Lubtara
Dalam nadiku
Lenteramu aku cumbu
Semerbak kasturi berdo’a bisu
Dari pusaran shalawat dan dzikir
Tubuhku hanyut dalam nafas takbir
Karam bersama laut yang biru
Tampak sebiru mata airmu
Tempat berlabuhnya para wali terdahulu
Lubtara,
Lenteramu tak akan pernah padam
Meski di terpa gelapnya malam.
Bersama Tuhan
Bersama Tuhan
Nafas dan ruh tertahan
Namamu tak pernah aku lupakan
Tak ada kenangan
Sebelum bercocok tanam bersama Tuhan
Ketika kematian belum menampakkan
Terlebih dahulu ingat pada asma tuhan
Tentang kenikmatan yang dulu dihiraukan.
Duka
Angin bergemuruh
Mengecup kening yang mulai terbasuh
Karna ombak menghantam dada
Sampai hilang gelombang nada
Terpaan badai membengkakkan telinga
Mengiris kedua bola mata
Menancapkan duri fatamorgana
Kata yang terucap tercekat bersamaan seruan ayat
Dan takbir bergema menuntun ke liang lahat
Tempat terakhir yang menampung sebuah mayat
Astagfirullah.
Shalawat Rindu
Malam yang terasa penuh berkah
Dengan hati yang rindu sudah
Aku menunggumu dalam rimbun aksara
Sampai lidah kelu diderap Cahaya
Wahai kekasih yang berjuluk Al-Musthafa
Sambutlah kami dengan jubah hijaumu sebagai bendera
Meski hanya sekedipan mata
Rahmat melimpah untukmu
Dari lidah berbasah shalawat rindu
Mengalir ke pori-pori kami
Sebagai bekal untuk bertemu pada baginda nanti
Amin.
Sepertiga Malam
Sepertiga malam ini
Aku melihatmu berpijar nyala api
Anggun memetik cahaya ilahi
Hanya selurus lidi
Yang kau tancapkan di serambi
Masih terbakar dalam puncak zikir
Sekali dengar daun-daun di dada ini bergetar.
Biodata
S. Pawana adalah nama pena Saiful Bahri. Ia bergiat di Laskar Pena Lubtara (Reguler) dan menjadi pengurus perpustakaan Lubtara. Beberapa puisinya terkumpul dalam antologi “dalam hening kami bicara”. Puisi-puisinya juga dimuat di beberapa media online.










