KEPADA RISSA CHURRIA
Aku datang dari tanah Osing
yang berayun seperti swing
di tepi Selat Bali, anginnya
menyimpan “I Got Rhythm” purba. Ijen
menyala biru—solo Monk angular,
mengaku warisan tanpa sembunyi muasal.
Hutan mengulang tema A tanpa
lelah, daun jatuh ialah
“Walkin’ and Swingin’ ” hari kemarin.
Di pematang, anak-anak berlari menjadi
chorus panjang, gema Charlie Christian
terselip di lumpur basah. Para penari
gandrung menekuk waktu, meminjam tubuh
leluhur, memecah ketukan. Ibarat Monk
pada akor mawaris, mereka menyisakan
ganjil agar hidup bernafas.
Sawah menjaga tempo—Roy Haynes yang bernas.
Banyuwangi adalah jam session tak usai,
sedikit Mary, sedikit Monk, sedikit lautan luka.
Blakey kadang mempercepat hari-hari kita,
hingga siang kehilangan nada dasar.
Namun tanah ini selalu ingat kepala lagunya,
kembali pelan ke melodi yang patuh.
Dan aku menulismu sebagai piano
yang akhirnya pulang jelang petang.
2026
KEPADA NUNUNG NOOR EL NIEL
Ia bermimpi berada di ruang bunyi yang padat,
lapisan ritme, harmoni, dan timbre bertumpuk,
tiap tubuh mencari motifnya, bergeser dari satu frase ke frase lain.
Siapa yang harus ia identifikasi? Jawabnya datang cepat: tema utama.
Ia menembus kerumunan seperti improvisator di chorus kedua,
hingga menemukannya—perempuan itu, sebagai garis melodi.
Nunung, ia memanggil, mencoba mengikat pada tonalitas, tapi
ia hanya tersisa sebagai “bayang”. Bantu aku, katanya.
Engkau adalah struktur lagu ini! Tak ada
struktur di sini, katanya, hanya substitusi dan fragmen.
Semua orang mencari progresinya. Aku
mencari punyaku, dan menemukannya telah
bergeser ke modulasi yang lebih jauh.
Dan begitu seterusnya, seperti siklus reharmonisasi tanpa akhir.
Akor, tubuh, dan hasrat adalah milik komposisi awal.
Di sini, semuanya menjadi variasi terlepas.
Di sini tak ada klimaks, hanya dinamika terukur. Ini seperti
Mandel menulis dengan logika intervalik yang disiplin,
menolak aksentuasi berlebih di kadens penghabisan.
Seperti Jack Sheldon menjaga embouchure tetap lirih,
atau Bill Evans meredam attack demi ruang resonansi,
keindahan lahir dari penahanan, bukan ledakan. Ia terbangun
dengan kesadaran yang terfragmentasi. Namun
—Nunung, nama itu tetap beresonansi
seperti overtone yang tersisa. Atau mungkin
itu hanya ilusi auditif, sebuah frase ulangan
dalam sistem tak berkesudahan.
2026
KEPADA SHANTINED
Hari itu panjang seperti alir tenang yang tak selesai, dan ia pulang membawa sisa gerimis di bahunya. Di meja, sesuatu menunggu—seperti danau dalam matamu yang dipindahkan ke ruang sempit. Di mana pematang, di mana perdu liar? Tulisan itu bergetar seperti remahan cerita, seolah melolong rindu dari biru kedalaman yang belum pernah benar-benar surut.
Ia mengenali strukturnya, bukan sekadar ingatan: seperti komposisi yang kehilangan tempo awal, pernah dirancang sebagai selingan di balik tirai, lalu dipotong, dipindahkan ke format siaran, disusun ulang dengan perubahan nilai nada, hingga akhirnya menemukan bentuk vokalnya. Sesuatu yang lama tertunda itu kini bekerja kembali, perlahan, seperti motif yang diulang dengan durasi diperpanjang.
Bagaimana mungkin sesuatu yang tersisih justru bertahan paling lama di permukaan? Ia duduk, mencoba membaca pola: gema yang pernah menyapu ruang dansa, berpindah ke studio radio, lalu diperlambat menjadi balada—sekitar seratus dua puluh ketukan per menit—dengan lapisan halus seperti dawai dan harpa yang menahan ledakan. Semua itu kini hadir sebagai kabut tipis di mata.
Di dalam dirinya, gemuruh kecil itu naik lagi: seperti perempuan serigala melintas di hutan ingatan, seperti kilap mandau di tanah Dayak yang menyimpan residu waktu. Ia membuka lembar itu perlahan.
“Segala yang pernah ada,” demikian awalnya—sebuah frasa yang bekerja seperti melodi panjang, tidak untuk diimprovisasi, melainkan untuk diingat. Setelah itu, hanya sisa: bayang lesap, garis asap, dan sesuatu yang menetap diam di kedalaman, terus beriak tanpa suara.
2026
KEPADA KHAIRANI PILIANG
Apa yang cenderung pulih dan kembali—
denyut monitor, infus yang menetes,
ritme langkah di lorong jaga—
seperti Bemsha Swing
yang berayun ganjil namun menetap di benak.
Apa yang setajam jarum,
namun melingkar seperti frasa yang meloncat,
menyentuh tubuh dan cerita.
Menit-menit berjajar seperti catatan triase,
sebagian pecah seperti ampul kaca;
ruang antiseptik, napas naik-turun,
motif bergeser tak simetris,
asing namun akrab.
Satu harap di dalam cemas,
“masih mungkin” di dalam “hampir tidak,”
seperti riff jauh dari Bimsha
yang berdengung pelan
di bawah lampu ruang perawatan.
Khairani Piliang berdiri di sana,
membiarkan cerpen berjalan di antara alat dan luka,
mengangkut fragmen menjadi alur,
menjahit tubuh dan bahasa sekaligus—
improvisasi yang menolak pola baku
namun menemukan bentuknya sendiri.
Gerak cepat di tangan dan keputusan,
lalu jeda yang tiba-tiba utuh:
napas stabil,
kursi kosong di ruang tunggu,
sisa kecemasan mengendap.
Seseorang keluar dari ruang tindakan,
melepas sarung tangan,
seperti nada terakhir yang menggantung,
mengatakan masih ada peluang.
Satu tubuh dijahit kembali,
satu cerita tak runtuh,
satu kemungkinan kecil terus berayun—
ganjil, rapuh, setengah cabuh.
2026
KEPADA EMI SUY
Ia terbangun: alarm sunyi bergetar pelan,
malam menyisakan bintang-bintang tenang,
seperti akor A minor tujuh dari gitar jauh,
mengapung di sekeliling ruang.
Pagi terbentang sebagai kain muslin,
pola digambar dengan kapur jahit,
jendela menghadap bukit sunyi,
tempat garis dan lengkung menjadi muasal.
Di meja jahit, tubuh terbaca ulang:
luka seperti sobekan pada kampuh lama,
benang digulung pada sekoci kecil,
jarum dipasang dengan mata teliti.
Ayat sunyi menjelma tusuk jelujur,
api sunyi mengatur suhu setrika uap,
benang obras menahan tepi yang rapuh,
tusuk feston merapikan pinggir luka.
Ia mengukur: lingkar dada, panjang sisi,
menarik pita ukur melintasi ingatan,
gunting kain memotong presisi,
menyisakan perca seperti pola lama.
Ia pernah hidup sebagai kain tak terpasang,
terlipat tanpa obras di sudut waktu,
namun jarum menemukan arah jahitan,
dan tangan belajar ritme yang stabil.
Kini ia menjahit dengan mesin halus,
pedal ditekan pelan, benang atas-bawah bertemu,
turun-naik seperti frasa Corcovado,
membentuk garis lurus yang membelah bulan.
Perempuan menjahit lukanya sendiri,
mengunci dengan tusuk balik di ujung rapuh,
menyambung dengan kampuh tertutup rapi,
melapisi dengan furing agar lembut di dalam.
Di antara akor lirih,
ia menyelesaikan obras terakhir,
menyetrika lipatan hingga rata,
dan mengenakan dirinya sebagai adibusana.
2026
BIODATA
IRZI adalah penyair dan penulis asal Jakarta, nom de plume dari Ikhsan Risfandi. Ia memulai perjalanan kreatif sebagai gitaris jazz sebelum berfokus pada puisi dan cerpen. Buku puisinya Ruang Bicara terbit pada 2019, disusul Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Karya-karyanya dimuat di berbagai media sastra dan arus utama seperti Kalamsastra.id, Basabasi.co, Bacapetra.co, Buruan.co, Kompas.id, dan Tempo.co. Ia juga aktif sebagai narasumber lokakarya serta juri pembacaan dan penulisan puisi juga musikalisasi puisi. Pada 2026, ia terpilih sebagai Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival. Karyanya dipengaruhi kultur pop, musik, sinema, teknologi digital, serta dinamika modernitas generasi Betawi pascareformasi.













