KAMBING DAN DAUN MUDA
“Jangan renggut tunas-daun muda,” tutur angin
kepada kambing keluyuran di ladang persemaian
“biarkan tumbuh menjadi pohon kehidupan.”
tak tega bibit-bibit masa depan diganyang
angin mengundang hujan nyiram ladang
“Pohon muda itu berubah perangainya
setelah tunasnya direnggut kambing tua
kelak berbuah simalakama!” kata angin
hujan mengajak petir meladang
agar kambing miris dan gentar
tapi kambing tetaplah kambing
bebal tak pernah merasa kenyang
meski perutnya sudah kendang
tak ngaku salah walau sering berulah
memangsa tunas muda kehidupan
padahal rumput liar berlimpahruah
tak mau disalahkan ia teriak kencang
merasa dikambinghitamkan
Denpasar, 2019-2025
PERCAKAPAN HUJAN
buat: arw + ins
1
Kau cerita tentang hujan
dan kota yang disukai banjir
permukiman menjadi hilir
jalan jadi sungai anyar
di kotaku sekarang juga sering hujan
dan angin kencang, cuaca ekstrem
matahari dan bulan disembunyikan awan
kawasan yang dirimbuni hutan beton
menggantikan pohon terganyang
hujan panjang mengantar bandang
dan sampah peradaban
Katamu, tak ada musibah yang tak berguna
laksana cinta tak sia-sia walau dimakan usia
seperti cinta pemuda desa yang tak sampai pada
widia tetap dipelihara sebagai berkah mahabbah
walau usia sudah senja, bercucu, rambut memutih
: cinta tak pernah letih meski tenaga sudah ringkih
katanya, seperti jarum jam yang tak bosan berputar
di garis edar yang sama menyinggahi angka-angka
dari situ ke situ juga, karena setiap persinggahan
memberi makna dalam kehidupan
2
Kau ceritakan perjalananmu hari ini
“Aku tak menyesali tertinggal kereta api!”
katamu pulang dari lain provinsi nengok buah hati
naik bis menempuh jarak dan waktu lebih lama
bisa melihat banyak peristiwa di setiap kota
yang kau lewati sambil mengurai kenangan
atau menulis hari harapan
“Tak ada yang tak elok untuk direnungkan!”
tuturmu, seperti percakapan di bawah hujan
sekarang kita sedang mengenang masa silam
atau mengimpikan keindahan hari depan
waktu dan takdir yang akan beri jawaban
Denpasar, 2022-2025
PESTA BANJIR
Kawanan tamu tak diudang
sekoyong-koyong datang
nyelonong ke permukiman
memasuki rumah orang
menyasar pasar, kantor
tempat-tempat ibadah
juga sidak ke sekolah
seperti penilik sekolah
masuk kelas beri pelajaran baru
yang tak pernah diajarkan guru
Rombongan kawanan yang lain menyusul datang
seperti pencoleng berbuat sewenang-wenang
menerjang-tenggelamkan permukiman
menggayang jembatan, memutus jalan
menelan kendaraan seperti naga lapar
mengajak orang-orang pesta lumpur
di negeri besar yang kaya dan subur
tapi penduduknya menderita fakir
Tak ada yang bisa menghindar
tak ada yang berani melawan
arus deras memusar-musar
bertengkar saling menyalahkan
di bantaran banjir bandang
“Katanya kalian bangsa yang sabar
tahan ujian tabah menghadapi segala keadaan
musibah menambah kesempurnaan iman
untuk meraih kebahagiaan alam keabadian!”
tutur halilintar, hujan dan banjir susulan
berbondong-bondong datang tanpa diundang
siang-malam menerjang-tenggelamkan kurban
Denpasar, 2022-2025
KIDUNG KODOK KONGKANG
Bila hujan, banyak air menggenang
kita senang bisa berkidung bersahutan
mensyukuri berkah keindahan alam
Orang sedih karena kedinginan
kita hibur dengan nyanyian
pujian buat Tuhan yang
menganugerahi hujan
Hujan dan halilintar menggelegar
membuat orang cemas dan ketar-ketir
khawatir banjir dan hanyut ke hilir
kita hibur dan ajak tafakkur
dengan syair doa pelipur
agar tak ingkar dan kufur
Orang bingung dikepung banjir bandang
rumah ngambang nasib larung dan hilang
kita berdoa dengan kidung kung-kung-kung
semoga tuhan beri keselamatan dan kasih sayang
Denpasar, 2022-2025
DONGENG POHON RAKSASA
kota ini dulu pohon besar
rindang cantik menawan
berbuah berkah dan iman
syahdan datang zaman edan
serombongan serakah dengan
sikap sewenang-wenang
menumbangkan pohon itu
diganyang dan dijadikan abu
agar demit, setan, hantu
hangus tak mengganggu
alam yang tenang dan nyaman
dijadikan permukiman modern
orang-orang yang waras pikiran
hanya diam, penguasa membiarkan
karena uang mengizinkan
kata angin
tak guna sesal dan duka
mari ziarahi makamnya
dengan doa dan cinta
arwahnya masih ada
walau jasadnya sudah
menjelma gedung-gedung megah
dikuasai para serakah angkuh
yang kesurupan setan marah
2022/2023
POHON PUISI
“Tanamlah puisi di taman hati
agar tumbuh pohon surgawi!”
Ketika moyangmu bulan madu
di surga tergoda pohon waktu
mereka sudah diwanti-wanti
jangan mendekati pohon itu
Tapi mereka tak tahan ingin rujakan
karena ngidam maka memetik dan
makan buah itu mabuk, berjalan
sempoyongan terperosok ke jurang
alam bawah sadar, di sana mereka
mules dan mencret keluar bijih
buah itu lalu tumbuh jadi pohon
kehidupan baru jadi rebutan
anak-cucu sampai akhir zaman
“Kalau kau tak kebagian buah itu
tanamlah puisi di taman hatimu
agar jadi pohon-buah surgamu!”
(2022-2025)
BIODATA
Nuryana Asmaudi SA atau Nuryana A. Saddyz Asmara, lahir di Jepara, 10 Maret 1965. Menulis puisi, cerpen, naskah lakon, dll. Tulisannya dimuat di sejumlah media antara lain Kompas, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Bahana Brunai Darusalam, Sinar Harapan, Suara Merdeka, Cempaka Minggu Ini, Bahari, Wawasan, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Selarong, Solo Pos, Bernas, Bali Post, Nusa tenggara, NusaBali, Warta Bali, Koran Bali, Riau Pos, Romansa, Asah-Asih-Asuh, Bali Tribune, Gaung-Gaung, Basabasi.co. Tatkala.co, Bali Politika, dll. Juga di sejumlah buku kumpulan puisi bersama. Buku puisinya Doa Bulan untuk Pungguk (Akar, 2016), Taman Perangkap Bulan (Akar, 2018), Anak Gunung Mengerami Laut (Pustaka Ekspresi, 2023). Bekerja sebagai wartawan/redaktur di Harian Bali Tribune di Denpasar.










