkan namanya ke dapur-dapur, jalan raya, dan apartemen tua yang menghadap senja Madrid. Sebuah majalah musik klasik menempatkan wajahnya di sampul. Penghargaan datang seperti coda yang terang: Disco de Oro, rekaman klasik terbaik tahun itu. Namun emas sesungguhnya tetap berupa resonansi udara yang bertahan beberapa detik setelah nada terakhir menghilang.
IV
Di meja komponis, instrumen-instrumen berkumpul seperti tamu dari berbagai negeri. Piano, gitar, flute, cello, paduan suara, dan suara manusia. Dari sana lahir kantata Ars Amatoria, sebuah percakapan panjang tentang cinta yang bergerak antara sopran dan tenor seperti dua burung yang saling mencari arah angin. Setiap karya menjadi rumah baru bagi melodi.
V
Lebih dari dua ratus lagu vokal keluar dari kesunyian itu. Kata-kata menemukan nadanya, dan nada menemukan tubuhnya di dalam suara manusia. Di Brisbane, Sydney, Maastricht, Glasgow, Madrid, hingga Amerika, para peneliti membuka partitur-partitur tersebut seperti arkeolog membuka lapisan tanah. Harmoni, bentuk, motif, dan jejak-jejak Nusantara berubah menjadi tesis, disertasi, dan catatan kaki akademik.
VI
Lalu datang Rapsodia Nusantara: dua puluh satu jendela yang terbuka ke dua puluh satu lanskap. Lagu rakyat memasuki ruang konser. Melodi kampung bertemu virtuositas. Di dalam piano, Aceh, Minangkabau, Jawa, Bali, Sulawesi, dan Papua bergerak sebagai arpeggio, oktaf, kadensa, dan kilatan-kilatan nada. Indonesia menjadi teknik. Indonesia menjadi warna bunyi.
VII
Dan begitulah seorang anak yang dahulu belajar menekan tuts di Jakarta akhirnya berdiri di antara dua samudra: satu bernama tradisi, satu bernama dunia. Ia memainkan musik, lalu menulis musik, lalu melihat musik itu dimainkan kembali oleh ratusan pianis di berbagai negeri. Sebuah tema berkembang menjadi variasi, variasi menjadi rapsodi, rapsodi menjadi perjalanan. Di ujung perjalanan itu, yang tersisa hanyalah satu hal: gema panjang sebuah piano yang terus menghubungkan pulau dengan pulau, kota dengan kota, manusia dengan manusia.
2026
MISALKAN KITA DI CATALONIA
1.
sebuah close-up senja menempel pada tuts-tuts piano,
laut bergerak rubato di kejauhan,
dan seorang perempuan bermata gelap
melintasi bingkai merah delima,
seolah hidup selalu dimulai
dari modulasi yang sepenuhnya
ingkar janji.
2.
kamera melakukan tracking shot sepanjang balkon batu,
sementara tangan kiri memainkan ostinato ombak,
tangan kanan mengimprovisasi cahaya,
dan setiap jendela menyimpan subplot
tentang cinta, ibu, dan kepulangan.
3.
warna-warna primer bertabrakan seperti akor-akor disonan,
gaun merah menjadi crescendo,
langit biru menjadi pedal sustain,
dan rahasia keluarga bergerak dari adegan ke adegan
seperti tema fugue
yang terus menemukan suara baru.
4.
kamera menahan satu wajah terlalu lama,
seperti fermata di atas nada tinggi,
hingga kesedihan berubah timbre,
dan keinginan berubah menjadi harmoni minor
yang enggan menyelesaikan kadensa.
5.
ladang zaitun dibingkai wide shot,
sementara piano memainkan arpeggio yang naik perlahan,
seolah lanskap dan melodi sedang bernegosiasi
tentang siapa yang lebih dahulu
tinggal dalam kenangan sang mantan.
6.
setiap pintu yang terbuka adalah modulasi,
setiap tatapan adalah leitmotif,
setiap pelukan adalah coda yang ditunda,
dan kamera bergerak legato
melewati perempuan-perempuan yang lebih kuat
daripada takdir pria semenjana.
7.
lalu suara tonggeret masuk tanpa aba-aba
seperti jump cut,
bau tanah basah menggantikan garam Laut Tengah,
gunung-gunung muncul sebagai latar baru,
dan seluruh film berganti tonalitas.
Nyatanya kita di Indonesia. Ananda…
2026
BIODATA
IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi, lahir di Jakarta pada 1985. Buku-buku puisinya adalah Ruang Bicara (Stiletto Book, 2019) dan Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Ia adalah Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2026.










