HADIR: Seminar dan Diskusi Buku Srawung Mi-Reng: New Music for Gamelan. (Sumber: Gung Kris)
DENPASAR, Balipolitika.com — Sebagai bagian dari program Mi-Reng: New Music for Gamelan, akan diselenggarakan tiga rangkaian kegiatan literasi budaya berupa Dialog Budaya serta Seminar dan Diskusi Buku Srawung Mi-Reng: New Music for Gamelan.
Mi-Reng: New Music for Gamelan merupakan program yang membuka ruang perjumpaan antara tradisi gamelan, praktik penciptaan kontemporer, wacana seni pertunjukan, serta refleksi kritis atas perkembangan kebudayaan hari ini. Melalui rangkaian dialog dan seminar ini, Mi-Reng menghadirkan forum literasi interaktif yang membahas perkembangan new music for gamelan, proses kreasi musik gamelan kontemporer, kolaborasi lintas media, serta berbagai isu dalam praktik dan pengelolaan seni yang relevan dengan ekosistem budaya saat ini.
Rangkaian pertama akan digelar pada Rabu, 22 April 2026, bertempat di SMK Negeri 3 Sukawati, Gianyar, Bali. Dialog Budaya ini mengangkat tema “Festival sebagai Praktik Artistik dan Wacana Seni Pertunjukan” dengan menghadirkan narasumber I Made Sukadana, I Gede Yogi Sukawiadnyana, dan I Komang Pasek Wijaya.
Diskusi ini mengajak publik membaca festival tidak semata sebagai peristiwa yang menampilkan karya, tetapi sebagai praktik artistik yang membentuk sekaligus dibentuk oleh wacana seni pertunjukan. Festival dipahami sebagai ruang tempat karya, gagasan, publik, dan konteks sosial saling berkelindan, sehingga seni pertunjukan dapat dibaca sebagai proses yang terus bergerak, bukan sekadar hasil akhir di atas panggung.
Dalam konteks seni pertunjukan hari ini, festival kerap menjadi medium yang mempertemukan pendekatan yang berakar pada tradisi dengan bentuk-bentuk eksperimental. Relasi tersebut tidak selalu berjalan linier, melainkan melalui negosiasi, tafsir, adaptasi, dan pergeseran makna. Karena itu, festival dapat dipahami sebagai ruang uji bagi praktik artistik, sekaligus ruang produksi makna yang mempertemukan pengalaman estetis dan refleksi kritis.
I Made Sukadana melihat festival sebagai peristiwa yang memiliki lapisan proses panjang, bukan hanya ruang presentasi karya. Menurutnya, “Festival tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga melibatkan proses kreativitas yang kompleks; termasuk bagaimana seni itu dibicarakan setelah difestivalkan.”
Dalam kaitannya dengan praktik penciptaan, I Gede Yogi Sukawiadnyana menekankan bahwa “New Music for Gamelan adalah sebuah sikap: membebaskan gamelan dari aturan yang sudah berlaku, sambil tetap menjadikan prinsip-prinsip tradisi sebagai pijakan.” Sementara itu, I Komang Pasek Wijaya menegaskan pentingnya membaca gamelan sebagai ruang hidup yang terus dapat diperluas. Ia menyampaikan, “New Music for Gamelan memikirkan keberlangsungan gamelan, bukan hanya sebagai warisan tradisi yang harus dilestarikan, tetapi sebagai ruang untuk terus dikembangkan.”
Rangkaian kedua akan berlangsung pada Jumat, 24 April 2026, bertempat di Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Dialog Budaya ini mengangkat tema “Dari Wacana ke Peristiwa: Menjaga Keberlanjutan Festival Seni” dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par., I Gede Titah Pratyaksa, dan I Ketut Pani Ryandhi.
Diskusi ini berangkat dari pemahaman bahwa festival seni dan peristiwa pertunjukan tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan gagasan, perencanaan, dialog, dan praktik berkelanjutan. Festival menjadi ruang pertemuan antara wacana dan peristiwa, tempat ide-ide diuji melalui pengalaman nyata yang dihadirkan kepada publik.
Melalui tema ini, Mi-Reng mengajak peserta untuk melihat festival bukan sekadar agenda temporer, melainkan sebagai praktik kultural yang membutuhkan kesinambungan. Aspek dokumentasi, distribusi, pendidikan publik, keterlibatan media, dan peran institusi menjadi bagian penting dalam membangun keberlanjutan ekosistem seni. Festival tidak hanya memproduksi karya, tetapi juga memproduksi ingatan, pengetahuan, dan jaringan yang memungkinkan praktik seni terus hidup dan berkembang.
I Gede Titah Pratyaksa memandang Mi-Reng sebagai ruang yang melampaui bentuk konser semata. Ia menyampaikan, “Mireng bukan hanya sekadar konser, tetapi ruang cipta dan ruang temu yang lahir dari tradisi, lalu bergerak menembus batas-batas kekinian.”
Pentingnya percakapan setelah peristiwa festival juga ditegaskan oleh I Ketut Pani Ryandhi. Menurutnya, “Kalau festival selesai lalu tidak didiskusikan, ia menjadi tidak berarti. Sesuatu menjadi hidup ketika terus-menerus diperbincangkan.” Dalam perspektif keberlanjutan, Prof. Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par. menambahkan, “Jika Mireng ingin berkelanjutan, ia harus menghadirkan sesuatu yang baru dan tetap berakar pada kearifan lokal masyarakat pendukungnya.”
Rangkaian ketiga akan diselenggarakan pada Senin, 27 April 2026, bertempat di SMK Negeri 5 Denpasar. Kegiatan ini berupa Seminar dan Diskusi Buku Srawung Mi-Reng: New Music for Gamelan dengan menghadirkan narasumber I Gede Made Indra Sadguna, I Made Adnyana, dan I Gusti Ngurah Agus Ardana.
Seminar dan diskusi buku ini merupakan kelanjutan dari program Mi-Reng: New Music for Gamelan yang telah berlangsung sepanjang tahun 2025, mulai dari Lokacipta, Sarasehan, hingga Ritus Cipta. Buku Srawung Mi-Reng tidak hanya merangkum jejak dan dokumentasi proses Mi-Reng 2025, tetapi juga membuka kemungkinan untuk membaca ulang praktik new music for gamelan sebagai medan yang terus bergerak, tidak selesai dalam satu peristiwa, dan selalu mengandung lapisan makna yang dapat ditafsir kembali.
Melalui buku ini, pengalaman penciptaan, percakapan, dan dialektika yang terjadi dalam Mi-Reng dihadirkan kembali sebagai bahan refleksi.
Gamelan tidak diposisikan semata sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai ruang terbuka yang terus bernegosiasi dengan zaman: antara tradisi dan kemungkinan, antara bunyi, tubuh, dan teknologi, serta antara pengalaman artistik dan kesadaran kritis.
I Gede Made Indra Sadguna menekankan bahwa kebaruan dalam gamelan tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap tradisi. Ia menyampaikan, “New Music for Gamelan bukan lahir dari ketidaktahuan, tetapi dari pemahaman yang mendalam terhadap cara kerja tradisi.”
Pandangan serupa juga disampaikan oleh I Gusti Ngurah Ardana, yang menilai bahwa keberanian bereksperimen perlu tetap berpijak pada akar budaya. Menurutnya, “Tradisi dapat berkembang tanpa kehilangan identitasnya; generasi muda perlu berani bereksperimen, namun tetap berakar pada nilai budaya.
Sementara itu, I Made Adnyana melihat eksplorasi sebagai bagian dari upaya menjaga kehidupan gamelan. Ia menyatakan, “Kita tidak sedang menjaga gamelan agar tetap sama seperti dulu, tetapi menjaga gamelan agar tetap hidup; dan untuk itu kita harus terus bereksplorasi.”
Seminar ini diniatkan sebagai ruang untuk mempercakapkan kembali bagaimana praktik yang sebelumnya hadir dalam bentuk bunyi dan peristiwa dapat dibaca ulang sebagai teks, arsip, dan peta pengetahuan. Dengan demikian, Mi-Reng menemukan maknanya yang lebih luas: bukan hanya sebagai peristiwa musikal, tetapi juga sebagai ruang temu, ruang dengar, dan ruang cipta yang terus berlanjut.
Ketiga rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem literasi seni pertunjukan, khususnya dalam membaca perkembangan new music for gamelan di tengah dinamika budaya kontemporer. Melalui pertemuan antara seniman, pendidik, akademisi, pelaku budaya, dan publik, Mi-Reng berupaya membuka ruang dialog yang kritis, inklusif, dan berkelanjutan bagi masa depan gamelan dan seni pertunjukan. (bp/tim)










