Arpine
1
Tubuhmu lahan tumbuh bunga
tak ada musim
di sini selain
musim cinta
Musim milik
Astghik
dewi cinta
di negeri
sejuta biara. Negeri
yang jauh
tapi selalu
mengikutimu
tak terpisahkan
bagai udara
dan angin
bagai paruh burung
dan kicau
bagai kau
dan Astghik
Seekor burung mendekati bibirmu
seakan membaca
inginku
Ia ingin mengecup
merah muda
Yerevan pada
bibirmu. Burung itu
dan kau saling tatap
ia bicara
dengan paruh
dengan sayap
kau bicara
dengan bibir
dengan mata
“Hi, menepilah,” serumu
dalam senyap:
“Sayapmu
penghalang mata
untuk menatap
awan yang
membentuk wajah
kekasih yang
kurindu”
Rindu,
kau ada dalam
rinduku. Adakah
aku dalam rindumu?
Rindu,
adakah jarak
yang tak dapat
kau tempuh? Jika
kau adalah
kedalaman
sedalam
apakah kau?
Kita saling dekap
rapat dan dekat
Dekat yang tak terukur
kata-kata
hilang
kata
2
Leher jenjangmu
memanjang
estetika lama
Suku dengan
kalung-kalung
logam. Estetika
kini. Kalung
yang ular
melingkar manja
di jenjang
lehermu
mengancam
yang gemar dusta.
Hi, simpan
bisa kalung
ular Itu
batas
hidup dan mati
Penyihir ini
mantranya
bukan pikat janji
untuk diingkari seperti janji politisi
yang ingatannya
tulisan buram
peta dusta. Biar
bisa ular itu
untuk mereka
saja. Agar
tak sia-sia.
Sia-sia. Apakah
yang sia-sia? Dunia
rekaan? Tak ada
yang sia-sia di sini
di kanvas
kau mekarkan bunga. Dari
kata
kubangun
kota kita
rumah-rumahnya
bagi siapa saja
yang tak berumah
yang butuh
naungan kasih.
Kau gambar
asia barat
yang
bebatuannya
tangguh
kuat menyangga
biara usia berabad
Aku tulis para
pedagang kecil
yang perkasa. Tak
goyah oleh
tsunami ekonomi
seperkasa dirimu,
Arpine
sosok yang tampak
kecil. Namun
tak dapat
dikecilkan
tak dapat ditindas
Kita penyelam
kering
di laut imajinasi
Laut imajinasi
dengan dunia rekaan
yang tak rekaan semata
di dunia ini
tak perlu alat ukur
tak minta diukur
tak menggugat
tak digugat. Kondisi
ambang
tanpa bimbang
Kita masih
menyelam
dan
menyelam
+
mengapung
dan
mengapung
di
Semesta raya
di
Diri yang raya
Oktober, 2025
*Distimulasi beberapa lukisan karya Arpine Aghoyan
Rindu
Entah salju ke berapa telah turun di O-Town, Arpine. Ia
turun tanpa diminta. Ia seperti rindu yang keras kepala.
Rindu — tak ada hari tanpa kau melintas dalam angan, dalam pikiranku, yang serupa jalan bebas hambatan bagimu. Udara yang melintasi hidung pe-Vipassna. Apa adanya, apa adanya.
Kau minta, jangan cemaskan dirimu. Ah, ini seperti memintaku menjadi
bukan manusia. Aku melihat cengkraman jemari pada perutmu saat sakit, mendengar keluhmu meski kau tangguh. Juga beragam cerita lain.
Kini dunia AI yang kau geluti masih belum mengenal cemas, rindu, gembira …. tapi,
mungkin, ya, hanya mungkin, suatu saat nanti, ia mengenalnya. Entah
pada salju ke berapa di O-Town. Tapi,
jangan tanyakan aku yang sungguh bukan pakar AI. Dan
meski kau pakar AI, kau dapat merasa suka, duka, cemas, rindu …, sepertiku, kan? Aku yakin, karena kau bukanlah AI.
Dentang gereja. Apakah terdengar di O-Town? Meski kau spiritualis, sukacita Natal tak ada salahnya jika muncul padamu. Sukacita yang mahal, bagi hari-hari duka di berbagai belahan bumi: longsor, banjir, terpaan peluru yang tak memilih hari tak memilah korban — tua-muda, baik-jahat …. AI bisa ikut berperan menciptakan sukacita pun duka. Kumudahan pun kesulitan. Mana
yang lebih banyak menurutmu?
Bisnis platform digital dan stres serta keuntungan yang beriring. AI ada di dalamnya. Ia
anak sah jaman. Berkah sekaligus kutukkah? Ia
tak tahu. Ia
juga tak minta diciptakan.
Adakah hari-hari ini
salju di O-Town, Arpine. Salju yang kata supir taksi di sebuah kota Eropa kepadaku, bisa berdesis — indah bukan desis ular berbisa.
Tapi, dalam anganku yang “tokong”, salju O-Town membisikan namamu di telingaku — yang tak dapat menolak
suara. Dan
di dalam diriku ia menjadi rindu yang kembali harus kukatakan, tak dapat kutolak, tak dapat kuminta datang.
Seorang penyair pernah menulis: ” … rindu menikam.” Ia benar. Setidaknya padaku, rinduku padamu menikam. Tanpa luka.Tak dapat diukur.
Rindu sungguh menikam dengan indah dan tak terelakkan. Adakah angin dari Bali membisikkannya kepadamu? Jika
tidak, percayalah
bahwa rindu sungguh menikam dengan indah, Arpine. Begitu indah. Mungkin
seindah O-Town.
Yang kuyakin, tikaman indah rindu ini, layak kualami, tersebab perempuan seindahmu, Arpine. Sungguh layak.
27 Desember 2025
*Catatan: “rindu menikam”, dari bagian baris puisi Gunari, penyair dan guru dari Lampung, salah satu puisi pemenang Lomba Cipta Puisi Sanggar Minum Kopi, Bali.
BIODATA
Tan Lioe Ie adalah seorang penyair Indonesia yang berasal dari Bali. Selain puisi, ia juga menulis esai dan cerpen serta menggubah puisimusik, sinergi puisi dengan musik. Berkat puisi, ia diundang ke berbagai negara mengikuti festival sastra. Ia memperoleh penghargaan Bali Jani Nugraha tahun 2022 dari Gubernur Bali. Buku puisi terbarunya Ekphrasis (2024) masuk tiga besar Buku Puisi Pilihan Tempo.













