BALI, Balipolitika.com – Tumpek Wayang adalah salah satu hari madurgama, di dalam kehidupan Hindu di Bali.
Bukan tanpa alasan, sebab kelahiran ini menyamai kelahiran Sang Hyang Kala. Tumpek Wayang, jatuh pada Sabtu 16 Agustus 2025. Tumpek sendiri juga merupakan hari suci di dalam Hindu Bali, sehingga banyak piodalan pada hari tumpek.
Hanya saja apabila kelahiran, pada Tumpek Wayang termasuk ke dalam kelahiran madurgama atau bersifat panas. Sebab menyamai kelahiran Sang Hyang Kala, putera dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati.
Kisahnya dalam berbagai sastra Hindu kuno, bahwa kama Dewa Siwa jatuh ke lautan saat melihat kemolekan tubuh istrinya yaitu Dewi Parwati. Sebab angin meniup kain sang dewi, sehingga memperlihatkan bagian bawah tubuhnya.
Kama ini kemudian bergejolak di lautan, dan berubah menjadi raksasa yang luar biasa besarnya. Raksasa itulah bernama Dewa Kala.
Singkat cerita, Dewa Kala yang lahir saat Tumpek Wayang dapat anugerah oleh Dewa Siwa untuk memangsa siapa saja yang lahir menyamai dirinya. Sayang seribu sayang, adiknya sendiri bernama Hyang Kumara lahir di hari yang sama.
Dewa Kala yang ingin memangsa adiknya sendiri, akhirnya membuat Dewa Siwa kebingungan. Akhirnya Dewa Siwa mengutuk Hyang Kumara, tidak akan pernah besar.
Agar tidak jadi mangsa kakaknya. Sebab Dewa Siwa berkata kepada Dewa Kala, untuk memangsa adiknya saat dewasa nanti. Namun untuk menghindari itu, Dewa Siwa pula mengutuk agar Hyang Kumara tetap kecil.
Dewa Kala tetap berniat memangsa adiknya, dan terjadilah saling kejar-kejaran. Berhari-hari Dewa Kala mengejar adiknya, ke sana kemari agar dapat memangsa adiknya itu.
Hampir saja tertangkap, namun tidak berhasil karena akhirnya Hyang Kumara bersembunyi di sebuah kotak wayang milik dalang. Sang dalang melindungi Hyang Kumara, dan mencoba memanipulasi Dewa Kala.
Dari sanalah, akhirnya hingga saat ini bagi kelahiran wuku Wayang wajib hukumnya upacara sapuh leger. Banyak versi yang berkembang di masyarakat.
Ada yang mengatakan semua kelahiran Wuku Wayang (selama sepekan) harus dan wajib sapuh leger. Namun beberapa lagi, mengatakan bahwa hanya kelahiran hari Jumat dan Sabtu Wuku Wayang saja yang wajib sapuh leger.
Namun semuanya kembali kepada keyakinan, dan kepercayaan masing-masing masyarakat Hindu di Bali. Dewa Mangku Dalang Samerana, mengatakan bahwa kelahiran wuku Wayang termasuk kelahiran melik.
Sehingga perlu ruwat, agar tidak terliputi energi negatif dan aura yang panas atau amarah. Sehingga sifat-sifat Dewa Kala yang identik dengan raksasa, tidak meliputi sang anak kelahiran wuku Wayang itu.
Ia pun melayani ruwatan atau bayuhan berbagai kelahiran melik, termasuk di antaranya kelahiran Wuku Wayang. Dengan langsung di dalamnya berisi pertunjukan wayang, karena Dewa Mangku Dalang Samerana adalah dalang juga selain pemangku.
“Nanti bisa bayuh atau ruwatan dengan banten sekala nista, madya, hingga utama. Tergantung dari keinginan dan kemampuan masing-masing orang,” sebutnya.
Tentu saja dengan ruwatan wayang ini, baik dengan wayang panyudamalan ataupun langsung dengan upacara sapuh leger.
Akan sangat membantu kelahiran Wuku Wayang, menjadi lebih tenang dan dapat sifat kadewatan (dewa) ketimbang sifat bhuta kala.
Dan hal tersebut harapannya membantu sang anak, akan menjalani kehidupannya dengan lebih baik. Ia mengatakan ada baiknya, untuk kelahiran Wuku Wayang segera ruwatan sedini mungkin, guna menghindari kejadian buruk sedini pula. (BP/OKA)













