SELAMAT JALAN IGNATIUS DARMAWAN
Senin malam menyambangimu
Katamu, esok dokter memutuskan
Untuk pengambilan lendir-lendir
Yang mencair di paru-paru
Dalam suara yang rendah
Seperti biasa kau tertawa
Aku pulang melihat
Lampu-lampu murung sepanjang lorong
Angin menjadi lebih dingin
Hari ini waktu membeku begitu cepat
Entah berkata pada siapa lagi
Mengingat tenggat keberangkatan
Kesepianku tersadar aku tertawakan.
Dan kau berangkat diam-diam lebih cepat
Seluruh rasa sakit itu sudah mereda
Bahkan tak berbunyi, tak menyakiti
Seperti kau tertawa
Menahan rasa sakit menusuk.
Suara fajar membawa kabar
Nafasmu yang dibekukan
Kau tak lagi gelisah menahan sakit
Tidur dengan tenang selamanya
Damai selalu kawan Ignatius Darmawan
Selamat jalan Comandante 98.
CERMIN PARADOKS
Detak jam di dinding
Perbesaran diam diam bayangan
Bayangan diam diam memperbesar.
Detak waktu yang menggerutu diam
Pencuri yang tak bisa kau bayar
Ia memalak panggung
Ia juga memadamkan lampu pencahayaan
Lihat cermin yang mulai retak
Wajah yang bersinar itu
Tak ingin wajahnya terlihat muram
Ia menggunakan sorot matanya
Seperti mata serigala
Dengan sedikit menjaga kening
Dengan sorot mata menutupi kerutan
Menyembunyikan ketidakjujuran
Mengelabui bahasa kebohongan
Ia tak bisa menutup gesture kepura-puraan.
Siapa mematahkan sayap di ketinggian
Siapa terbang tanpa tulus mencari cahaya
Siapa yang berusaha merangkai puzzle kata
Siapa kehilangan cermin retak, lalu mencarinya
Pada pantulan kelap kelip gelombang di tengah laut
Siapa sejati melihat keindahan di ketinggian.
Ia hanya paham memeluk adalah cara menguasai
Bagaimana memainkan cahaya pada mata warna
Bagaimana menempatkan bejana pada satu meja
Pesta, joged bahagia kehangatan bersama.
Kekuasaan itu karakter kunci jeruji
Cara memenjarakan ego tersembunyi
Dedikasi karakter tak terpuji.
Pada cermin yang retak
Ia akan berhadapan pada karma paling senyap
Gelombang khianat mematahkan sayap-sayapnya
Bagai puzzle berantakan
Bahasa cinta, gestur, mata tak lagi bermakna
Diporakporandakan angin tangan anak anak
Yang melihat permainan-permainan membosankan
Tak lagi mencerminkan kebersamaan rasa cinta.
MANIFES SUNYI
1
Aku saksikan
burung menggumam
menceritakan hari yang lengang
waktu mencatat jejak sayapnya
kekuatan dari tikaman terik
suaranya menitipkan rindu
untuk tumbuhkan anak anaknya.
Mungkin terlalu kecil jejak ini
tak terbaca mata rabun senja
sebab seorang sedang jalan
menuntun sekawanan anjing
yang menggonggong bising
dengan lidah menjulur kering.
2
Aku duduk
di balik jendela
melihat burung
meski jejaknya tak terbaca
gagah terbang ke mana mana
ia mencatat jejak sayapnya
menumbuhkan anak anaknya
ia besarkan suara suara
meski tak ada yang mendengar
burung percaya suara sukma
akan mendapatkan tempat
di hati yang mendengar.
Ada suara burung
ada orang dengar dan melihat
ada mata tapi jauh pikirannya
Ia terlihat buta dan tuli hatinya.
BIODATA
Kardanis Mudawi Jaya. Lahir di Karangasem, Bali, 1974. Buku puisinya berjudul Kalimah (2013) dan Belajar Mengaji Pada Ibu (2025). Selain menulis puisi, ia juga menekuni teater.
Ignatius Darmawan lahir 16 Juli 1972. Ia adalah lulusan Antropologi, Fakultas Sastra (kini FIB), Universitas Udayana, Bali. Sejak mahasiswa ia rajin menulis artikel dan mengadakan riset kecil-kecilan. Ia adalah aktivis sosial, budaya, lingkungan, kemanusiaan. Selain itu, ia gemar melukis dengan medium cat air. Salah satu karyanya menjadi sampul buku antologi puisi “Share” (2025) yang diterbitkan Bali Politika. Ia berpulang di Denpasar, 5 Februari 2026.










