JAKARTA, Balipolitika.com– Pendopo sebagai salah satu merek usaha Kawan Lama Group kembali berpartisipasi dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2026.
Kali ini, Pendopo menggandeng desainer berbakat Indonesia, Julia Orlandy untuk menghadirkan koleksi bertajuk “Nadi di Tondi: Denyut Tradisi dalam Jiwa Masa Kini”.
Terdiri dari 9 koleksi, “Nadi di Tondi” mengangkat Ulos sebagai inspirasi utama dan menerjemahkannya ke dalam busana yang elegan, kontemporer, serta relevan dengan gaya hidup masa kini tanpa melepaskan akar budaya yang menjadi identitasnya.
Sebagai rumah bagi lebih dari 300 UMKM, Pendopo terus berkomitmen memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara melalui berbagai kolaborasi kreatif.
Bagi Pendopo, wastra Indonesia bukan sekadar kain tradisional, melainkan medium yang menyimpan cerita, nilai, dan identitas bangsa.
Melalui kolaborasi dengan Julia Orlandy, Pendopo ingin menghadirkan ruang baru bagi warisan budaya agar terus hidup, berkembang, dan menjangkau generasi yang lebih luas.
Mengusung tema “Nadi di Tondi: Denyut Tradisi dalam Jiwa Masa Kini”, koleksi ini berangkat dari filosofi Batak mengenai tondi, yaitu jiwa, roh, dan kekuatan batin yang menyertai kehidupan manusia.
Dipadukan dengan makna nadi sebagai simbol denyut kehidupan, koleksi ini merefleksikan bagaimana tradisi terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadi bagian dari identitas yang tidak pernah berhenti hidup.
Terinspirasi dari tradisi Mangulosi, prosesi adat Batak berupa penyematan Ulos sebagai simbol restu, kasih sayang, perlindungan, dan penghormatan, Pendopo dan Julia Orlandy menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam siluet formal bergaya elegan dengan detail asimetris dan aksen turtleneck.
Selaras dengan karakter fashion Pendopo yang mengedepankan konsep ready-to-wear, setiap rancangan dihadirkan agar wastra Indonesia dapat dikenakan dalam berbagai momen kehidupan modern.
Menggunakan ragam Ulos seperti Sibolang Rasta, Sibolang Rasta Marliris, Mangiring, Tutur-tutur, dan Simarpisoran, koleksi ini tidak hanya menampilkan kekayaan wastra Batak, tetapi juga mengangkat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Nilai-nilai tersebut menjadi benang merah dalam 9 koleksi “Nadi di Tondi”, yang membawa penonton menyusuri perjalanan filosofi kehidupan masyarakat Batak dimulai dari Tondi sebagai simbol jiwa dan kekuatan batin, Hamajuon yang merepresentasikan kemajuan, Holong sebagai kasih sayang, Hasangapon yang melambangkan kehormatan, Pardomuan tentang persatuan, hingga Horas sebagai doa akan kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan.
Narasi kemudian berlanjut melalui Ragidup yang menggambarkan dinamika kehidupan, Pasu-pasu sebagai simbol berkat dan doa, serta ditutup dengan Hagabeon yang merepresentasikan keberlanjutan generasi.
Melalui rangkaian tersebut, “Nadi di Tondi” menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar warisan untuk dikenang, tetapi nilai yang terus hidup dan relevan bagi kehidupan masa kini.
Koleksi ini tampil dalam palet Ulos dengan beragam warna yang disandingkan dengan kain hitam polos, menciptakan kesan elegan meski hadir dengan berbagai unsur warna.
Keberagaman warna tersebut merefleksikan kekayaan budaya Sumatra, dipadukan dengan material semi-wool serta konstruksi tailoring yang memperlihatkan karakter Ulos dalam perspektif yang lebih modern.
Seluruh Ulos yang ditenun oleh para perajin lokal sebagai bagian dari upaya mendukung keberlanjutan ekosistem wastra Indonesia.
“Melalui ‘Nadi di Tondi’, saya ingin menunjukkan bahwa Ulos memiliki ruang yang sangat luas untuk terus berevolusi tanpa kehilangan maknanya. Setiap look lahir dari rasa hormat terhadap tradisi, namun diterjemahkan dalam bahasa desain yang lebih kontemporer agar dapat dikenakan dalam berbagai momen kehidupan masa kini. Bagi saya, fashion bukan hanya tentang busana, tetapi juga medium untuk membawa cerita budaya agar terus hidup dan menjangkau generasi baru,” ujar Julia Orlandy.
Sementara itu, Ni Luh Putu Laura Sarassita, Head of Pendopo, mengatakan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen Pendopo dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Di Pendopo, kami percaya bahwa setiap wastra Nusantara membawa cerita, nilai, dan identitas untuk terus diwariskan. Karena itu, kami tidak hanya menghadirkan produk berbasis budaya, tetapi juga membangun kolaborasi yang membuka ruang bagi para desainer untuk menginterpretasikan kembali warisan Indonesia dalam bahasa yang dekat dengan masyarakat masa kini. Bersama Julia Orlandy, kami berharap ‘Nadi di Tondi’ dapat menginspirasi semakin banyak orang untuk mengenal, mengapresiasi, sekaligus bangga mengenakan wastra Indonesia sebagai bagian dari keseharian,” pungkas Laura.
Melalui kolaborasi bersama Julia Orlandy di Indonesia Fashion Week 2026, Pendopo kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan wastra Nusantara dalam perspektif yang relevan dengan perkembangan zaman.
Sejalan dengan semangat “Nadi di Tondi: Denyut Tradisi dalam Jiwa Masa Kini”, Pendopo percaya bahwa warisan budaya tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga terus dihidupkan, dikenakan, dan diwariskan sebagai bagian dari identitas masyarakat Indonesia lintas generasi. (bp/ken)













