SUATU PAGI republik ini terbangun dengan cita-cita yang harum seperti parfum Paris edisi terbatas. Dari pusat kekuasaan terdengar kabar yang membuat guru-guru, murid-murid, kepala sekolah, pedagang fotokopi, penjaga kantin, hingga kambing yang sedang mengunyah rumput di belakang sekolah serempak mengangkat alis: pelajar Indonesia didorong belajar bahasa Prancis.
Seketika langit pendidikan nasional berubah warna menjadi biru-putih-merah. Burung-burung pipit mungkin belum sempat memahami geopolitik internasional, tetapi mereka pasti merasakan ada sesuatu yang ganjil sedang berlangsung. Di sebuah perempatan di Ciamis, seorang pelajar yang sehari-hari hidup dalam harmoni dwibahasa—Sunda di rumah, Indonesia di sekolah—mendadak berhadapan dengan kata bonjour. Ia membaca tulisan itu perlahan. Bon-jor. Bonjur. Bonjol. Boncos. Sampai akhirnya guru menjelaskan bahwa pengucapannya bukan seperti yang tertulis. Pada titik itulah ia mulai memahami bahwa bahasa Prancis adalah cabang olahraga yang berbeda dari bahasa-bahasa yang selama ini ia kenal.
Tak ada yang salah dengan bahasa Prancis. Bahasa itu melahirkan Victor Hugo, Camus, Sartre, Baudelaire, dan berbagai filsuf yang hobi membuat mahasiswa semester lima kehilangan arah hidup selama tiga bulan. Bahasa itu juga melahirkan croissant, crème brûlée, dan kemampuan luar biasa untuk menulis enam belas huruf tetapi hanya mengucapkan tiga. Persoalannya bukan pada Prancis. Persoalannya terletak pada kebiasaan birokrasi kita yang sering jatuh cinta kepada balkon lantai tiga sebelum memastikan pondasi rumah tidak digerogoti rayap. Negeri ini kadang seperti orang yang membeli jas tuksedo untuk menghadiri pesta internasional padahal sandal jepitnya masih putus sebelah.
Bayangkan suasananya. Di ruang kelas sebuah sekolah daerah, guru menjelaskan perbedaan antara bonjour dan bonsoir. Murid-murid mengangguk sopan. Lima menit kemudian mereka lupa. Sebab hidup mereka selama ini lebih akrab dengan “punten”, “mangga”, “kumaha damang”, dan “udah makan belum?” daripada persoalan kapan harus mengucapkan selamat pagi ala Paris. Seorang murid bahkan bertanya dengan polos apakah bonjour itu saudara dekat dari bojong. Guru menghela napas panjang. Pendidikan nasional bergerak maju dengan kecepatan yang tidak selalu bisa dipahami logika.
Keindahan bahasa Prancis memang sering dimulai dari kebingungan. Kata beaucoup misalnya. Ditulis seperti mantra pemanggil roh di film fantasi Eropa Timur, tetapi diucapkan “boku”. Seorang murid Ciamis yang jujur akan bertanya, “Kalau cuma boku, kenapa tidak ditulis boku saja?” Pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh siapa pun tanpa membuka luka sejarah linguistik selama berabad-abad. Bahasa Prancis adalah bahasa yang percaya bahwa huruf-huruf tertentu perlu diberi pekerjaan sosial meskipun tidak ikut berbunyi. Mereka hadir demi solidaritas alfabet.
Lalu datang kata eau yang berarti air. Tiga huruf. Diucapkan hanya “o”. Murid-murid Indonesia yang selama ini diajari pentingnya efisiensi langsung terdiam. Mereka merasa telah menemukan negara yang lebih kreatif daripada panitia proyek pemerintah. Menulis tiga, memakai satu. Bahkan dalam dunia proposal kegiatan, efisiensi seperti ini sulit dicapai.
Yang lebih menarik adalah kemungkinan lahirnya generasi baru yang setengah Sunda, setengah Prancis, dan sepenuhnya bingung. Di kantin sekolah terdengar percakapan seperti ini.
“Bonjour, Asep.”
“Waalaikumsalam.”
“Bukan gitu.”
“Oh. Kumaha?”
“Je m’appelle Dedi.”
“Ya sudah, panggil saja Dedi.”
Tidak ada bangsa yang lebih kreatif dalam menyesuaikan bahasa asing selain Indonesia. Kalau bahasa Prancis benar-benar diwajibkan secara luas, kita bisa memperkirakan berbagai adaptasi lokal yang luar biasa. Kata merci beaucoup kemungkinan berubah menjadi “mersi bokap”. Kata croissant akan menjelma menjadi “kroisan”. Kata rendez-vous mungkin berubah menjadi “ronda vu”. Sedangkan déjà vu akan diterjemahkan secara merdeka menjadi “perasaan gua pernah lihat beginian pas rapat RT.”
Namun di balik semua kelucuan itu, tersimpan pertanyaan yang lebih serius. Mengapa negara begitu bersemangat memperkenalkan bahasa asing baru ketika banyak pelajar masih berjuang memahami bahasa Indonesia secara mendalam? Kemampuan membaca kita belum menggembirakan. Budaya literasi masih tertatih. Banyak siswa dapat menghafal definisi tetapi kesulitan menganalisis paragraf sederhana. Di beberapa daerah, akses buku masih menjadi kemewahan. Perpustakaan sering lebih sepi daripada grup WhatsApp alumni SD yang sudah tidak aktif sejak pandemi. Tetapi tiba-tiba kita berbicara tentang Prancis.
Ini mengingatkan pada seseorang yang baru membeli teropong bintang seharga puluhan juta rupiah padahal atap rumahnya masih bocor ketika hujan. Ambisinya tidak salah. Yang dipertanyakan adalah urutan prioritasnya.
Mungkin para perancang kebijakan membayangkan masa depan Indonesia sebagai negara global. Pelajar kita kelak berdiskusi dengan diplomat Eropa, bernegosiasi dengan perusahaan multinasional, atau membaca naskah Camus dalam bahasa asli. Itu cita-cita yang baik. Tidak ada alasan menertawakannya. Yang mengundang senyum adalah jarak antara mimpi tersebut dan kenyataan sehari-hari di lapangan.
Di sebuah sekolah, proyektor rusak sejak semester lalu. Di sekolah lain, laboratorium berubah fungsi menjadi gudang kursi. Di tempat lain lagi, perpustakaan lebih banyak berisi buku bantuan yang tidak pernah dibuka.
Lalu datanglah bahasa Prancis dengan setelan jas lengkap, membawa koper diplomatik, dan memperkenalkan dirinya dengan sopan: Enchanté. Sekolah menjawab: “Pak, kapur tulis saja masih utang.” Ironi nasional sering bekerja seperti itu.
Lebih lucu lagi bila kita mengingat bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan bahasa daerah terbesar di dunia. Ratusan bahasa hidup di nusantara. Sebagian sedang sehat. Sebagian sedang sakit. Sebagian berada di ruang ICU kebudayaan. Banyak anak muda mulai kehilangan kosakata bahasa ibu mereka sendiri. Ada bahasa daerah yang penuturnya tinggal hitungan puluhan orang. Tetapi negara tiba-tiba berkata, “Mari belajar bahasa Prancis.”
Ini seperti keluarga besar yang belum sempat mengenali seluruh sepupunya sendiri tetapi sudah sibuk mengundang tamu dari luar negeri.
Tentu bukan berarti kita harus anti bahasa asing. Justru sebaliknya. Semakin banyak bahasa yang dikuasai, semakin luas jendela dunia yang terbuka. Tetapi jendela tetap membutuhkan rumah. Dan rumah itu adalah kemampuan berpikir, membaca, menulis, serta memahami bahasa yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seorang anak yang mampu membaca dengan baik akan lebih mudah belajar bahasa apa pun. Seorang anak yang gemar membaca akan lebih cepat memahami struktur bahasa baru. Sebaliknya, menambah bahasa tanpa memperkuat fondasi sering hanya menghasilkan hafalan sementara yang hilang setelah ujian selesai.
Mungkin itulah yang membuat perempatan Ciamis terasa penting dalam cerita ini. Perempatan itu bukan sekadar lokasi geografis. Ia simbol jarak antara pusat perumusan kebijakan dan kehidupan nyata warga negara. Di sana seorang pelajar masih berusaha memahami dunia dengan dua bahasa yang ia miliki. Bahasa Sunda untuk bercanda, bertengkar, dan menyapa tetangga. Bahasa Indonesia untuk belajar, mengisi formulir, dan menulis cita-cita. Kini datang bahasa ketiga yang membawa aroma Menara Eiffel.
Anak itu tentu akan belajar. Anak-anak Indonesia selalu belajar. Mereka terbiasa beradaptasi dengan keputusan-keputusan besar yang turun dari langit birokrasi. Hari ini kurikulum berubah. Besok sistem berubah. Lusa aplikasi berubah. Minggu depan mungkin nama program berubah lagi. Mereka tetap datang ke sekolah. Tetap mengerjakan tugas. Tetap mencoba memahami dunia.
Barangkali beberapa tahun lagi akan lahir generasi yang benar-benar fasih berbahasa Prancis. Mereka membaca Baudelaire tanpa terjemahan. Mereka menonton film Godard tanpa subtitle. Mereka memesan kopi sambil mengucapkan s’il vous plaît dengan aksen yang membuat warga Paris terharu. Itu bukan hal mustahil.
Tetapi sebelum sampai ke sana, ada baiknya republik ini memastikan bahwa setiap anak Indonesia dapat membaca satu halaman buku dengan pemahaman yang utuh, menulis satu paragraf dengan argumen yang jelas, dan berpikir kritis tanpa harus dibantu video berdurasi tiga puluh detik.
*penulis tinggal di Jakarta.










