KARANGASEM, Balipolitika.com- Luka terkena gesekan torehan duri daun pandan dari lawan duelnya tidak membuat semangat Made Muliawan Arya alias De Gadjah surut untuk mengikuti tradisi Mageret Pandan atau Perang Pandan di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad, Kecamatan Manggis, Karangasem.
Meski tercatat sudah enam kali diundang, ia malah terpacu untuk tetap ikut dalam tradisi sakral leluhur yang menjadi ikon Bali Timur tersebut.
Dalam pertarungan itu, De Gadjah mengalami luka gores di dada kiri, tetapi saat itu juga langsung dapat obat tradisional.
“Takut luka, ya tentu takut. Semua orang pasti punya rasa takut, tetapi itu bagian dari tradisi yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab,” ungkapnya usai duel Perang Pandan dengan salah satu warga yang merupakan serangkaian Usaba Sambah, Sukra Umanis Langkir, Jumat, 3 Juli 2026.
Menurutnya, hal yang paling berkesan dari Perang Pandan bukanlah pertarungannya, melainkan semangat persatuan dan persaudaraan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Tenganan Dauh Tukad.
“Yang paling menarik adalah persatuannya dan kebersamaannya. Walaupun saat bertarung ada aura emosi, tetapi kepala tetap dingin. Setelah selesai tetap bersaudara. Nilai itulah yang harus dipertahankan,” tegasnya.
Ketua DPD Partai Gerindra Bali itu mengaku bangga dapat terlibat langsung dalam pelestarian adat dan budaya Bali.
Menurutnya, sebagai masyarakat Bali sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga tradisi agar tetap lestari dan dikenal luas.
“Sebagai masyarakat Bali, saya bangga dan bersyukur bisa ikut melaksanakan budaya dan adat Bali. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikannya,” ujarnya.
Dia mengatakan keterlibatannya dalam Perang Pandan juga menjadi cara untuk memperkenalkan kekayaan budaya Bali kepada masyarakat nasional hingga mancanegara.
Kesempatan tersebut semakin terbuka karena dirinya kerap melakukan perjalanan ke berbagai daerah maupun luar negeri.
“Dari sini kita bisa mempromosikan Bali seperti apa, minimal di tingkat nasional hingga internasional. Kita bisa menceritakan bagaimana Bali dan bagaimana tradisi Desa Tenganan Dauh Tukad berdasarkan pengalaman langsung, bukan hanya dari cerita orang,” katanya.
Ia mengajak masyarakat untuk tetap mewarisi budaya luhur ini kepada generasi penerus agar tetap lestari, dikenal, dan menjadi kebanggaan sepanjang masa.
Perang Pandan merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Desa Adat Tenganan Dauh Tukad sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Indra sekaligus simbol keberanian, sportivitas, dan persaudaraan yang terus dijaga hingga kini.
Usai De Gadjah menyusul Ketua DPC Partai Gerindra Karangasem I Nyoman Suyasa ambil bagian untuk maperang pandan.
Tanpa mengenakan busana atas, punggung anggota DPRD Bali ini rela kena gores daun pandan berduri.
“Ikut melestarikan tradisi Perang Pandan, senang rasanya berbaur dengan masyarakat adat,” katanya.
Bendesa Adat Tenganan Dauh Tukad I Wayan Tisna mengatakan tradisi Perang Pandan berlangsung turun temurun setiap setahu sekali, saat Upacara Usaba Sambah, Sasih Kalima, kalender Desa Adat Tenganan Dauh Tukad.
“Usaba Sambah dilaksanakan dua kali, 3 Juli dan 12 Juli 2026. Hanya saja, saat 12 Juli 2026 nanti, tanpa Perang Pandan, hanya mementaskan tari mabuang, atau matemu daa,” tutupnya. (bp/ken)













