BUKU puisi “Perasaan yang Berpikir” karya Sofyan RH. Zaid menyajikan sebuah paradoks yang memikat: di satu sisi ia tampil dengan bahasa yang ringan, renyah, dan menyegarkan, namun disisi lain ia dengan sengaja memamerkan jangkar-jangkar filsafat dunia yang berat pada setiap sub-judul puisinya.
Oleh sebab itu harus saya katakan, bahwa Sofyan RH. Zaid adalah seorang pesulap. Pesulap yang tahu caranya menyembunyikan gajah di balik saputangan. Sadarilah, saat pertama kali kita membuka halaman demi halaman bukunya, mata kita segera diserang oleh konstelasi nama yang angker: Voltaire, Tan Malaka, Frithjof Schuon, hingga Immanuel Kant. Ada kecemasan awal bahwa kita akan terjerembab ke dalam teks-teks akademis yang berkerut kening, sebuah rimba konsep yang kering dan menuntut syaraf-syaraf tegang. Namun, sialnya, begitu kita masuk ke tubuh puisi, apa yang kita temukan? (maaf untuk kali ini saya memakai kata “kita”, bukan “saya”).
Yakni sebuah pelompatan yang tangkas. Ternyata Sofyan tidak sedang berkhotbah tentang Critique of Pure Reason atau menyelami dialektika materialisme. Ia justru membawa nama-nama besar itu turun ke bumi, mengundang mereka duduk di lincak warung, lalu menyuguhi mereka segelas kopi hitam yang pekat.
Tengoklah, misalnya, bagaimana ia mengunyah “Logika Mistika” Tan Malaka. Alih-alih merumuskan aksioma revolusioner, Sofyan menyodorkan bentang ingatan yang begitu intim, begitu jasmaniah: aroma menyan pada malam Jumat, teriakan ibu tentang “panah tai” saat melihat kilatan cahaya di langit, hingga liur bau kakek yang disemburkan ke ubun-ubun anak kecil yang demam.
Ya, di tangan Sofyan, filsafat yang mulanya adalah menara gading berkapur putih, seketika luluh menjadi remah-remah mitologi domestik yang akrab. Padahal ia bukan orang Banyuwangi yang terkenal santetnya. Masyarakat Banyuwangi paham betul apa itu “panah tai” yang cemolorot saat magrib usai berkumandang, saat petang beranjak pelan, di desa-desa. Di sini, ada kelenturan bahasa yang membuat yang berat menjadi mengambang, yang pekat menjadi bening. Ini adalah tipu daya yang berhasil. Pembaca terkecoh oleh etalase intelektual, hanya untuk disergap oleh kesederhanaan rasa yang paling purba.
Jelas sekali di situ tubuh yang bergerak tanpa beban, seperti Kredo Sofyan di awal sebagai “Pengantar Penyair.” Kekuatan utama Perasaan yang Berpikir terletak pada ketukan baris-barisnya yang prosais namun liris. Sofyan tidak terbebani oleh rima yang berdenting-denting atau metafora yang berlapis-lapis hingga melingkari lehernya sendiri. Ia menulis seperti orang yang sedang mencatat kilasan-kilasan visual di luar jendela kereta yang melaju sedang. Perhatikan puisi “Seekor Gawai” yang dipayungi nama Immanuel Kant:
“seekor gawai telah mencuri
anakku dari halaman rumah
dan lembaran buku…”
Di sini, heteronomi Kant—hukum yang datang dari luar diri—tidak dibahasakan dengan istilah-istilah hukum moral yang kaku, melainkan melalui metafora yang sangat dekat dengan kegelisahan manusia modern: gawai sebagai binatang buruan sekaligus pencuri perhatian anak-anak. Kata-katanya meluncur begitu saja, bersih, tanpa hiasan yang berlebihan. Kesegaran ini lahir karena Sofyan memperlakukan bahasa bukan sebagai monumen yang harus disembah, melainkan sebagai mainan yang lincah. Baris-baris puisinya pendek, hemat, namun memiliki daya pukul yang telak tepat di akhir larik. Ia berhasil menciptakan puisi yang bisa dibaca sekali duduk tanpa membuat pembaca kehilangan napas, namun tetap meninggalkan gema yang panjang setelah buku ditutup.
Maka, benar belaka apa yang dinyatakan Sofyan RH. Zaid, pikiran memiliki detak jantung. Dalam pengantarnya, Sofyan sendiri menegaskan bahwa “puisi tak harus indah dan bermakna… puisi seharusnya cukup berguna saja.” Kegunaan itu mewujud ketika puisi mampu merangsang pikiran untuk bergerak dan perasaan untuk menyentuh. Melalui buku ini, Sofyan sedang melakukan sebuah rekonsiliasi estetis. Selama ini, ada pemisahan yang ketat dalam tradisi perpuisian kita: puisi yang condong pada pikiran sering kali dicap dingin dan berjarak, sementara puisi yang condong pada perasaan kerap dituduh cengeng dan klise.
Sofyan menolak dikotomi tersebut. Saya sepakat. Ia membuktikan bahwa pikiran bisa memiliki detak jantung, dan perasaan bisa memiliki struktur logika. Ketika ia mengutip Voltaire dalam “Kepada Hidup dan Mati”: “kita berutang kepada hidup / dan kepada maut kita membayar!”, ia tidak sekadar sedang berfilsafat tentang eksistensi. Ia sedang mencatat sebuah kepastian dengan nada ketukan yang dingin namun berdarah. Nama-nama filsuf di dalam buku ini akhirnya tidak berfungsi sebagai referensi teoretis, melainkan sebagai ruang dekoratif atau lanskap latar. Mereka adalah bayang-bayang masa lalu yang dihadirkan untuk menguji apakah kata-kata Sofyan cukup kuat untuk berdiri di samping mereka. Dan lewat bahasanya yang renyah itu, Sofyan berhasil. Ia tidak tenggelam oleh nama-nama besar itu; ia justru menjinakkan mereka.
Saat saya mencoba masuk lebih dalam ke labirin teks Sofyan RH. Zaid, saya dibentangkan selembar pengantar penyair yang meliuk di antara ketajaman argumen dan kelenturan estetis.
Tapi ada ironi di situ. Seperti silet di balik beludru. Saya rumuskan sebagai “ziarah ironi” Sofyan RH. Zaid. Ada sejenis kekejaman yang sunyi ketika Sofyan RH. Zaid meletakkan nama-nama penghela sejarah pemikiran di atas bentang puisi-puisinya. Sekali lagi, tindakan itu bukan sekadar pajangan, melainkan sebuah proklamasi yang mengiris. Di satu sisi, ia memanggil hantu-hantu pemikir besar yang sejarahnya ditulis dengan tinta darah dan ketegangan eksistensial. Namun di sisi lain, dengan sekali tebas melalui pisau bahasanya yang renyah, Sofyan memotong seluruh jubah kebesaran itu menjadi perca-perca domestik yang hampir-hampir sepele, namun sekaligus sublim.
Di sinilah letak kontradiksi yang setajam silet itu. Sebuah paradoks yang menyayat batas antara yang agung (the sublime) dan yang profan (the profane). Mari kita pandang dengan saksama puisi “Mahkota Sajak” yang ia gantungkan pada nama Frithjof Schuon—sang begawan perenialisme yang mencari akar tunggal dari segala tradisi sakral. Schuon membayangkan spiritualitas sebagai arsitektur kosmis yang megah, kubah surgawi yang melingkupi jagat raya. Namun, apa yang dilakukan Sofyan? Ia mereduksi kemegahan metafisika itu menjadi sebentuk pengakuan yang ringkih dan telanjang:
“seketika jatuh dan pecah mahkota sajak
yang selama ini aku pakai
untuk menyembunyikan
kekerdilan!”
Bahasa Sofyan di sini bertindak sebagai silet yang mencukur habis pretensi manusia. Di hadapan Schuon yang purba, sang penyair tidak sedang mendirikan menara teologi baru. Ia justru menelanjangi dirinya sendiri, mengaku kerdil di balik runtuhan subuh. Kontradiksi ini begitu tajam karena ia terjadi di ruang yang sangat sempit: antara judul yang melangit dan pengakuan yang merayap di bumi. Kemurnian eksistensial justru lahir ketika sang penyair menolak untuk menjadi agung.
Filsafat, dalam pelukan Sofyan, tidak lagi menjadi diktat yang berdebu di perpustakaan. Ia menjelma menjadi zat cair yang mengalir di sela-sela rutinitas yang intim. Perhatikan, misalnya, bagaimana ia memperlakukan oposisi biner di dalam daftar isinya, seperti “Bersama Sekaligus Terpisah” atau “Logika Mistika”. Di bawah bayang-bayang Tan Malaka, “Logika Mistika” bukan lagi sebuah pamflet politik yang menuntut rasionalitas massa, melainkan sebuah lanskap masa kecil tempat demam anak bungsu disembuhkan oleh liur kakek yang bau.
Di sinilah Sofyan bertindak bagai seorang filsuf pascamodern yang bermain di tepian parodi. Ia tahu bahwa kebenaran tidak selalu ditemukan dalam rumusan silogisme yang kaku, melainkan dalam keganjilan hidup sehari-hari. Bahasa yang dipilihnya—yang renyah, pendek, bergerak cepat tanpa beban adjektiva yang gemuk—adalah bentuk perlawanan terhadap beban sejarah. Ketika ia menulis tentang kecemasan eksistensial, ia tidak mengutip Heidegger dengan istilah-istilah Dasein ia justru membiarkan kecemasan itu mengetuk pintu rumah seperti seorang penagih utang yang sabar.
Kontradiksi ini tajam justru karena ketidakselarasannya. Judul-judulnya menjanjikan sebuah beban yang berat, sebuah batu Sisyphus yang harus digulingkan ke puncak gunung. Namun, tubuh puisi Sofyan adalah angin yang menerbangkan debu-debu dari batu tersebut. Kita dibawa untuk merenung bukan karena kita dipaksa berpikir keras, melainkan karena kita dikejutkan oleh betapa ringannya kenyataan itu bisa diucapkan.
Artinya, Sofyan RH. Zaid tidak sedang menulis puisi filsafat dalam pengertian konvensional yang kerap kali terjebak menjadi khotbah moral yang menjemukan. Ia sedang menulis puisi yang sadar akan filsafat, sebuah kesadaran yang membuatnya mampu menertawakan sekaligus merayakan kerapuhan manusia. Ketajaman kritik dalam buku ini tidak datang dari gemuruh kata-kata yang perkasa, melainkan dari keheningan di antara baris-barisnya. Sofyan berhasil membuktikan bahwa silet yang paling tajam tidak selalu memancarkan kilau yang menyilaukan; ia bisa menyelinap dalam bentuk lipatan kertas sebuah buku puisi yang tipis, menunggu jemari kita menyentuhnya, lalu menyisakan luka tipis yang terlambat kita sadari rasa perihnya.
Sofyan melakukan sebuah subversi yang jenaka sekaligus menyakitkan di hadapan wajah Levinas. Bagi Levinas, kehadiran wajah orang lain adalah sebuah perintah etis yang suci, sebuah transendensi yang tak terjangkau oleh ego kita. Namun, di tangan Sofyan, keagungan metafisika itu dijatuhkan ke dalam lanskap paling profan abad ini: “di tepi sungai notifikasi”. Filsafat etika yang pelik seketika diringkas menjadi kritik budaya digital yang renyah, sebuah ruang dimana manusia modern berinteraksi bukan lagi lewat tatap muka yang intim, melainkan lewat pendar layar gawai. Kontradiksi silet itu mengiris justru ketika Sofyan menulis:
“kita saling mengenal
tanpa perlu fotbar untuk medsos”
Kata “fotbar” (foto bareng) dan “medsos” adalah kosakata pop yang banal, yang biasanya dihindari oleh para penyair yang mabuk oleh diksi-diksi berdebu warisan masa lalu. Namun, Sofyan memasukkannya tanpa canggung. Ia membenturkan etika alteritas Levinas dengan kedangkalan narsisme digital. Melalui kontradiksi ini, Sofyan sedang mengejek zaman kita: kita mengira kita mengenal orang lain lewat algoritma, lewat visualisasi panggung media sosial, padahal kita hanya sedang menguasai bayangan mereka.
Lagi, ini perihal Levinas dan Trilogi Before. Silet itu bergerak semakin dalam pada bait-bait berikutnya. Levinas selalu mengingatkan bahwa “Yang Lain” tidak boleh direduksi menjadi objek pengetahuan. Mereka bukan teka-teki yang harus dipecahkan agar tunduk pada rasio kita. Sofyan menangkap esensi filosofis yang rumit ini, lalu mengubahnya menjadi sebaris kalimat romantis yang sangat empuk dan liris:
“bagiku, kau bukan teka-teki
yang mesti
aku pecahkan dengan paksa”
“kita hanyalah puisi
butuh dinikmati
tanpa perlu dimengerti
seperti Jesse dan Celine”
Penyandingan antara Emmanuel Levinas di awal puisi dan karakter Jesse serta Celine (sepasang kekasih dari trilogi film Before Sunrise karya Richard Linklater) di akhir puisi adalah lompatan estetis yang luar biasa berani. Sofyan melompat dari teks filsafat Eropa yang muram menuju sinema romantis Hollywood yang dipenuhi obrolan panjang tanpa ujung di jalanan Wina, Paris, dan Yunani.
Di sinilah letak perenungan filosofis Sofyan yang paling matang: ia sadar bahwa baik filsafat Levinas maupun hubungan cinta kasih yang sejati memiliki muara yang sama, yaitu penerimaan atas misteri. Jesse dan Celine tidak saling memiliki secara total; mereka hanya saling menikmati kehadiran masing-masing dalam ruang waktu yang fana.
Dengan menyebut hubungan itu “seperti puisi yang butuh dinikmati tanpa perlu dimengerti”, Sofyan sesungguhnya sedang mempraktikkan filsafat alteritas itu sendiri. Ia menolak memperkosa realitas dengan teori-teori yang kaku.
Sofyan RH. Zaid telah berhasil mengubah silet kontradiksi itu menjadi sebilah pisau bedah yang tipis. Ia mengiris kulit luar filsafat yang keras, mengambil intisarinya yang paling berharga, lalu menyajikannya di atas piring porselen yang jernih untuk kita nikmati sambil minum teh sore hari.
(2026)
*Penulis adalah penyair, tinggal di Banyuwangi.












