KITA sering kali memiliki pandangan ambivalen terhadap lebah. Di satu sisi kita menikmati madu yang dihasilkannya. Namun di sisi lain, kita takut dengan sengatannya. Tentu perlu ditekankan di sini, lebah hanya akan menyengat jika merasa terancam atau terganggu.
Seharusnya kita belajar dari lebah. Kehidupan lebah menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana sebuah dunia dibangun. Tentu melalui kerja keras, komunikasi, pembagian peran, dan kesediaan setiap individu menyumbangkan sesuatu bagi keberlangsungan kehidupan bersama.
Perupa I Ketut Suasana alias Kabul telah lama mengamati kehidupan lebah. Karena saking terkesannya pada lebah, hingga kini tematik karya-karyanya tak jauh dari kehidupan serangga mungil itu. Hal itu bisa kita saksikan pada pameran tunggal kelimanya yang bertajuk Nectar Waggle di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud, yang berlangsung dari tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026.
Merujuk pada tajuk pamerannya, kita tahu bahwa nectar adalah sari bunga yang dikumpulkan lebah sebagai sumber kehidupan koloni. Sementara itu, waggle merujuk pada waggle dance, gerakan lebah pekerja untuk menyampaikan informasi mengenai lokasi sumber makanan kepada lebah lain. Dua istilah itu mempertemukan dua hal mendasar, yakni sumber kehidupan dan komunikasi.
Nektar yang ditemukan seekor lebah tidak akan banyak berarti jika pengetahuan tentang sumbernya tidak dibagikan. Demikian pula madu bukan hasil dari seekor lebah yang sekali terbang, tetapi akumulasi perjalanan banyak lebah. Sarang tidak dibangun oleh seekor lebah, namun oleh kerumunan lebah yang bekerja terus-menerus.
Dalam hal ini, lebah bisa menjadi metafora tentang pembentukan sistem sosial. Suatu kehidupan bersama yang tumbuh dari kontribusi banyak individu. Namun metafora itu tidak berarti manusia harus menjadi seperti koloni lebah yang seragam. Manusia memiliki kehendak, ingatan, perbedaan kepentingan, dan kebebasan untuk mempertanyakan aturan. Karena itu, filosofi lebah dalam pameran ini lebih menarik jika dibaca sebagai suatu pertanyaan. Bagaimana kebebasan individu, tanggung jawab sosial, dan kebutuhan bersama dapat hidup berdampingan?
Bagi perupa kelahiran Apuan, Tabanan, 30 Desember 1978 ini, lebah bukan objek baru. Lebah telah hadir secara intens dalam perjalanan artistiknya sejak masa studi seni lukis di ISI Denpasar pada pertengahan dekade 2000-an. Tetapi lebah dalam karya-karyanya tidak sekadar disalin secara realistik. Lebah bergerak dari figur menuju massa, dari tubuh individual menuju populasi, dari bentuk yang mudah dikenali menuju abstraksi.
Menariknya, gagasan mengenai kerja kolektif itu juga tercermin dalam cara Kabul melukis. Ia membangun bentuk melalui guratan garis yang berulang. Satu garis bertemu garis lain, menumpuk, berdekatan, lalu membentuk figur, kawanan, arus, bahkan bidang yang semakin abstrak. Satu garis mungkin tampak sederhana, tetapi ribuan garis dapat melahirkan sebuah dunia visual.
Di sini terdapat hubungan menarik antara proses melukis dan kehidupan lebah. Sebagaimana setetes nektar yang dibawa seekor lebah tampak kecil dibandingkan kebutuhan seluruh koloni, satu guratan garis Kabul tampak tidak berarti jika berdiri sendiri. Makna lahir dari hubungan dan akumulasi. Sesuatu yang besar dan bermakna dapat tumbuh dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan tekun.
Salah satu karya yang kuat untuk membaca gagasan tersebut adalah lukisan berjudul Populasi Lebah (akrilik di kanvas, 250 x 600 cm, 2026). Gambar-gambar lebah dibangun melalui pengulangan garis yang memenuhi bidang. Di antara kepadatan itu muncul bidang biru, merah, kuning, ungu, hijau, dan merah muda. Tentu ini lukisan yang dibuat dengan penuh kesabaran dan ketekunan.
Melihat lukisan itu dari jarak tertentu, tubuh lebah tidak lagi tampil sebagai individu yang terpisah. Mereka melebur menjadi koloni yang bergerak. Mata apresian tidak diarahkan untuk mengenali satu lebah, tetapi mengikuti kepadatan, arah, ritme, dan hubungan antar lebah.
Di sinilah Populasi Lebah berbicara tentang kehidupan kolektif. Populasi bukan sekadar sejumlah individu yang dikumpulkan menjadi satu. Populasi adalah ruang tempat hubungan menciptakan kualitas baru. Sebuah masyarakat dapat terdiri atas banyak orang tetapi kehilangan solidaritas. Sebaliknya, komunitas kecil dapat memiliki daya hidup kuat ketika anggotanya saling memperhatikan dan memahami tanggung jawab masing-masing.
Lukisan tersebut juga mengingatkan kita bahwa kehidupan bersama tidak selalu tenang. Ada gerak, pertemuan, kepadatan, bahkan kemungkinan gesekan. Komunitas bukan sesuatu yang selesai dibangun sekali jadi. Komunitas harus terus dirawat dan dinegosiasikan.
Gagasan itu meluas dalam Bumi Lebah #1 (akrilik di kanvas, 150 x 150 cm, 2025) dan Bumi Lebah #2 (akrilik di kanvas, 250 x 300 cm, 2026). Kabul menghadirkan lingkaran besar yang dapat dibaca sebagai imaji bumi. Bentuk-bentuk lebah dibangun dari garis dan diulang dalam berbagai ukuran, arah, kepadatan, serta warna.
Dari garis lahir bentuk. Dari pengulangan lahir populasi. Dari populasi muncul imaji bumi. Bahasa visual Kabul bergerak dari unsur kecil menuju ruang yang lebih luas. Lebah tidak sekadar menghuni bumi melalui hubungan antar lebah. Mereka seolah ikut membentuk dunia tempat mereka hidup.
Seri lukisan Bumi Lebah membawa kita pada gagasan tentang rumah bersama. Bumi bukan milik satu manusia atau satu generasi. Bumi merupakan ruang kehidupan yang memungkinkan berbagai makhluk bertahan melalui hubungan yang rumit. Lebah membutuhkan tumbuhan, air, udara, dan habitat. Manusia pun tidak mungkin hidup tanpa tanah, air, tumbuhan, hewan, dan ekosistem.
Karena itu, karya ini dapat dibaca sebagai pengingat bahwa manusia bukan penguasa tunggal alam. Ketika hutan menjadi komoditas, sungai menjadi saluran pembuangan, atau tanah semata-mata dipandang sebagai objek ekonomi, yang terancam bukan hanya makhluk lain, tetapi juga kehidupan manusia sendiri.
Lebah memperlihatkan betapa rapuhnya sebuah komunitas ketika sumber kehidupannya rusak. Hilangnya tumbuhan berbunga, penggunaan pestisida, perubahan iklim, dan kerusakan habitat berhubungan dengan keberlangsungan koloni sekaligus keseimbangan ekosistem. Dalam konteks itu, gotong royong tidak berhenti pada hubungan antar manusia. Gotong royong meluas menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat ruang hidup.
Jika lukisan Populasi Lebah berbicara tentang individu dan kelompok, sementara seri Bumi Lebah memperluasnya menjadi gagasan rumah bersama, maka lukisan Abstraksi Alam Lebah #6 (akrilik di kanvas, 130 x 140 cm, 2026) membuka pembacaan mengenai komunikasi. Dalam lukisan itu, kerumunan lebah yang dibuat dengan garis-garis hitam memenuhi bidang dan berinteraksi dengan gugusan warna biru, merah, kuning, hijau, jingga, ungu, serta abu-abu. Kerumunan lebah itu bergerak dalam ruang yang tidak memiliki batas lanskap tegas.
Dalam kehidupan lebah, penemuan sumber makanan oleh seekor lebah menjadi berguna bagi koloni karena informasi tersebut dibagikan. Pengetahuan tentang arah, jarak, dan sumber nektar menjadi bagian dari sistem kehidupan bersama. Komunikasi bukan pelengkap, namun syarat keberlangsungan suatu komunitas.
Manusia pun hidup dari pengetahuan yang diwariskan dan dipertukarkan. Petani membaca musim. Nelayan memahami laut. Masyarakat adat merawat pengetahuan tentang hutan. Sementara itu, tradisi diteruskan melalui bahasa, cerita, upacara, dan praktik sehari-hari.
Namun dunia manusia menghadirkan persoalan yang lebih rumit. Informasi melimpah tidak selalu menghasilkan pemahaman. Komunikasi dapat membangun kepercayaan, tetapi juga dapat menyebarkan prasangka dan kebencian. Karena itu, filosofi waggle mengandung pertanyaan penting. Ketika kita menyampaikan sesuatu kepada orang lain, apakah informasi itu membantu kehidupan bersama atau justru merusaknya?
Kepadatan garis dalam Abstraksi Alam Lebah #6 juga menuntut apresian untuk melihat secara perlahan. Mata terpaksa bergerak dari satu bentuk ke bentuk lain, menemukan hubungan di antara kerumitan. Lewat lukisan ini, seolah-olah Kabul mengingatkan kita bahwa sesuatu yang kompleks tidak dapat dipahami hanya melalui pandangan sepintas.
Filosofi lebah juga berkaitan dengan pembagian kerja. Dalam koloni, tidak semua lebah menjalankan tugas yang sama. Ada yang mencari makanan, merawat larva, menjaga sarang, dan menjalankan fungsi lainnya. Setiap tugas memiliki arti bagi keseluruhan.
Dalam masyarakat manusia, pembagian kerja juga menjadi kenyataan sehari-hari. Petani menghasilkan pangan. Guru membagikan pengetahuan. Perawat merawat orang sakit. Seniman mengolah pengalaman menjadi karya. Banyak pekerjaan penting justru dilakukan oleh mereka yang paling sedikit mendapatkan apresiasi dan pengakuan.
Tetapi di sinilah metafora lebah perlu dibaca secara kritis. Manusia bukan makhluk yang harus menerima begitu saja pembagian peran yang ada. Gotong royong tidak bisa menjadi alasan untuk membenarkan eksploitasi atau menuntut seseorang terus berkorban tanpa batas. Kerja bersama seharusnya berjalan bersama apresiasi, penghargaan, kesempatan, perlindungan, dan keadilan.
Dalam lukisan Old Town Mountains (akrilik di kanvas, 100 x 200 cm, 2025), gunung hadir berdampingan dengan susunan garis, bidang persegi, dan bentuk geometris yang menyerupai bangunan modern. Di antara keduanya, kawanan lebah bergerak.
Lebah menjadi penghuni ruang yang sedang berubah. Gunung dapat dibaca sebagai citra alam. Sementara itu, bentuk geometris membawa kemungkinan pembacaan tentang pembangunan dan ruang buatan manusia. Persoalannya bukan sekadar memilih alam atau pembangunan. Namun mempertanyakan bagaimana pembangunan berlangsung, siapa yang memperoleh manfaat, dan apa yang terjadi pada kehidupan yang telah lebih dahulu menghuni ruang tersebut.
Jalan, gedung, kawasan wisata, dan fasilitas ekonomi memang dapat membuka kesempatan baru. Namun pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan dapat merusak sumber kehidupan. Ketika habitat lebah menyusut, yang hilang bukan hanya serangga. Lebah berperan dalam penyerbukan tumbuhan sehingga keberadaannya berhubungan dengan ekosistem dan produksi pangan. Lukisan Old Town Mountains menempatkan lebah sebagai pengingat bahwa setiap perubahan ruang selalu memiliki konsekuensi yang melampaui kepentingan manusia.
Sementara itu, Menuju Gunung Putih (akrilik di kanvas, 140 x 130 cm, 2026) menghadirkan gunung putih sebagai pusat orientasi di tengah ribuan lebah. Gunung menjadi arah, sementara kawanan lebah melakukan perjalanan menuju arah tersebut.
Karya tersebut dapat dibaca sebagai metafora tujuan bersama. Sebuah komunitas dapat bergerak menuju tujuan yang sama tanpa harus menghapus perbedaan pengalaman dan kemampuan anggotanya. Yang diperlukan bukan keseragaman, namun kemampuan berbagi pengetahuan dan menyesuaikan langkah.
Dalam praktik Kabul, garis merupakan unsur penting yang terus bertahan. Tubuh lebah, sayap, kawanan, dan bidang abstrak dibangun melalui guratan yang berulang. Garis bukan sekadar kontur. Garis memeram waktu, ketekunan, dan keluwesan tangan. Setiap garis merupakan tindakan individual. Tetapi ketika ribuan garis bertemu, hasilnya melampaui tindakan individual itu sendiri. Garis menjadi dunia visual yang hanya mungkin hadir melalui akumulasi.
Dalam hal ini, praktik melukis Kabul berkelindan dengan pengalaman sosial dan kebudayaan Bali. Ketelitian, pengulangan, serta perhatian terhadap detail memiliki akar dalam tradisi seni rupa Bali. Dalam kehidupan sosial Bali, kerja bersama juga hadir melalui ngayah, kegiatan adat, dan berbagai bentuk keterlibatan komunal.
Kabul berada di antara ruang personal sebagai seniman dan ruang sosial sebagai bagian dari masyarakat. Pengalamannya membuat topeng barong, mengukir bangunan tradisional, dan terlibat dalam ngayah memberi lapisan lain bagi pembacaan karya-karyanya.
Nectar Waggle bukan sekadar pameran tentang lebah. Pameran ini merupakan perenungan tentang bagaimana kehidupan dibangun melalui hubungan kerja, komunikasi, pembagian peran, ketergantungan, dan tanggung jawab terhadap ruang hidup.
Madu dan sengat dapat menjadi dua sisi penting metafora lebah. Madu mengingatkan kita pada hasil kerja bersama, sesuatu yang lahir dari perjalanan panjang. Sengat mengingatkan kita bahwa kehidupan juga memiliki batas pertahanan. Komunitas perlu melindungi dirinya, tetapi perlindungan tidak semestinya berubah menjadi penutupan diri terhadap kehidupan lain.
Lebah juga mengajarkan kita bahwa gotong royong bukan sekadar bekerja bersama. Hal itu membutuhkan kepercayaan, pembagian tanggung jawab, dan kesediaan menyumbangkan sesuatu tanpa selalu menuntut hasil langsung bagi diri sendiri. Namun gotong royong bukan penghapusan individu. Justru individu memperoleh daya melalui hubungan dengan yang lain.
Di tengah dunia yang semakin menekankan persaingan, pencapaian pribadi, dan akumulasi kepemilikan, pameran Nectar Waggle seolah mengajukan sejumlah pertanyaan sederhana. Apa yang kita hasilkan untuk kehidupan bersama? Apa yang kita bagikan? Apa yang kita rawat agar dapat diwariskan? Dan apa yang terjadi jika kita hanya mengambil “nectar” dari dunia tanpa memikirkan keberlangsungan hidup bunga-bunga yang menjadi sumbernya?
Satu garis tidak membentuk sebuah dunia. Satu lebah tidak mungkin membangun koloni. Satu manusia pun tidak mampu menjaga kehidupan sendirian. Tetapi ketika garis-garis bertemu, lebah-lebah bekerja, dan manusia bersedia saling menopang, sesuatu yang lebih besar daripada individu dapat tumbuh.
Di atas kanvas Kabul, ribuan lebah bergerak melalui garis, warna, dan ruang. Mereka tidak sedang mengajarkan manusia untuk menjadi lebah. Mereka justru mengajak kita melihat kembali sesuatu yang kerap dilupakan, yakni hidup selalu berlangsung melalui hubungan. Seperti madu yang tidak lahir dari seekor lebah yang terbang, kehidupan bersama pun tidak pernah dibangun oleh satu tangan saja. Ya…begitulah.***
*penulis adalah penikmat seni rupa.













