ADA semacam godaan yang selalu datang ketika kita membaca buku puisi baru: kita ingin segera menemukan “kunci” yang akan membuka seluruh halaman. Dalam Sekolah Tikus, Tan Lioe Ie dengan nakal sekaligus serius langsung memberi kunci itu di bagian awal: “puisi adalah permainan sungguh / puisi meminjam peristiwa / puisi memberi roh lain/kepada peristiwa”.
Kalimat itu terdengar sederhana, hampir seperti catatan kelas yang ditulis dengan tergesa. Tapi kalau dicermati, justru di situlah inti buku ini: puisi tak pernah lepas dari kenyataan sehari-hari, namun ia bukan sekadar laporan; ia adalah permainan serius yang memberi “roh lain.” Roh itu bisa berupa humor getir, bisa berupa kritik sosial, atau bisa juga berupa semacam mantera untuk mengingatkan kita tentang hal-hal yang luput karena terlalu akrab.
Dengan kerangka itu, kita akan lebih mudah memahami mengapa Sekolah Tikus begitu menawan. Dari judulnya saja, kita sudah diajak masuk ke sebuah metafora yang dekat sekaligus ironis. “Sekolah Tikus” terdengar lucu, tapi juga menyimpan kritik yang dalam. Dalam puisi yang menjadi judul buku, Tan menulis:
“Perangkap tikus / gagal
Racun tikus / gagal
Tikus-tikus / mengenali / bahaya. Pintar
lulus dari / sekolah tikus”
Hanya dengan beberapa baris, kita langsung ditarik ke dunia yang akrab—tikus, jebakan, racun—namun sekaligus dipaksa melihatnya dari kacamata lain: tikus sebagai murid cerdas yang lulus ujian. Di sini ada ironi besar: manusia menciptakan perangkap, racun, strategi; tapi tikus belajar lebih cepat, bertahan lebih gigih, dan akhirnya “lulus.” Pembaca pun sadar: yang kecil, yang dianggap hama, justru punya kapasitas adaptasi yang menakjubkan. Sebuah pelajaran sosial sekaligus ekologis yang jarang kita pikirkan ketika sibuk mengusir hewan-hewan kecil dari dapur.
Kekuatan Sekolah Tikus ada pada cara Tan Lioe Ie mengangkat hal-hal sederhana menjadi pintu untuk memahami hal-hal yang besar. Puisi “Capung” adalah contoh yang sangat baik. Ia dibuka dengan drama kecil:
“Jendela kaca
Capung
membentur-bentur
kaca jendela”
Kita bisa langsung membayangkan bunyinya: capung yang berulang kali menabrak kaca bening, seakan tak sadar bahwa transparansi itu adalah dinding. Efek enjambment di sini membuat kita ikut “mendengar” benturan itu. Tapi puisi ini tidak berhenti di situ. Ia membawa kita ke refleksi ekologis:
“Efek / rumah kaca / ulah manusia
Suhu > 39°C
Es kutub leleh”
Dari sebuah capung yang kebingungan, puisi melompat ke isu global: perubahan iklim, es yang mencair, suhu yang meningkat. Transisi itu terasa alami justru karena dimulai dari pengalaman kecil. Pesan ekologisnya jadi jauh lebih membekas, karena kita diajak mengalaminya secara fisik lebih dulu, sebelum berpikir secara global.
Puisi “Kupu-Kupu” melanjutkan strategi ini dengan nada elegi. Ia menulis:
“Kota
Kupu-kupu
terusir
sayap lemah. Habitat
jauh. Pengungsi”
Kupu-kupu yang biasanya menjadi simbol keindahan justru muncul di sini sebagai korban urbanisasi. Mereka terusir dari habitatnya, menjadi “pengungsi” di kota yang tak ramah. Lalu puisi memantul ke sisi lain: “kupu-kupu malam” yang menanggung belitan utang dan masuk ke dunia eksploitasi . Metafora ini ganda: ada kupu-kupu biologis yang kehilangan habitat, ada kupu-kupu sosial (pekerja seks) yang kehilangan perlindungan. Keduanya diikat oleh satu kata: terusir. Dan sekali lagi, imaji konkret menjadi pintu masuk untuk isu sosial yang kompleks.
Salah satu puisi yang paling kuat adalah “Bunyi.” Ia merangkum perjalanan hidup manusia hanya dengan menjejalkan pengalaman akustik sehari-hari:
“Pada awalnya
adalah bunyi
tangis pertama bayi
Pada akhirnya
kembali bunyi
ratap melepas
napas terakhir si tua”
Dari tangis bayi hingga ratap orang tua, dari lonceng gereja hingga klakson marah, dari sirene ambulans hingga bentakan majikan, semua ditata dalam montase bunyi yang akrab. Hasilnya adalah semacam paduan suara kota yang tak pernah berhenti, paduan suara yang mengiringi kita dari lahir hingga mati. “Bunyi” adalah salah satu puisi yang paling efektif dalam buku ini, bukan hanya karena kepadatan imajinya, tetapi juga karena keberhasilannya membuat kita mendengar kembali apa yang sering kita abaikan.
Sementara itu, “Citra Diciptakan” adalah puisi yang dengan berani menelanjangi industri representasi:
“bopeng ditutupi bedak tebal
senyum palsu dilatih bak akting di depan kamera film
Dusta adalah daging
adalah darah
adalah tulang
penyangganya”
Dan akhirnya, kalimat telaknya:
“Citra diciptakan
Tentu tidak gratis.”
Di sini, Tan Lioe Ie tidak bermain simbol berlapis. Ia langsung menusuk. Citra, entah dalam politik, media, atau pariwisata, selalu berbiaya. Dan biaya itu biasanya ditanggung oleh mereka yang paling lemah. Kalimat “Tentu tidak gratis” menjadi semacam mantra, sebuah tesis yang sekaligus menutup ruang tafsir ambigu. Justru karena ketegasannya, puisi ini terasa segar: ia tahu kapan harus berhenti berputar dan kapan harus bicara langsung.
Keunikan Sekolah Tikus juga tampak pada penggunaan tipografi. Banyak puisi di buku ini disusun secara vertikal, baris demi baris seperti anak tangga. Efeknya bukan sekadar estetika visual. Dengan baris yang pendek-pendek, pembaca dipaksa melambat. Puisi jadi semacam partitur: ada jeda, ada hentakan, ada pengulangan. Misalnya pada “Capung” ketika kata “membentur-bentur” berulang, kita hampir bisa mendengar bunyinya. Atau pada “Bulan” ketika kata-kata disusun seolah bola basket yang melambung, lalu masuk ring:
“Bulan. Bola
basket …
menembus
jaring. Bagai
wahana
angkasa
astronot
tepat tujuan
mendarat
di
bulan”
Di sini, tata letak kata di halaman benar-benar menyusun gerak: bola memantul, lalu masuk ke ring, lalu mendarat. Namun beberapa halaman setelahnya, kata “bulan” yang tadi ringan dan kosmik, berubah menjadi “bulan tua”:
“Upah habis. Kantung tipis.
Sakit / seperti tusukan paku
menembus sepatu murah”
Kontras itu tajam. Dari bulan sebagai simbol permainan dan imajinasi, ke bulan sebagai simbol kelaparan di akhir bulan. Sekali lagi, satu kata ditarik ke dua orbit berbeda: langit dan bumi. Di tangan penyair, kata tak pernah stabil; ia punya beban dan gravitasi yang bisa berubah tergantung konteks.
Yang membuat Sekolah Tikus begitu penting untuk dibaca adalah karena ia berhasil menyatukan tiga kualitas yang jarang hadir bersamaan. Pertama, ia punya imaji konkret yang akrab: tikus, capung, kupu-kupu, bunyi klakson, bola basket, sirene. Kedua, ia punya horizon sosial yang luas: isu ekologis, urbanisasi, politik citra, pariwisata, hingga ketidakadilan ekonomi. Ketiga, ia punya ketegasan untuk sesekali menyatakan tesis secara langsung, seperti pada “Citra diciptakan // Tentu tidak gratis” atau “Dusta adalah daging / adalah darah / adalah tulang / penyangganya.” Kombinasi ini membuat puisi-puisi Tan Lioe Ie tidak jatuh ke dalam jebakan pamflet, tapi juga tidak tenggelam dalam metafora yang kabur.
Selain itu, ada satu lagi kelebihan penting: buku ini ramah kepada pembaca. Ia tidak memaksa kita membaca dengan teori rumit. Ia bicara dari hal-hal yang dekat, lalu mengajaknya ke refleksi yang lebih besar. Karena itu, Sekolah Tikus bisa menjadi bacaan yang menarik bukan hanya untuk akademisi sastra, tetapi juga untuk pembaca umum yang ingin merasakan bagaimana puisi bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya, membaca Sekolah Tikus terasa seperti duduk di kelas kecil yang murid-muridnya adalah makhluk yang sering kita remehkan: tikus, capung, kupu-kupu. Mereka adalah guru yang sabar, yang mengajari kita bagaimana bertahan, bagaimana membaca jebakan, bagaimana menemukan celah, bagaimana hidup dalam dunia yang semakin bising.
Seperti capung yang akhirnya berhasil keluar dari kaca, seperti kupu-kupu yang meski terusir tetap berusaha mengepakkan sayap, seperti tikus yang lulus dari jebakan, kita diajak belajar dari yang kecil. Karena mungkin, di masa depan, justru yang kecil itulah yang akan menyelamatkan kita.
Sekolah Tikus bukan sekadar kumpulan puisi. Ia adalah ajakan untuk mendengar lebih baik, melihat lebih jeli, dan merasakan lebih dalam. Dan yang paling penting, ia adalah pengingat bahwa puisi bukan barang mewah; ia adalah “permainan sungguh” yang bisa menyalakan roh dalam peristiwa-peristiwa yang tampaknya biasa saja.
Jadi, bila Anda mencari bacaan yang menyegarkan dan sekaligus menantang, buku ini layak Anda bawa pulang. Karena setiap halamannya adalah undangan: mari belajar lagi, kali ini dari tikus, dari bunyi, dari kupu-kupu, dari capung, dan dari bulan yang kadang bercahaya, kadang sekadar menandai betapa tipisnya isi kantung di akhir bulan.
BIODATA
IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi yang lahir di Jakarta, 1985. Ia sempat menjajal peruntungan sebagai gitaris Jazz kemudian banting gitar untuk fokus menempuh kepenulisan puisi Jess & Beatawi, sesekali cerpen. Buku puisi pertamanya Ruang Bicara terbit pada 2019. Trivia Kampung Sawah terbit pada November 2024 di Velodrom sebagai bukunya yang kedua.













