SENANDUNG ANAK-ANAK PULAU
Peta tidak pernah mendustai tanah Medang*),
Tanah leluhur,
Tanah bahari,
Tempat plasentaku disemayam tanpa ritual, Terbaring
bersama ruh daeng-daeng yang tak takut maut.
Di sinilah kali pertama air mataku menulis silsilah,
bersama cucuran mataair air susu ibu,
bersumpah atas nama takdir.
Aku lahir dan hadir dari hasrat laut,
dengan restu Sang Khaliq.
dengan doa-doa nenek moyang,
dengan mantra-mantra di lembar angin.
Kepak burung-burung yang datang merantau,
menyebar kabar, tentang tafsir
mimpi-mimpi masa depan. Sampan-sampan bercadik
melaju di atas doa-doa yang asin. Mengelilingi
gegap gempita kota dalam kepala, berlabuh di bawah
gemerlap lampu taman. Mimpiku terjebak
dengan gedung-gedung sekolah bertingkat,
toko-toko buku refrensi yang ramai pengunjung,
riuh anak-anak bermain di pelataran berubin.
Sementara dayung tua kehilangan narasi,
mengayuh impian dalam bunga rampai,
tidak mampu mengekspresikan galauku di pulau.
Jala-jala merintih, luka diseruduk taring karang,
pun kehilangan jerat dan muslihat.
Pulauku jauh dipandang,
Tanah Medang,
Tanah leluhur,
Tanah bahari.
Sekolahku remuk lapuk dilumat sepi,
tanpa jendela kaca dan lampu penerang,
tanpa jaringan internet dan browsing.
Suara guru yang serak dan batuk-batuk,
hanya seratus lima puluh ribu perbulan,
tanpa tunjangan kesehatan,
namun selalu menyisahkan senyum untukku.
Di sini anak-anak belajar membangun istana dari imajinasi,
membuat taman kota dari kembang tidur,
membayangkan gemerlap lampu laksana bintang laut.
Akulah perahu yang belajar berlayar, seperti perahu-perahu
nelayan itu, menjala impian dan harapan,
melintasi gejolak batang angin,
bertarung dengan badai dan topan,
dalam gumam zikir dan doa.
Ada obsesi yang harus kutuntaskan,
ada hasrat yang perlu kuimpaskan.
Bukan ingin memakeover wajah pulauku menjadi kota,
tapi bisa membuatku tersenyum jika kelak aku pulang.
Sumbawa, 22/05/2025
*)Medang adalah nama pulau. Salah satu dari guguusan pulau kecil yang berada di wilayah Kecamatan Labuan Badas Kabupaten Sumbawa
NYANYIAN ANAK NEGERI
Rasa Sayange, Rasa Sayange
Anak-anak Maluku menyalakan api kehangatan,
nada-nada menyatu dalam melodi laut.
Syair-syair bagai cahaya, menganyam empati,
menutup liang perbedaan.
Seperti sungai yang tak mengenal sekat batu,
mengalir menyatu di pelukan muara.
Itulah Indonesia – rumah kasih tanpa penyekat.
Di tanah NTT
Potong Bebek Angsa terbang bersama bulan.
Anak-anak menari,langkahnya menjentik bintang,
larik-larik rasa direbus dalam periuk kegembiraan.
Tawa tersulam pada kain waktu yang hangat,
menjelma pelangi di bibir anak negeri.
Itulah Indonesia – taman senyum bunga.
Dalam nada Soleram
Anak-anak Sumatra menenun bahasa bunga,
menyayat sekat yang kokoh di dinding batin.
Syair tercecer dirangakai menjadi kalung harmoni,
melingkar indah di leher ibu pertiwi.
Itulah Indonesia – negeri pemersatu keberagaman.
Di tanah Bugis
Mappadendang mengetuk jantung bumi.
Anak-anak memetik bunga padi di ladang,
diselipkan di sanggul,
di simpan dalam lipatan waktu.
Seperti matahari rebah di dada persada,
cahayanya melukis peta nusantara.
Itulah Indonesia – kolam susu anak negeri.
Gundhul-Gundhul Pacul bergema di tanah Jawa.
Anak-anak menyalin petuah dalam dolanan,
melatih hati merunduk serupa padi berisi.
Tradisi disemai, tumbuh tawaduk di tanah Sunan Kalijaga.
Itulah Indonesia – tanah sujud, tanah bertuah.
Sumbawa, Agustus 2025
SENJA YANG LUKA
Detik jam berdetak kencang,
menikam senja,
rebah di kaki langit.
Laut merah darah, oranye, dan jingga,
lidah ombak perih,
melukis ketidakabadian.
Selembar daun dipetik jemari waktu,
gugur di tapak sepi,
tangis merapalkan gunda,
duka terapung dalam linang air mata,
sambil merawat zikir di dada.
Sumbawa, 10/01/2026
RUMAHKU DI ATAS OMBAK
Senja itu,
bukan angin lembah mengusap wajahku–
melainkan dinginnya napas garam mengembus.
Aku adalah anak pesisir,
pewaris sah sauh dan jala.
Aku tak gentar
memijak ombak bergolak,
meninggalkan muara yang sepi,
mengejar garis pasang yang riuh.
Aku saksikan kekar tubuh ayah
yang tangguh mengayuh.
Aku hafal teduh wajah ibu
yang setia menunggu.
Aku berguru pada camar
yang gigih berburu rezeki.
Aku belajar sabar dari perahu
yang tak meragu dalam badai.
Aku mengaji dari mata jala
yang menjerat tanpa syarat.
Aku suka dengan ombak
yang selalu memeluk akrab.
Rumahku di atas ombak,
perahu tua yang didera alun dan riak.
Bukan vila cendana ukiran. Tapi janji
sederhana ayah pada ibu:
“Aku akan pulang sebelum fajar mekar.”
Janji yang meredam risau,
janji yang membangunkan ibu bermunajat.
Di subuh berkabut,
perahuku membuang sauh.
Di atas dermaga,
samar-samar aku menyaksikan senyum Tuhan
dari senyum ibuku.
Sumbawa, 12/01/ 2026
IBU DOA DAN CINTA
ibu,
lidahmu senantiasa basah
mengulum buah zikir
kalbumu bermata air cinta
lisanmu, doa yang mustajab
pangkuanmu, kerajaan teraman dan ternyaman
pelukanmu, istana kehangatan dan kegembiraanku
hanya padamu kutemukan cinta Tuhan
ibu,
engkau adalah doa yang hidup
yang pandai menyimpan air mata
telaga cinta yang tak mengenal kering
karena engkau ibuku
dan ibu dari doa dan cintaku
Sumbawa,14/01/2026
BIODATA
A. Rahim Eltara, lahir di Sumbawa Nusa Tenggara Barat, 16 Oktober 1959. Pendidikan terakhir S1 Teknologi Pendidikan. Tulisan dalam bentuk puisi dimuat di berbagai media massa, baik lokal maupun nasional, seperti Suara Guru Jakarta, Karya Bhakti Denpasar, Mimbar Masyarakat Banjarmasin, Literasi Lombok Post, dan beberapa Jurnal Digital. Karyanya dalam bentuk antologi tunggal: Kepak Sayap Rasa (2011), Ladang Kekasih (1018), Air Mata Zikir Sebening Mata Air Cinta (2023), Ibu Doa dan Cinta (2024) dan berapa antologi bersama. Penerima Anugerah Bahasa dan Sastra dari Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat. Peraih Pemenang Puisi Pilihan dalam Gerakan Aksi Akbar 1000 Guru Menulis se-Asean, Peringkat kedua Nasional Cipta Puisi Hyang Pustaka,Peringkat kedua Nasional Cipta Puisi Makan Bergizi Gratis. Antologi tunggalnya “Ibu Doa dan Cinta” terpilih sebagai Buku Sastra Nasional Yang Tak Terlewatkan Tahun 2024 versi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.













